Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Petrus Chrisantus Gonsales
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE -Kerinduan warga di Kecamatan Tanawawo, Kabupaten Sikka, Provinsi NTT guna menikmati dan merasakan akses jalan yang mulus selalu pupus dan tidak pernah terwujud.
Dari tahun ke tahun sudah diperjuangan dan diusulkan tapi hasilnya pun sama. Rapat demi rapat dibahas tapi harapan itu hilang.
Bahkan perjuangan pun sudah melalui usulan dalam musrenbang pun kandas karena ketiadaan anggaran.
Lebih parah lagi, pada tahun 2025 ada pemangkasan anggaran pusat ke daerah memperparah harapan dan mimpi warga di Kecamatan Tanawawo yang berbatasan dengan Kabupaten Ende.
Baca juga: Polisi Ungkap Kronologi Insiden 2 Anak di Desa Sainoni TTU Tewas dalam Bak Penampung Air
Ruas jalan kecamatan yang mekar dari Kecamatan Paga ini ke desa-desa sangat memprihatinkan.
Melintasi jalan bebatuan, terjalnya tebing. Bahkan longsor setiap musim hujan selalu menghantui pengguna jalan.
Pada musim hujan praktis jalan ini dipenuhi dari bukit yang menutup badan jalan.
Pantauan TRIBUNFLORES.COM di Kecamatan Tanawawo, Sikka pada pekan lalu, warga terpaksa menambal jalan-jalan berlubang.
Saat ini aspal terkupas dan sudah tidak aspal yang menempel di jalan. Jalan penuh bebatuan dan kerikil tajam terus membahayakan pelintas jalan.
Akses jalan bagi masyarakat harus berjalan kaki dan menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat harus meningkatkan kewaspadaan.
Medan jalannya pun sangat ekstrim, kiri kanan dibayangi jurang dan tebing yang curam. Sepanjang jalan, dipenuhi lubang yang cukup besar.
Melewati jalanan ini, pengguna jalan juga akan melewati tikungan tajam, jalanan menanjak, dan turunan yang menukik. Setiap lembah terdapat kali yang dialiri air.
Kondisi ini berlangsung sudah cukup lama, sehingga masyarakat di Desa Detubinga bersepakat untuk memperbaiki jalan rabat yang rusak secara swadaya.
Kondisi jalan ini membuat masyarakat menggunakan peralatan seadanya seperti sekop, karung, cangkul, linggis mengangkat tanah yang menutupi ruas jalan selanjutnya dibuang.
Pada beberapa titik, masyarakat menambal jalanan berlubang menggunakan campuran semen, pasir dan air.
Para ibu dan bapak-bapak, maupun orang muda bahu membahu penuh semangat gotong royong bekerja.
Untuk bahan pasir dan kerikil diambil dari kali. Sedangkan untuk semen adalah swadaya masyarakat baik di Detubinga maupun Diaspora yang ada di luar daerah.
Kepada TribunFlores.com, Tonce, warga setempat mengatakan akses jalan tersebut selama ini sangat parah. Ada alternatif lain yakni lewat Wolofeo namun keadaanya ada beberapa titik yang hampir putus.
"Hari ini kami masyarakat Desa Detubinga maupun yang berada di luar Desa Detubinga, di perantauan maksud kami dan juga yang ada di Kabupaten, kami bersama-sama sepakat memberikan sumbangan secara sukarela," ujarnya.
Ia mengatakan sesuai rencana bersama masyarakat, dalam satu Minggu dua kali mengerjakan titik jalan yang rusak yaitu Selasa dan Sabtu. Penambalan ruas jalan ini pun akan dilakukan hingga di batas Desa Mesabewa, Kecamatan Pagar.
"Kami mengharapkan bantuan dari semua pihak, sebisa mungkin," ujarnya.
Secara terpisah, Erlina salah seorang ibu rumah tangga yang ikut terlibat dalam dalam penambalan jalan pun menuturkan hal senada.
Ia menerangkan pengerjaan jalan ini bukan semata kontribusi masyarakat yang berada di Desa Detubinga saja, tetapi masyarakat yang ada di perantauan yang turut memberikan donasi untuk membeli semen. (moa)