Cerpen: Cinta Kakak di Tapal Batas
Dion DB Putra September 13, 2026 08:19 AM

Oleh: Fr. Sany Tukan, SVD *

POS-KUPANG.COM -  Angin malam di perbatasan barat menembus pori-pori kulit dengan begitu kejam sembari membawa hawa dingin dari lembah curam yang diselimuti kabut tebal. 

Di dalam Pos Penjagaan terpencil berdinding kayu, Domi duduk termenung di balik meja kayu tua. 

Lampu neon bercahaya pelan memantulkan bayangan kurus kekar di dinding yang dipenuhi peta wilayah konflik perbatasan. 

Sebagai komandan regu, tugas Domi bukan sekedar menjaga kedaulatan teritorial dari ancaman dan penyelundup lintas batas, melainkan juga menanggung rindu yang teramat berat pada keluarga di kampung halaman. 

Baca juga: Cerpen: Pilihan di Usia Dua Puluh

Namun, di antara bayang-bayang orang tersayang, nama Pio; sang adik selalu mendominasi pikirannya; Pio tengah berjuang kuliah kedokteran di kota besar.

Malam semakin larut berkabut, badai kecil mulai menderu hebat mengguncang atap seng Pos Penjagaan. 

Tiba-tiba suara derap langkah berat terdengar mendekat di luar barak, disusul bunyi ranting patah. 

Naluri militer Domi langsung siaga. Ia mencengkeram erat senapan merayap menuju jendela mengintip kegelapan yang pekat. 

“Apakah ini kelompok penyusup bersenjata? Ataukah patroli malam yang tersesat?” suara hati Domi kian bertanya. 

Dilihatnya sesosok bayangan kecil berbalut jaket merangkak melintasi kawat berduri. 

Sosok itu tampak terhuyung-huyung hampir pingsan. “Siapa di sana?” bentaknya tegas. 

Sosok itu mendongak, membuka penutup jaketnya. Wajah pucat pasi, namun sorot mata itu sangat dikenalnya. 

“Kaka…ini saya!” bisik suara parau yang amat lemah. “Kak..saya tidak peduli seberapa jauh hutan ini atau seberapa besar bahaya dihadapanku. Nyawa Kakak jauh lebih berharga daripada segalanya,” ujar Pio.

Dunia seakan berhenti berputar. Sosok itu ialah adiknya Pio; yang seharusnya berada di ruangan kuliah, kini berdiri dihadapannya di tengah hutan belantara tapal batas yang mematikan. 

Ternyata sore tadi, Pio mendapat kabar dari rekan sesama prajurit bahwa Domi terkena gigitan ular. 

Tanpa berpikir panjang, Pio yang baru selesai kuliah nekat membawa serum penawar racun langka dan berjalan menembus hutan terlarang demi menyelamatkan nyawa kakaknya. 

Baca juga: Cerpen - Rahasia di Bawah Tenda Biru

Ahh...di langit tapal batas yang sunyi dan penuh ancaman itu, cinta seorang kakak dan pengorbanan tulus seorang adik menyatu dalam keheningan malam hingga membuktikan bahwa ikatan darah dan kasih sayang sejati mampu melintasi batas-batas maut yang paling menakutkan sekalipun. (*)

Sany Tukan
Sany Tukan (DOKUMENTASI PRIBADI SANY TUKAN)

*) Sany Tukan lahir di Lembata tepatnya di Waikomo, pada tanggal 16 Juni 2002. Meluluskan jenjang Sekolah Dasar di SDI II Waikomo, SMP-SMA Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere; Lulusan IFTK Ledalero (Sarjana Filsafat). 

Sekarang sedang menjalani Masa TOP di Paroki Salib Suci Alas, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.