7 Ciri Orang Toxic yang Sering Tak Disadari, Salah Satunya Suka Mengontrol
Abd Rahman September 12, 2026 06:47 PM

TRIBUN-SULBAR.COM- Berinteraksi dengan orang lain merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, tidak semua hubungan memberikan dampak positif.

Ada orang yang justru membuat kita merasa lelah secara emosional, kehilangan kepercayaan diri, atau terus-menerus berada dalam situasi yang tidak nyaman.

Kondisi tersebut dapat terjadi dalam hubungan dengan pasangan, keluarga, teman, maupun lingkungan pekerjaan.

Baca juga: Lirik dan Chord Lagu Terpaksa Aku Lakukan - Sultan, Kisah Cinta yang Harus Berakhir

Baca juga: Antrean di SPBU Maros Ricuh setelah Emak-emak Terobos Antrean dan Minta BBM Diisi ke Galon

Orang dengan pola perilaku seperti ini kerap disebut sebagai pribadi toxic.

Mereka tidak selalu mudah dikenali karena perilakunya dapat muncul secara perlahan dan dianggap sebagai sesuatu yang wajar dalam sebuah hubungan.

Mengenali pola tersebut sejak awal dapat membantu seseorang menentukan batas yang sehat dalam berinteraksi.

Berikut sejumlah perilaku yang dapat menjadi tanda seseorang memiliki kecenderungan toxic:

1. Selalu mengutamakan kepentingan sendiri

Salah satu tanda yang mudah terlihat adalah kecenderungan menempatkan kebutuhan pribadi di atas kepentingan orang lain.

Mereka cenderung ingin mendapatkan perhatian, bantuan, atau pengertian, tetapi belum tentu memberikan hal serupa kepada orang di sekitarnya.

Dalam hubungan, pola ini dapat membuat salah satu pihak merasa harus terus mengalah. Jika berlangsung lama, hubungan menjadi tidak seimbang.

Karena itu, penting untuk memiliki batas yang jelas dan tidak selalu memenuhi tuntutan seseorang hanya untuk menghindari konflik.

2. Sulit menerima kekurangan diri sendiri

Rasa tidak percaya diri juga dapat memengaruhi cara seseorang memperlakukan orang lain.

Orang yang terus merasa kurang atau takut gagal terkadang berusaha menutupi kelemahannya dengan menyalahkan orang lain. Kritik terhadap dirinya pun bisa dianggap sebagai serangan.

Dalam kondisi tertentu, rasa tidak aman tersebut dapat muncul dalam bentuk kecemburuan, mudah tersinggung, atau sulit mempercayai orang lain.

Menghadapi kondisi ini membutuhkan komunikasi yang sehat. Namun, seseorang juga tidak berkewajiban terus-menerus menjadi penyangga emosional bagi orang yang tidak mau memperbaiki dirinya.

3. Terlalu posesif dalam hubungan

Perhatian terhadap pasangan atau teman dapat berubah menjadi posesif ketika seseorang mulai membatasi ruang gerak orang lain.

Misalnya, melarang pasangan bertemu teman, mempertanyakan setiap aktivitas, atau merasa tidak nyaman ketika orang terdekatnya memiliki kehidupan sosial di luar hubungan.

Perilaku tersebut bukan selalu tanda kasih sayang. Jika sudah membuat seseorang kehilangan kebebasan dan hubungan dengan lingkungan sekitarnya, kondisi itu perlu mendapat perhatian.

Batasan mengenai ruang pribadi sebaiknya dibicarakan secara terbuka sejak awal hubungan.

4. Gemar mengatur kehidupan orang lain

Sikap mengontrol dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari menentukan cara berpakaian, memilih teman, mengatur aktivitas hingga menuntut seseorang selalu memberikan kabar.

Kontrol berlebihan sering kali dibungkus dengan alasan perhatian atau rasa sayang.

Padahal, hubungan yang sehat tetap memberikan ruang bagi setiap individu untuk mengambil keputusan mengenai kehidupannya sendiri.

Jika perilaku tersebut terus berulang, penting untuk menyampaikan batas yang tidak boleh dilanggar.

5. Mudah meledak ketika menghadapi masalah

Kemarahan merupakan emosi yang normal. Namun, persoalan muncul ketika seseorang tidak mampu mengelolanya dan menjadikan orang lain sebagai sasaran.

Hal kecil dapat memicu pertengkaran besar. Bentakan, ancaman, penghinaan, hingga tindakan agresif bisa menjadi bagian dari pola tersebut.

Orang di sekitarnya akhirnya harus selalu berhati-hati dalam berbicara atau bertindak karena khawatir memicu kemarahan.

Jika seseorang memiliki masalah serius dalam mengendalikan emosi, bantuan profesional dapat menjadi salah satu pilihan. Dalam situasi yang membuat seseorang merasa tidak aman, menjaga jarak juga penting.

6. Kerap merendahkan orang lain

Perilaku toxic juga dapat terlihat dari kebiasaan mempermalukan, menghina, atau meremehkan orang lain.

Di tempat kerja, misalnya, seseorang mungkin terus mengkritik bawahannya di depan rekan kerja. Dalam hubungan pribadi, perilaku serupa bisa muncul melalui ejekan dan komentar yang merusak kepercayaan diri.

Jika dilakukan berulang kali, perilaku tersebut dapat menciptakan lingkungan yang tidak sehat.

Seseorang perlu memahami bahwa hinaan dari orang lain tidak selalu menggambarkan kemampuan atau nilai dirinya.

7. Menyampaikan keinginan secara tidak langsung

Perilaku pasif-agresif menjadi salah satu pola yang sering membuat hubungan terasa melelahkan.

Alih-alih menyampaikan masalah secara terbuka, seseorang memilih memberikan sindiran, mendiamkan orang lain, menunjukkan sikap dingin, atau membuat orang lain merasa bersalah.

Cara komunikasi seperti ini dapat menimbulkan kebingungan karena persoalan sebenarnya tidak pernah dibicarakan secara langsung.

Dalam menghadapi perilaku tersebut, komunikasi terbuka menjadi penting. Sampaikan persoalan secara jelas dan hindari mengikuti pola manipulasi yang sama.

Pada akhirnya, tidak semua perilaku buruk berarti seseorang harus langsung memutus hubungan. Namun, pola yang terus berulang dan memberikan dampak negatif tidak sebaiknya diabaikan.

Menetapkan batas, menjaga komunikasi, serta mengetahui kapan harus mengambil jarak dapat membantu seseorang mempertahankan hubungan yang lebih sehat.

Jika sebuah hubungan justru terus menguras energi, merusak kepercayaan diri, dan membuat seseorang kehilangan rasa aman, kondisi tersebut layak untuk dievaluasi kembali.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.