Laporan Wartawan TribunMadura.com, Samsul Hadi
TRIBUNMADURA.COM, BLITAR - Senyum Aprilia Ayu Agustin (16) dan M Kausar Rozak Saputra kembali terlihat setelah keduanya mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan.
Mereka sempat berhenti sekolah karena alasan berbeda, sebelum akhirnya diterima di Sekolah Rakyat Kota Blitar, Jawa Timur.
Pada Sabtu (12/9/2026), keduanya dijemput langsung Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, dan diantar menuju sekolah.
Kini, April, panggilan Aprilia Ayu Agustin, dan Rozak, panggilan M Kausar Rozak Saputra, harus beradaptasi dengan kehidupan asrama sambil kembali mengejar cita-cita masing-masing.
Ratusan siswa Sekolah Rakyat ikut menyambut kedatangan Aprilia dan Rozak di aula.
April mengatakan, setelah lulus SMP, ia sempat masuk ke salah satu SMK negeri di Kota Blitar.
Ia hanya beberapa bulan bertahan di SMK, lalu memutuskan keluar dari sekolah.
"Kemarin sempat masuk SMK, lalu keluar karena kurang cocok dengan lingkungannya," kata April yang tinggal bersama ibunya di Kelurahan Tlumpu, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, Jawa Timur.
Baca juga: Paradoks Sekolah Rakyat, Banyak Siswa SD Terancam Kondisi Gedung Sekolah di Bangkalan Bobrok
Setelah keluar dari SMK, April tidak pindah ke sekolah lain.
Lebih dari satu bulan, ia hanya tinggal di rumah.
"Kemudian saya ingin melanjutkan sekolah di Sekolah Rakyat. Akhirnya difasilitasi bisa masuk di Sekolah Rakyat," ujarnya.
April mengaku sudah siap sekolah di Sekolah Rakyat dan tinggal di asrama.
Di Sekolah Rakyat ini, April ingin mewujudkan cita-citanya menjadi dokter.
"Saya ingin menjadi dokter. Saya sudah siap belajar di Sekolah Rakyat," katanya.
Berbeda dengan Rozak, setelah lulus SMP pada 2026 ini, Rozak sebenarnya sudah mendaftar ke SMA negeri di Kota Blitar.
Namun, sampai akhir pendaftaran, Rozak belum mendapatkan sekolah.
Ia tidak diterima di SMA negeri yang diinginkan.
Baca juga: Lahan Baru Sekolah Rakyat Sumenep Kembali Tersandung Status LSD, Pemkab Kejar Target Pembangunan
"Saya sempat daftar di SMA negeri, tapi tidak diterima. Akhirnya berhenti dulu. Sekarang masuk Sekolah Rakyat," katanya.
Rozak awalnya sempat bimbang untuk sekolah di Sekolah Rakyat.
Karena itu, ia tidak langsung mendaftar di Sekolah Rakyat.
Ia masih ingin mendaftar di SMA swasta.
Namun, kerana faktor ekonomi orang tua, Rozak akhirnya memutuskan untuk sekolah di Sekolah Rakyat.
"Sempat mau daftar ke SMA swasta. Tapi terkendala biaya. Akhirnya saya masuk Sekolah Rakyat. Cita-cita saya ingin menjadi polisi," ujarnya.
Sementara itu, Mas Ibin, sapaan Syauqul Muhibbin berharap, kedua siswa baru ini bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan di Sekolah Rakyat.
Karena, kedua siswa ini harus tinggal di asrama selama menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat.
"Sekolah Rakyat ini sekolah asrama, mungkin awal-awal perlu adaptasi. Ini proses yang dilewati dengan perjuangan, karena berpisah dengan orang tua dan lingkungan," katanya.
"Anak-anak memang harus diajari hidup mandiri agar menjadi generasi yang tangguh dan hebat serta sukses di masa depan," lanjutnya.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Blitar, Eka Atikah, mengatakan, sistem Sekolah Rakyat adalah multi entry multi exit.
Multi entry multi exit atau MEME merupakan sistem atau pendekatan kurikulum pendidikan yang memberikan fleksibilitas bagi siswa untuk masuk (entry) dan mencapai capaian pembelajaran atau menyelesaikan tahap pendidikan (exit) kapan saja sesuai dengan kemampuan serta kesiapan masing-masing
Dengan sistem itu, siswa di Sekolah Rakyat bisa masuk dan keluar sewaktu-waktu.
"Kebetulan dua siswa ini putus sekolah dan minat masuk Sekolah Rakyat. Wali kota mengapresiasi anak putus sekolah yang mau sekolah di Sekolah Rakyat, lalu menjemputnya," katanya.
Dikatakannya, kedua siswa ini dengan kesadaran sendiri ingin masuk di Sekolah Rakyat.
Orang tua dari kedua siswa juga mendukung kalau anaknya masuk di Sekolah Rakyat.
"April ini anak yatim. Ibunya justru mendukung anaknya masuk Sekolah Rakyat, dari pada nanti terpengaruh pergaulan bebas di luar," ujarnya.
"Sedangkan Rozak sudah daftar di SMA negeri, tapi tidak diterima. Awalnya, ia ingin masuk SMA swasta, tapi orang tua biayanya terbatas, karena masih biayai kuliah kakaknya. Akhirnya, ia ingin masuk Sekolah Rakyat," pungkasnya.