Keluarga Pemuda Bekasi Terduga Korban Perdagangan Orang Bingung Dikirimi Berkas Medis Bahasa Kamboja
Erik S April 02, 2025 06:31 AM

TRIBUNNEWS.COM, BEKASI- Soleh Darmawan (24), warga Bekasi, Jawa Barat, diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Kamboja.

Ateng, paman korban mengatakan, keluarga sudah berusaha berkomunikasi dengan pihak perusahaan yang mempekerjakan Soleh di Kamboja. 

Komunikasi intens dilakukan selama proses pemulangan jenazah, termasuk menanyakan profil perusahaan tempat Soleh bekerja. 

"Itu si penelepon mengaku namanya Kevin. Dia operator, saya nanya perusahaannya apa aja dia enggak bisa (jawab)," kata Ateng, Selasa (1/4/2025).

Keluarga juga sempat menanyakan penyebab kematian Soleh, termasuk meminta berkas keterangan medis. 

"Penjelasan meninggal katanya sakit sih. Saya nanyain tuh hasil dia pemeriksaan apa sih, saya minta surat keterangan dari rumah sakit terkait," terangnya. 

Hanya saja, kelurga sampai saat ini masih dibuat kebingungan karena berkas keterangan medis yang dikirim berbahasa Kamboja.  

"Dia ngasih bahasa Kamboja nggak ngerti, kalau ada yang bisa bahasa Kamboja ya silahkan, bahasanya bahasa Kamboja," ucap Ateng. 

Soleh dikabarkan bekerja di Kamboja sebagai operator judi online (judol), dia meninggal dunia pada 3 Maret 2025 setelah kurang lebih dua pekan di luar negeri. 

Keluarga dibantu teman-teman Soleh mencari tahu keberadaan anak sulung dari tujuh bersaudara itu, sampai akhirnya KBRI di Kamboja memfasilitasi pemulangan jenazah pada 15 Maret 2025.

Bingung cara tuntut keadilan

Ateng mengatakan, pihaknya sampai saat ini pasrah menerima keadaan karena keterbatasan pengetahuan. 

"Kalau untuk keadilan, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Karena keadaan dari keluarga kami ya, belum paham arti keadilan prosesnya gimana," kata Ateng. 

Ateng berharap ada lembaga dan pemerintah yang membantu, agar keluarganya bisa memperjuangkan keadilan atas kematian Soleh yang misterius. 

"Ya kami hanya pasrah. Dan mungkin nanti dari lembaga lain atau dari pemerintah. Terutama saya berharap pemerintah ini harus bergerak," ucap Ateng. 

Kematian Soleh, lanjut Ateng, merupakan sinyal untuk pemerintah agar segera mengusut kasus dugaan TPPO melalui rekrutmen kerja operator judol. 

"Artinya negara perlu mengusut. Jangan sampai warga kita, warga negara Indonesia ini, jangan sampai di negara lain. Seenaknya saja negara luar bisa begini," ucap Ateng. 

Keluarga sampai saat ini masih dihantui tanda tanya.

Soleh berangkat ke luar negeri dalam keadaan sehat lalu pulang tinggal nama. 

Tidak hanya itu, pada saat jenazah dipulangkan ke tanah air keluarga melihat ada luka di bagian perut sekitar posisi ginjal. 

Hal ini yang memunculkan kecurigaan, Soleh meninggal tak wajar lalu ginjalnya diduga dijual. 

"Tapi kalau dari kematian almarhum ini, saya mencurigakannya badan sehat dari rumah."

"Sampai di sana cuma 4 hari waktu dia sehatnya. Selanjutnya sakit sampai meninggal," ungkap Ateng. 

Soleh dikabarkan bekerja di Kamboja sebagai operator judi online (judol).

Dia meninggal dunia pada 3 Maret 2025 setelah kurang lebih dua pekan di luar negeri. 

Keluarga dibantu teman-teman Soleh mencari tahu keberadaan anak sulung dari tujuh bersaudara itu.

Sampai akhirnya KBRI di Kamboja memfasilitasi pemulangan jenazah pada 15 Maret 2025.

 

Penulis: Yusuf Bachtiar

Artikel ini telah tayang di TribunJakarta.com dengan judul Misterius, Keluarga Pemuda Terduga Korban TPPO Dibuat Bingung Dikirimi Berkas Medis Bahasa Kamboja

dan

Keluarga Pemuda Bekasi Terduga Korban TPPO di Kamboja Pasrah, Tak Tahu Caranya Menuntut Keadilan

 

© Copyright @2025 LIDEA. All Rights Reserved.