Malam selikuran adalah tradisi khas Keraton Kasunanan Surakarta (Keraton Solo) dalam menyambut malam lailatul qadar.
---
Intisari hadir di WhatsApp Channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Ada beragam cara dilalukan umat Islam di Indonesia dalam menyambut malam lailatul qadar yang dalam Alquran disebut sebagai "lebih mulia dibanding seribu bulan".
Keraton Kasunanan Surakarta atau Keraton Solo punya tradisi Malam Selikuran untuk menyambut malam istimewa di bulan Ramadhan itu. Malam Lailatul Qadar adalah malam yang jatuh pada 10 malam terakhir Ramadhan.
Mengutip Kompas.com,malam selikuran terdiri atas kata malam dan selikur atau dua puluh satu. Sehingga Keraton Surakarta menyelenggarakan tradisi malam selikuran tiap tanggal 20 Ramadhan atau malam 21 Ramadhan menurut kalender Hijriyah.
Untuk tahun 2025 ini, Keraton Solo mengadakan kirab Malam Selikuran pada Kamis (20/3) malam. Acara dimulai sekitarpukul 20.00 WIB, mulai dari Kori Kamandungan Keraton Solo dan berakhir di Plaza Sriwedari.
Kirab dipimpin Raja Keraton Solo Pakubuwono XIII dan Permaisuri Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pakubuwono diikuti seribuan peserta. Mereka terdiri putra-putri dalem, kerabat, para abdi dalem dan masyarakat.
Para peserta berjalan kaki menyusuri Jalan Slamet Riyadi sepanjang 3 kilometer. Peserta kirab membawa membawa lampion, lampu ting, dan jodang berisi makanan.
Makanan ini mereka bagikan kepada masyarakat. Pengageng Sasana Wilapa Karaton Surakarta Hadiningrat, KPA H Dany Nur Adiningrat, menyampaikan seperti tahun-tahun sebelumnya setiap bulan Ramadhan keraton mengadakan kirab Malam Selikuran.
Kirab Malam Selikuran untuk memperingati malam ke-21 Ramadhan dan memasuki malam Lailatul Qadar. "Iring-iringannya utusan dalem membawa tumpeng sewu (seribu). Tumpeng sewu bermakna malam 1000 bulan. Dan ting, cahaya itu seperti cahaya malam 1000 bulan," kata Dany di Solo, Jawa Tengah, Kamis malam.
Kirab Malam Selikuran merupakan upacara adat keagamaan dibalut kebudayaan bertujuan mengingatkan masyarakat bahwa Lailatul Qadar turun di malam-malam ganjil. "Jadi ini upacara keagamaan yang berbalut budaya untuk mengingatkan bahwa di malam-malam ganjil turun Lailatul Qadar atau malam 1.000 bulan," tambah dia.
Dia menambahkan, peserta kirab Malam Selikuran Keraton Solo diterima Wali Kota Solo Respati Ardi setibanya di Sriwedari. "Ada pengajian juga untuk memperingati malam ke-21 atau malam ganjil," ujar dia.
Sejarah malam selikuran
Konon tradisi malam selikuran bermula dari adaptasi ajaran Islam ke dalam budaya Jawa pada masa dakwah Wali Songo. Mengutip Tribunnews.com, tradisi malam selikuran di Keraton Surakarta kemudian dikembangkan pada masa Sultan Agung, Raja Mataram.
Tapi padaperjalanannya, pelaksanaan tradisi tahunan ini sempat mengalami pasang surut. Lalu pada masa Pakubuwana IX, tradisi malam selikuran di lingkungan Keraton Surakarta dihidupkan kembali.
Tradisi ini kemudian mengalami puncaknya pada masa Pakubuwana X dengan diadakan secara kirab dari Keraton menuju Masjid Agung Surakarta hingga ke Taman Sriwedari. Untuk tahun 2025 ini, malam selikuran dilakukan dengan kirab dari Keraton Surakarta hingga Kupel Segaran Taman Sriwedari.
Tradisi malam selikuran biasanya diawali dengan pembukaan gerbang keraton diikuti dengan keluarnya para kerabat dan abdi dalem. Di belakang rombongan tersebut akan diikuti oleh para abdi dalem yang membawa lampu ting atau lentera.
Kemudian, iring-iringan tersebut akan diikuti dengan rombongan yang membawa seribu tumpeng atau tumpeng sewu yang diletakkan di dalam kotak kayu dengan cara dipanggul. Nasi tumpeng yang diarak biasanya terdiri dari nasi gurih, kedelai hitam, telur puyuh, cabai hijau, rambak dan mentimun.
Wadah nasi tumpeng berupa ancak cantoka atau jodang yang terbuat dari besi dan kuningan.
Perjalanan iring-iringan kirab dari Keraton dipimpin oleh seorang patih dan diiringi pembesar dan abdi dalem. Selama perjalanan, rombongan juga akan diiringi oleh gamelan yang terdiri dari 2 demung, 2 barung, 2 saron, 2 saron peking, 2 kempyang, 2 gong ageng, 2 bedug, dan 1 bonang besar serancak.
Setelah itu, tumpeng akandibagikan kepada abdi dalem dan masyarakat yang sudah menunggu sambil duduk bersila.
Tradisi malam selikuran Keraton Surakarta mengandung unsur simbolik yang maknanya terkait dengan datangnya Lailatul Qadar. Seperti adanya seribu tumpeng yang melambangkan pahala setara seribu bulan.
Kemudian keberadaan lampu ting yang melambangkan obor yang dibawa para sahabat ketika menjemput Rasulullah SAW usai menerima wahyu di Jabal Nur. Secara keseluruhan, tradisi malam selikuran Keraton Surakarta menggambarkan harmonisasi nilai-nilai Islam yang berpadu dengan budaya Jawa yang masih terjaga dalam balutan kearifan lokal.