China Gelar Latihan Militer, Kerahkan Pasukan Gabungan Kirim 19 Kapal Perang untuk Kepung Taiwan
Tiara Shelavie April 02, 2025 10:32 AM

TRIBUNNEWS.COM – Militer China dilaporkan tenggah menggelar latihan militer besar-besaran di dekat wilayah Taiwan pada Selasa (1/4/2025).

Hal tersebut dikonfirmasi langsung oleh juru Bicara Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China, Shi Yi.

Dalam keterangan resmi yang dikutip Guardian, latihan digelar dengan mengerahkan sejumlah pasukan gabungan mulai dari militer darat, laut, dan udara di dekat wilayah Taiwan.

Adapun latihan militer ini bertujuan untuk mengirimkan peringatan keras kepada Lai Ching Te presiden Taiwan, agar Taipei tidak mencari kemerdekaan formal.

"Latihan ini dimaksudkan sebagai peringatan keras dan penahanan yang kuat terhadap kemerdekaan Taiwan," kata Shi.

"Latihan militer ini ditujukan untuk menguji kemampuan pasukan dalam melaksanakan operasi terpadu, merebut kendali operasional, dan melakukan serangan presisi multiarah," imbuhnya

Kendati mendapat kecaman, China mengklaim bahwa tindakan itu sah dan perlu dilakukan.

Mereka berdalih latihan militer terbesar di awal 2025 ini perlu digelar demi menjaga kedaulatan dan persatuan China.

"Latihan tersebut berfokus pada patroli kesiapan tempur laut-udara, perebutan bersama atas keunggulan komprehensif, penyerangan terhadap target maritim dan darat, dan blokade terhadap area-area utama dan jalur laut," Jelas Shi Yi.

China Kerahkan 19 Kapal Perang

Kementerian Pertahanan Taiwan turut mengatakan kelompok 19 kapal perang dan kapal induk Shandong milik China telah memasuki zona identifikasi udara wilayahnya.

Sebagai tanggapan. Taiwan mengaku telah mengirimkan pesawat dan kapal militer serta mengaktifkan sistem rudal berbasis darat.

Sementara Menteri Pertahanan Taiwan Wellington Koo menyebutkan bahwa langkah ini memberikan sebuah bukti bahwa China memang tak peduli terhadap stabilitas regional.

"Saya ingin mengatakan tindakan ini mencerminkan dengan jelas penghancuran (China) terhadap perdamaian dan stabilitas regional," kata Menteri Pertahanan Taiwan Wellington Koo.

AS Desak Perdamaian

Perseteruan ini telah terjadi bertahun-tahun lamanya, China bersikeras bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayahnya.

Bagi pemerintah China, mengizinkan Taiwan merdeka akan berarti menerima pembagian teritorial China, yang akan mengancam integritas negara tersebut.

Memberikan contoh bagi wilayah-wilayah lain di China untuk menuntut otonomi atau kemerdekaan mereka sendiri, yang akan mengancam stabilitas negara secara keseluruhan.

Oleh karena itu, China menanggapi setiap upaya Taiwan untuk merdeka sebagai ancaman terhadap kedaulatan dan keberlanjutan negara.

Selama beberapa tahun terakhir, China telah meningkatkan pengerahan jet tempur dan kapal angkatan laut di sekitar Taiwan untuk menekan klaim kedaulatannya.

Khawatir tindakan China dapat memicu pertempuran, Gedung Putih mendesak perdamaian.

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Presiden AS Donald Trump tak ingin ada langkah sepihak dalam menghadapi ketidaknyamanan China dengan Taiwan.

Ia juga menegaskan kembali "penentangan AS terhadap segala upaya sepihak untuk mengubah status quo dengan kekerasan atau paksaan."

Pernyataan itu diberikan setelah militer China menggelar latihan militer dengan mengerahkan pasukan darat, laut, dan udara di dekat wilayah Taiwan sebagai peringatan keras untuk Taiwan.

(Tribunnews/Namira)

© Copyright @2025 LIDEA. All Rights Reserved.