Hari Kelima Pencarian 8 Orang Hilang di Selat Sunda, SAR Temukan Jeriken, Helm dan 2 Life Jacket
Glery Lazuardi September 13, 2026 03:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Tim SAR gabungan masih mencari delapan orang yang hilang kontak di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung, Banten. Hingga hari kelima pencarian, Sabtu (12/9/2026), keberadaan delapan orang tersebut belum ditemukan.

Delapan orang yang dicari terdiri atas lima jurnalis, dua anak buah kapal (ABK), dan satu pemandu.

Mereka dilaporkan hilang kontak sejak Senin (7/9/2026) saat hendak melakukan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau.

Pada pencarian hari kelima, tim SAR menemukan sejumlah barang di Sektor 5.

Temuan tersebut berupa satu jeriken minyak berwarna biru, helm berwarna merah, serta dua life jacket berwarna oranye dan merah.

Baca juga: Nyala Lilin dan Doa di Bundaran HI: Asa Insan Pers Menanti Kabar Baik dari Selat Sunda

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, mengatakan barang-barang tersebut ditemukan oleh KN SAR Tetuka dalam penyisiran di wilayah perairan sekitar Gunung Anak Krakatau.

Jeriken minyak berwarna biru ditemukan sekitar pukul 10.05 WIB. Selanjutnya, pada pukul 12.33 WIB, tim menemukan helm berwarna merah. Pada sore hari, tim kembali menemukan dua life jacket, masing-masing berwarna oranye pada pukul 17.10 WIB dan merah pada pukul 18.09 WIB.

Seluruh barang tersebut kemudian dibawa ke darat untuk diserahkan kepada pihak berwenang guna proses identifikasi.

"Untuk hasil identifikasi nanti disampaikan lebih lanjut oleh pihak yang berwenang. Kami sudah menyerahkan temuan tersebut, tinggal kita tunggu bersama hasilnya," jelasnya.

Amrad mengatakan keempat barang tersebut ditemukan di Sektor 5, tepatnya di perairan sebelah utara dari posisi posko SAR di Carita, dengan lokasi temuan yang berbeda-beda.

"Temuan berada di Sektor 5, tepatnya di perairan sebelah utara dari posisi posko kita saat ini, dengan titik lokasi/jarak yang bervariasi," ucap Amrad.

Sementara itu, KN SAR Antasena yang melakukan pencarian di Sektor 2 bersandar di Pulau Sebesi setelah melakukan penyisiran selama sekitar 11 jam 30 menit.

"KN SAR Antasena melakukan pencarian kurang lebih 11 jam 30 menit. Bertolak dari Dermaga Golden Key pukul 06.00 WIB, menyisir sebelah selatan Teluk Belimbing menuju Pulau Sebesi, dan lego jangkar pada pukul 17.00 WIB," katanya saat prescon, Sabtu (12/9/2026) malam.

KN SAR Antasena kemudian tetap siaga di Pulau Sebesi untuk memantau situasi pada malam hari. Selain itu, KN SAR Basudewa dari Kantor SAR Lampung juga melakukan pencarian di wilayah sekitar Gunung Anak Krakatau dan direncanakan bersandar di Pulau Sebesi.

Pulau Sebesi menjadi salah satu wilayah yang diperhatikan dalam pencarian setelah data sinyal telepon seluler menunjukkan salah satu dari tujuh nomor ponsel penumpang sempat terdeteksi di perairan sekitar pulau tersebut.

"Ya, berdasarkan data sinyal ponsel dari tujuh orang penumpang, ada satu nomor yang sempat terdeteksi berada di perairan Pulau Sebesi. Pengecekan ke lokasi tersebut sudah kami lakukan sejak hari kedua hingga hari ini," ucap Amrad.

Pencarian di Pulau Sertung Belum Menemukan Korban

Pada hari kelima, Kapolda Banten Irjen Pol Hengki bersama tim SAR gabungan juga melakukan pencarian menggunakan KP Sanjaya 17. Kapal tersebut bergerak dari Pelabuhan Ciwandan menuju Pulau Sertung yang berjarak sekitar 40 mil.

Penyisiran dilakukan di sejumlah titik di sekitar Pulau Sertung hingga sekitar tiga mil dari kawasan Gunung Anak Krakatau. Tim menggunakan teropong manual dan kamera termal untuk memantau permukaan laut.

"Perjalanan kurang lebih keberangkatan kembali hampir 8 jam dan kami sudah tiba tadi. Hasil masih nihil, tidak kita jumpai di perjalanan baik dari Ciwandan menuju Pulau Sertung," kata Hengki saat diwawancarai di posko SAR di Carita, Banten, Sabtu (12/9/2026).

