TRIBUNSUMSEL.COM -- Ada doa Lafal niat puasa Syawal yang dapat kita amalkan menurut waktu kapan lafal niat ini dibacakan.
Berikut bacaannya
Niat puasa Syawal di malam hari:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ
Artinya:
“Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah swt.”
Bagi seseorang yang tiba-tiba ingin melaksanakan puasa sunnah Syawal di pagi hari, diperbolehkan untuk berniat saat itu juga, selama ia belum makan, minum, atau melakukan hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak subuh.
Niat puasa Syawal saat sahur atau saat terbangun sebelum subuh:
نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ
Artinya:
“Aku berniat puasa sunnah Syawal hari ini karena Allah SWT.”
Sunnah Puasa Syawal 6 Hari
Setelah Ramadhan tibalah bulan Syawal. Salah satu keutamaan bulan Syawal yakni adanya sunnah berpuasa 6 hari di bulan Syawal.
Ini tentu menjadi kesempatan emas untuk meraih pahala berlipat ganda melalui ibadah puasa sunnah.
Dari Abu Ayyub Al-Anshary radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Arab latin :
Man shoma ramadhona tsumma atsba'ahu sitan min syawwaali kaana kashiyamaddahri
Artinya:
Rasulullah SAW bersabda : "Barang siapa berpuasa Ramadhan lalu melanjutkannya dengan puasa enam hari di bulan syawal, maka setara dengan puasa sepanjang tahun," HR Muslim No 1164
Dilansir dari laman nu.or.id, ketika berniat puasa, seseorang harus memiliki maksud (qashad) dalam hatinya, yaitu untuk berpuasa.
Selain itu, ia juga perlu menentukan status hukum ibadah yang akan dilakukan, apakah wajib atau sunnah (ta’arrudh), serta menyebutkan nama ibadahnya (ta’yin).
Dalam konteks puasa sunnah Syawal, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai keharusan ta’yin. Sebagian ulama berpendapat bahwa seseorang harus secara spesifik menyebutkan ‘puasa sunnah Syawal’ dalam niatnya. Namun, sebagian ulama lainnya berpandangan bahwa ta’yin tidaklah wajib.
Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami menjelaskan bahwa secara umum, para ulama Syafi'iyah menganjurkan untuk menyebutkan nama puasa (ta’yin) dalam puasa sunnah rutin seperti puasa Arafah, Asyura, ayyamul bidh, dan enam hari di bulan Syawal, serupa dengan penyebutan nama dalam salat sunnah rawatib.
Akan tetapi, dijawab bahwa puasa pada hari-hari tersebut sudah terikat dengan waktunya. Bahkan, jika seseorang berniat puasa lain pada waktu tersebut, ia tetap mendapatkan keutamaan puasa sunnah rutin tersebut, seperti halnya shalat tahiyatul masjid.
Bahkan, orang yang mengqada puasa wajib atau menunaikan nazar puasa di bulan Syawal juga akan memperoleh keutamaan yang sama seperti orang yang melaksanakan puasa sunnah Syawal.
Karena besarnya keutamaan puasa ini, bagi yang berhalangan melaksanakannya di bulan Syawal, dianjurkan untuk mengqadanya di bulan lain, sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab klasik seperti Nihayatuz Zain karya Syekh Nawawi al-Bantani.
Demikian penjelasan tentang Niat Puasa Syawal dan Artinya, Nawaitu Shauma Hadzal Yaumi An Adai Sunnatis Syawwali Lillahi TaalaSyawal. Semoga bermanfaat. (lis/berbagai sumber)