SBY Ungkap Seorang Pemimpin Harus Mengerti Pikiran dan Perasaan Rakyatnya
Wahyu Gilang Putranto February 27, 2025 02:31 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan seorang pemimpin harus mengerti pikiran dan perasaan rakyatnya.

Adapun hal itu disampaikan SBY saat menjadi pembicara pada diskusi yang diselenggarakan Universitas Paramadina bertajuk Masa Depan Multilateralisme di Tengah Ketidakpastian Ekonomi-Politik dan Keamanan Global, Trinity Tower, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (26/2/2025).

"Ini masuk dunia psikologi, masuk dunia psikopolitik benar memang benar ada tradisional voters yang memiliki cara pandang tersendiri, why they vote kandidat A, yang lain vote kandidat B. Dan itu sah, kita tidak bisa eliminasi," kata SBY. 

Kemudian dikatakan SBY di masa gelap era kolonialisasi dulu, katakanlah. Kemudian ada juga negara-negara Islam tidak menyukai Barat yang dianggap tidak pas, dan seterusnya. 

"Pemimpin harus mengerti perasaan rakyat, bukan hanya pikirannya, perasaannya, dimanapun termasuk di Indonesia," terangnya. 

Kalau cerita pemimpin strongman, lanjutnya harus melihat dua sisi, mitos dan realitasnya. 

"Menurut saya, apa yang saya pelajari selama ini, pada prinsipnya bangsa manapun, rakyat manapun, tidak suka pemimpin yang memiliki absolute power, tidak suka dengan tiran, tidak suka dengan diktator," tegasnya. 

Lanjut SBY ada orang yang suka pemimpin seperti itu, strongman diartikan sebagai yang  teguh pada prinsip.

"Dia bisa memimpin dengan baik, tidak jatuh di jalan, dia punya solusi untuk persoalan bangsanya. Strongman seperti itu barangkali yang disenangi oleh banyak orang," jelasnya. 

© Copyright @2025 LIDEA. All Rights Reserved.