Tim belum menemukan tanda-tanda keberadaan delapan orang yang masih dicari.

"Kita amati semua sekitar permukaan laut yang kita laksanakan patroli di sana, monitor di sana, kita tidak menjumpai apa-apa sampai kami kembali ke Pelabuhan Ciwandan," ujarnya.

Hengki mengatakan kondisi cuaca menjadi salah satu kendala dalam pencarian. Jarak pandang di sekitar Pulau Sertung hanya sekitar dua hingga tiga mil karena masih diselimuti kabut. Kecepatan angin yang mencapai hampir 25 knot juga memengaruhi proses pemantauan.

"Kecepatan angin pun menjadi kendala dalam pemantauan," ucap Hengki.

"Tapi tidak mengurangi niat tulus, semangat gerak tim semua untuk segera menemukan rekan-rekan kita," tegasnya.

Terkait temuan life jacket pada hari keempat pencarian, Hengki mengatakan benda tersebut memiliki kemiripan dengan life jacket yang ditemukan sehari sebelumnya. Namun, berdasarkan keterangan Sandi selaku pemilik kapal Arupadatu 1, life jacket tersebut bukan merupakan perlengkapan kapal yang membawa para korban.

"Life jacket yang hari keempat mirip dengan yang hari ketiga. Itu berdasarkan penjelasan Bapak Sandi selaku pemilik kapal Arupadatu 1, bukan merupakan milik kapal Arupadatu 1," ujar Hengki.

Selain Pulau Sertung dan Pulau Sebesi, tim SAR gabungan telah melakukan penyisiran di sejumlah pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau, termasuk Pulau Rakata dan Pulau Panjang.

Baca juga: Life Jacket Oranye Kedua Ditemukan di Timur Gunung Anak Krakatau, 5 Jurnalis Masih Dicari

Operasi SAR Dilanjutkan

Al Amrad memastikan operasi SAR masih dilanjutkan. Sesuai standar operasional prosedur (SOP), pencarian dilakukan selama tujuh hari.

Apabila hingga hari ketujuh korban belum ditemukan, tim akan melakukan evaluasi untuk menentukan langkah selanjutnya, termasuk kemungkinan memperpanjang operasi.

"Berdasarkan SOP kami tujuh hari. Tapi dari tujuh hari itu kita akan evaluasi kembali apabila rata-rata korban belum ditemukan, kita akan perpanjang," jelasnya.

"Ini baru hari kelima, kita berpikir semula semoga saja korban ditemukan. Jangan sampai hari ketujuh dengan SOP, itu harapan kita semua," ucap Amrad.

Pada hari kelima, operasi melibatkan 14 alat utama (alut), termasuk unsur udara, yang dibagi ke dalam tujuh sektor pencarian. Unsur yang terlibat berasal dari TNI AL, Polairud, serta Kantor SAR Banten, Jakarta, Lampung, dan Bengkulu.

Komdigi Pantau Sinyal Seluler

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) turut membantu pencarian dengan melibatkan operator seluler untuk memantau sinyal komunikasi di sekitar lokasi hilangnya delapan orang tersebut.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria meninjau Posko SAR di Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, Sabtu (12/9/2026).

Nezar mengatakan koordinasi dengan operator seluler dilakukan sejak pihaknya menerima informasi mengenai hilangnya kontak.

"Kita sudah berkoordinasi dengan operator seluler, tiga operator seluler itu semua mendeteksi BTS yang ada di seputaran Selat Sunda," katanya.

Pemantauan dilakukan terhadap jaringan Base Transceiver Station (BTS) di wilayah sekitar Selat Sunda, baik Banten maupun Lampung. Komdigi juga melibatkan Balai Monitoring Frekuensi Radio di kedua wilayah tersebut.

Informasi mengenai sinyal yang terdeteksi kemudian diteruskan kepada tim SAR untuk ditindaklanjuti dalam pencarian.

"Kita terus juga melakukan pengecekan kalau ada sinyal-sinyal yang tertangkap dari operator seluler kita sudah mendapatkan informasi dan informasi itu diteruskan kepada SAR," ujar Nezar.

Dari pemantauan tersebut, Komdigi memperoleh informasi mengenai kontak terakhir yang terdeteksi pada 7 September dan berada di wilayah Pulau Sebesi.

"Seperti kita ketahui terakhir data yang kita terima adalah kontak terakhir pada tanggal 7 September berada di Pulau Sebesi," jelasnya.

Hingga pencarian hari kelima berakhir, keberadaan lima jurnalis, dua ABK, dan satu pemandu tersebut masih belum diketahui.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.