TRIBUN-TIMUR.COM - Sebanyak 608 kiloliter (KL) bahan bakar minyak (BBM) masuk dalam jadwal penyaluran Pertamina Patra Niaga ke SPBU di Sulawesi Selatan pada Sabtu (12/9/2026).
Volume tersebut tercatat dalam 79 entri penyaluran yang mencakup sedikitnya 59 nomor SPBU berbeda berdasarkan empat lembar informasi jadwal yang diterbitkan Pertamina Patra Niaga.
Distribusinya tidak hanya berada di Kota Makassar. Daftar tersebut mencantumkan SPBU di sejumlah wilayah Sulsel, mulai dari Makassar, Gowa, Maros, Mandai, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, Bone hingga Pangkep.
Maka lengkaplah sudah aneka jadwal yang menyita perhatian dan emosi warga. Jadwal pemadaman bergilir atau jadwal penyalaan bergilir dari PLN masih sesekali membuat warga seakan hendak membanting hape saat membacanya. Tetiba muncul jadwal baru: jadwal BBM.
Yang juga terlihat dari dokumen berisi jadwal BBM dari Pertamina, akhir pekan kedua September 2026, adalah waktu keluarnya BBM.
Seluruh jadwal dalam empat lembar itu tercatat pada malam hari, mulai pukul 20.09 hingga 23.59.
Artinya, distribusi yang tercantum dalam dokumen tersebut berlangsung dalam rentang waktu malam hingga mendekati tengah malam. Kolom yang digunakan Pertamina adalah “Jam Keluar”, sehingga angka tersebut menunjukkan waktu keluarnya penyaluran dalam jadwal, bukan waktu pasti BBM tiba dan mulai dilayani di SPBU.
Dominasi Pertalite
Dari 608 KL yang tercantum, Pertalite menjadi produk dengan volume terbesar.
Sebanyak 42 entri Pertalite mencapai 336 KL atau sekitar 55,3 persen dari total volume dalam empat lembar jadwal.
Berikutnya Biosolar B50 sebanyak 31 entri dengan total 248 KL atau sekitar 40,8 persen.
Sementara Pertamax tercatat empat entri dengan total 20 KL. Pertamax Turbo satu entri sebanyak 2 KL dan Pertamina Dex satu entri sebanyak 2 KL.
Pola itu menunjukkan bahwa penyaluran dalam daftar tersebut terutama bertumpu pada Pertalite dan Biosolar B50.
Beberapa SPBU tercantum lebih dari satu kali karena menerima lebih dari satu jenis produk.
Misalnya, SPBU di Jalan Poros Bulukumba-Makassar tercatat menerima Pertalite dan Biosolar B50. Pola serupa terlihat pada sejumlah titik lain di Makassar dan kabupaten sekitar.
Karena itu, jumlah 79 dalam dokumen tidak dapat dibaca sebagai jumlah SPBU. Setelah nomor SPBU yang berulang disandingkan, terdapat sedikitnya 59 nomor SPBU berbeda dalam empat lembar tersebut.
Timur Sulsel
Daftar penyaluran juga memperlihatkan sebaran geografis yang cukup luas.
Di Makassar, titik yang tercantum antara lain Jalan Hertasning, Jalan Sultan Alauddin, Jalan Daeng Tata, Jalan AP Pettarani, Jalan Andi Pangerang Pettarani, Jalan Gatot Subroto, Jalan Ratulangi, Jalan Veteran Selatan, Jalan Antang Raya hingga Jalan Abdullah Daeng Sirua.
Di luar Makassar, distribusi menjangkau jalur dan kawasan di Gowa, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, Bone, Maros, Mandai dan Pangkep.
Ada pula penyaluran yang berada di jalur antarkabupaten seperti Poros Bulukumba-Sinjai, Poros Bantaeng-Bulukumba, Poros Bantaeng-Jeneponto dan Poros Bone-Makassar.
Dengan demikian, dokumen tersebut tidak hanya menggambarkan pengisian ulang SPBU perkotaan. Ia memperlihatkan jaringan distribusi yang mengikuti jalur pergerakan masyarakat dan kendaraan antarkawasan.
Antrean BBM
Jadwal tersebut muncul ketika antrean kendaraan di sejumlah SPBU Sulsel sedang meningkat.
Pada Sabtu (12/9/2026), Pertamina Patra Niaga menyatakan memperkuat pasokan dan distribusi BBM ke sejumlah SPBU Sulsel untuk merespons peningkatan kebutuhan masyarakat, terutama BBM bersubsidi. Pertamina juga menyebut perubahan pola konsumsi dan pembelian secara bersamaan ikut memengaruhi antrean.
Kebutuhan Solar JBT disebut meningkat sekitar 10–15 persen pada periode Juni hingga Agustus 2026. Pertamina kemudian menyesuaikan penyaluran berdasarkan kebutuhan masing-masing wilayah.
Untuk mempercepat distribusi, Pertamina mengoperasikan mobil tangki selama 24 jam. Di Makassar, 25 SPBU dioperasikan selama 24 jam, terdiri atas 11 SPBU yang sebelumnya sudah beroperasi 24 jam dan tambahan 14?
Dalam dokumen yang diterima Tribun-Timur.Com itu, ada tambahan 16 titik sehingga total 25 SPBU 24 jam.
Dengan tambahan operasional tersebut, distribusi tidak hanya ditujukan untuk menambah volume BBM, tetapi juga memperpanjang waktu pelayanan dan mempercepat pergerakan stok dari terminal menuju SPBU.
608 KL bukan akhir dari perjalanan BBM
Angka 608 KL dalam dokumen ini penting dibaca secara tepat.
Itu bukan angka stok BBM yang tersedia di seluruh SPBU Sulsel. Angka tersebut adalah akumulasi volume yang tercantum dalam jadwal penyaluran.
Begitu pula 59 nomor SPBU bukan berarti hanya 59 SPBU di Sulsel yang menerima pasokan. Data yang tersedia hanya mencakup titik-titik yang masuk dalam empat lembar jadwal yang diterima.(*)