Film Pabrik Gula mengundang beragam komentar dari penonton. Mengapa banyak pabrik gula di Jawa?
---
Intisari hadir di WhatsApp Channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Film Pabrik Gula (2025) tengah viral. Berbagai komentar muncul menyertai kemunculannya.
Terlepas dari filmnya menimbulkan berbagai perdebatan, menarik untuk melihat mengapa banyak pabrik gula di Pulau Jawa.
Sinopsi film Pabrik Gula
Film Pabrik Gula didasarkan pada thread yang viral di media sosial yang dibuat oleh Simpleman. Pemerannya adalahErika Carlina, Arbani Yasiz, Ersya Aurelia, Vonny Anggraini, Azela Putri, Wavi Zihan, Bukie Basudewa Mansyur, Benidictus Siregar, Sadana Agung, Arif Alfiansyah, Budi Ros, Hira Dewi Pakis, dan Gilang Devialdy.
Film Pabrik Gula mengisahkan sekelompok buruh musiman yang bekerja di sebuah pabrik gula untuk membantu proses penggilingan tebu selama musim panen. Para buruh ini, termasuk Endah, Fadhil, Dwi, Hendra, Wati, Ningsih, dan Franky, awalnya menjalani rutinitas tanpa masalah.
Namun, suasana berubah mencekam setelah Endah mengikuti sosok misterius pada suatu malam. Sejak kejadian tersebut, teror demi teror mulai menghantui para buruh.
Insiden mengerikan terjadi, seperti kecelakaan kerja hingga kematian tragis di sumur belakang pabrik. Rahasia kelam pun terungkap, pabrik gula tersebut berdampingan dengan kerajaan demit yang marah karena suatu hal.
Para makhluk halus ini mulai menuntut nyawa buruh sebagai balasan atas kemarahan mereka. Dengan atmosfer horor yang mencekam dan ketegangan yang terus meningkat, Pabrik Gula membawa penonton menyusuri misteri dan bahaya yang mengintai para tokohnya. Siapkah mereka menghadapi kengerian yang tak terhindarkan?
Pabrik gula di Pulau Jawa
Kemunculan pabrik gula di Pulau Jawa tak bisa dilepaskan dari kemunculan industri gula di Indonesia yang diperkenalkan oleh penjajah Belanda. Di Pulau Jawa, pabrik gula tersebar di beberapa tempat di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Di Jawa Tengah, ada beberapa pabrik gula, seperti PG Mojo, PG Colomadu, PG Tasik Madu, dan PG Gondang Baru. Sementara itu, di Jawa Timur ada PG Poerwodadi, PG Merican, PG Tegowangi, PG Purwosari, dan masih banyak lagi.
Banyaknya pabrik gula di Pulau Jawa disebabkan kebijakan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada masa lalu. Tanam paksa Setelah Perang Jawa berakhir pada 1830, Gubernur Jenderal Van Den Bosch memberlakukan sistem tanam paksa.
Sistem tanam paksa ini dilaksanakan dalam rangka menambal kekosongan kas keuangan pemerintah kolonial Belanda. Adapun salah satu komoditi yang diwajibkan dalam tanam paksa adalah tanaman tebu. Hal itu kemudian mendorong naiknya jumlah perkebunan tebu dan pabrik gula di Jawa.
Salah satu wilayah di Jawa yang marak muncul pabrik gula adalah Kediri. Pada era itu, banyak orang dari Jawa Tengah pindah ke Jawa Timur karena tergiur menggarap kebun tebu sebagai mata pencaharian baru.
Munculnya UU Gula atau Suikerwet menjadi penyebab utama munculnya pabrik gula di berbagai wilayah di Jawa. UU Gula merupakan sebuah peraturan yang dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda dalam menghapus kewajiban tanaman tebu untuk diekspor ke luar negeri.
Melalui UU Gula pun membuka kesempatan bagi pemegang modal atau investor untuk membangun industri gula di wilayah jajahan Belanda, terutama Jawa. Hasilnya, banyak pabrik gula yang muncul di Jawa.
Faktor lain yang menjadi penyebab maraknya pabrik gula di Jawa adalah dukungan tanah subur. Perkembangan gula dan pabriknya di Jawa, didukung oleh iklim dan tanah yang cocok untuk penanaman tebu.
Di Jawa, saat itu, memiliki daerah yang panas dengan curah hujan yang cukup. Hal itu kemudian menimbulkan maraknya pabrik gula di Jawa. Pada 1914, tercatat ada 191 pabrik gula. Lalu, pada1925, terjadi peningkatan menjadi 200 pabrik gula di Jawa.
Pembangunan rel kereta api Penyebab lain mengapa banyak pabrik gula di Jawa adalah pembangunan jalur atau rel kereta api. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, pemerintah kolonial Belanda membangun jaringan kereta api.
Pembangunan jaringan kereta api tersebut menghubungkan antarkota maupun dalam kota. Mulai saat itu, transportasi yang berbasis swasta tersebut mencoba peruntungan. Saat itu, kereta menjadi alat transportasi penting dalam mengangkut tebu ke pabrik dan juga memasarkannya.
Begitulah, terlepas dari banyaknya komentar terkait film Pabrik Gula (2025), penting untuk tahu mengapa banyak pabrik gula di Jawa. Selamat membaca.