TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON – Upaya koalisi ekonomi BRICS yang beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan untuk menjegal dollar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan global terhambat oleh sikap Arab Saudi.
Arab Saudi dan sejumlah menolak agenda BRICS mengganti dolar AS dengan mata uang lokal dalam transaksi jual-beli minyak.
BRICS merasa kesulitan untuk meyakinkan negara-negara lain untuk menggunakan mata uang lokal untuk perdagangan minyak, lantaran penyelesaian pembayaran minyak dalam mata uang lokal dianggap menimbulkan risiko signifikan yang dapat mempengaruhi cadangan devisa suatu negara.
Negara-negara pengimpor minyak menilai ketika mata uang lokal digunakan untuk transaksi minyak, ada risiko bahwa negara tersebut akan kesulitan memenuhi kewajiban pembayaran jika mata uang mereka terdepresiasi terhadap dolar AS.
Ancaman Ini tentunya dapat memengaruhi keseimbangan pembayaran yang pada gilirannya dapat mengurangi cadangan devisa negara tersebut.
Alasan tersebut yang membuat Arab Saudi menolak usulan BRICS, memilih untuk menerima dolar AS sebagai alat pembayaran minyak.
Hal senada juga turut dilakukan para pemasar dan distributor minyak di Nigeria, anggota baru BRICS ini menegaskan bahwa mereka menolak mata uang lokal untuk minyak dan memilih dolar AS sebagai gantinya.
Negara-negara berkembang lainnya seperti India juga mulai menjaga jarak dari agenda de-dolarisasi karena tidak memiliki landasan ekonomi yang cukup kuat untuk menggantikan dollar AS.
Meski India merupakan salah satu anggota utama BRICS, namun negara Bollywood ini secara terbuka menegaskan bahwa mereka tidak akan meninggalkan dollar AS dalam perdagangan internasional.
“India telah menyampaikan pendiriannya kepada otoritas AS dalam diskusi bilateral. India menegaskan tidak akan ikut serta dalam agenda BRICS untuk menyingkirkan dollar AS,” tegas Menteri Luar Negeri India, S Jaishankar, saat berbicara di Parlemen India.
Menyusul yang lainnya Brasil, yang saat ini menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-17 juga mengatakan kepada Reuters bahwa negara mereka tidak akan mengejar gagasan mata uang bersama BRICS dalam waktu dekat.
Meski begitu Kepemimpinan BRICS Brasil tahun ini akan fokus pada pelonggaran pembayaran internasional dengan cara mempelajari teknologi seperti blockchain dan menghubungkan sistem pembayaran untuk memangkas biaya transaksi.
Hal ini diungkap oleh empat pejabat pemerintah setempat dengan tujuan mengurangi ketegangan yang terjadi antara Brasil dengan AS.
Trump Gertak BRICS
Kendati upaya BRICS untuk menjegal dollar dalam perdagangan global masih mengalami hambatan, namun Rusia, China, dan Iran yang masih gencar mendorong de-dolarisasi. Ketiga negara itu berharap mata uang lokal mereka bisa menjadi alternatif dollar AS di pasar internasional.
Mengantisipasi terjadinya dedolarisasi atau pengurangan penggunaan dolar AS dalam transaksi internasional, Presiden terpilih AS Donald Trump mulai merilis ancaman.
Berupa pengenaan tarif 100 persen kepada semua anggota kelompok ekonomi pimpinan Rusia itu yang menyetujui perilisan mata uang baru dengan tujuan menyingkirkan Dolar AS dari perdagangan dan investasi pasar global.
"Kami akan meminta komitmen dari negara-negara yang tampaknya bermusuhan ini bahwa mereka tidak akan menciptakan mata uang BRICS yang baru atau mendukung mata uang lain untuk menggantikan Dolar AS yang perkasa atau mereka akan kena tarif 100 persen," Kata Trump dalam unggahannya di Truth Social, dikutip dari DW.
Ancaman Trump ini bagian dari kebijakan keras Trump terhadap negara-negara yang dianggap mengancam posisi AS di pasar global, menunjukkan keseriusan Trump dalam mempertahankan dominasi dolar AS sebagai mata uang cadangan internasional.
(Tribunnews.com / Namira)