Cerita Sedih Pemuda 17 Tahun di Kudus Cuci Darah dan Jantung Rusak, Minuman Ini Bisa jadi Pemicunya
Hanang Yuwono July 29, 2024 05:30 PM

TRIBUNSOLO.COM, KUDUS - Beberapa waktu belakangan ramai kasus anak yang rutin hemodialisa atau cuci darah ke rumah sakit karena mengalami sakit ginjal.

Kasus itu pun pernah terjadi di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus.

Direktur RSUD dr Loekmono Hadi Kudus, dr Abdul Hakam, menjelaskan tahun ini ada anak yang harus menjalani cuci darah di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus.

Anak itu bahkan harus menjalani cuci darah pada Juni 2024.

Pasien lantas dirujuk ke RSUP dr Kariadi Semarang karena kompleksitas penyakit yang diidap anak tersebut.

“Anak itu sekarang berusia 17 tahun yang cuci darah di sini, karena komplain penyakitnya sangat kompleks ada jantung, paru-paru, dari dokter anak dirujuk ke RSUP Dr Kariadi Semarang,” kata dokter spesialis anak ini kepada Tribunjateng.com, Senin (29/7/2024).

Mengenai penyebab yang mengakibatkan anak tersebut harus cuci darah, dr Abdul Hakam mengaku tidak tahu secara jelas.

Lantaran kata dia, penyakit yang diidap oleh anak tersebut sangat kompleks.

Menurutnya, bisa jadi penyakit itu karena pengaruh kerusakan pada organ lain.

“Itu dari TBC (tuberkulosis) yang kemudian mempengaruhi jantung, kemudian dari jantung pengaruhi ginjal,” kata Abdul Hakam.

Dia lantas menjelaskan, kasus gagal ginjal pada anak juga bisa terjadi karena diabetes.

dr Abdul Hakam tidak menampik kalau saat ini ada juga anak yang sudah terkena penyakit gula karena keturunan atau karena pola makan dan minum yang tidak sehat.

“Jadi penyebab gagal ginjal macam-macam."

"Ada penyakit yang  berhubungan dengan kanker ginjal."

"Kemudian berhubungan dengan pola hidup dari anak-anak karena makan dan minum yang diberikan kepada anak karuan,” kata Hakam.

Menurut dr Abdul Hakam, gagal ginjal pada anak yang kemudian mensyaratkan mereka untuk cuci darah belum banyak ditemukan di Pantura.

Namun antisipasi sedini mungkin alangkah baiknya dilakukan agar tidak ada lagi anak yang kemudian harus cuci darah rutin ke rumah sakit.

Hakam menitip pesan kepada setiap orangtua agar ikut serta menjaga pola hidup anak, terutama dari asupan makanan dan minuman.

Bagi dr Abdul Hakam, gagal ginjal itu terjadi tidak dalam tempo satu atau dua tahun, tetapi bisa tiga tahun lebih penyebab yang menyertainya sehingga gagal ginjal bisa terjadi.

“Prinsipnya kalau ada gejala awal yang berkaitan dengan ginjal, misalnya muka seperti bengkak, kemudian kecenderungan buang air kecil berkurang, kemudian anaknya kelihatan pucat harus diperiksakan untuk mendeteksi secara dini."

"Bisa itu karena jantung dan ginjal, sehingga harus diantisipasi,” kata Hakam.

Kemudian yang perlu dihindari oleh anak, lanjut Hakam, yaitu jangan sering mengonsumsi minuman yang mengandung soda atau minuman saset kemasan.

Jika konsumsi minuman bersoda dilakukan rutin setiap hari, sementara fungsi ginjal pada anak belum matang, dipastikan kerusakan pada ginjal anak adalah kesunyataan.

“Anak-anak minum soda setiap hari, tidak hanya anak-anak itu orangtua kalau minum setiap hari bisa rusak fungsi ginjalnya."

"Kalau ginjal kena paparan soda setiap hari bisa bengkak,” kata Hakam.

(Tribun Jateng)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.