TRIBUNNEWS.COM - Kelompok Houthi di Yaman tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah meski sudah digempur oleh Amerika Serikat (AS) dan sekutunya.
Houthi bahkan mengklaim akan terus menyerang kapal perang AS di Laut Merah. Serangan itu dimulai sejak perang di Jalur Gaza meletus tanggal 7 Oktober 2023.
AS meminta Houthi untuk berhenti menyerang kapal-kapal terafiliasi Israel di Laut Merah. Namun, Houthi memilih mengabaikannya.
Houthi terus menargetkan kapal dan bahkan meningkatkan serangan ke Israel dalam dua minggu terakhir dengan belasan rudal balistik.
Media besar Israel The Jerusalem Post mengakui ketangguhan Houthi dan menyebutnya belum akan berhenti.
"Pertanyaannya apa yang akan terjadi selanjutnya. Houthi tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Mereka berupaya memasang wajah berani dalam upaya mereka," kata media itu.
"Kenyataannya ialah bahwa Houthi tidak punya banyak senjata dan mereka tampaknya tidak bisa merusak kapal perang AS."
Media Israel itu mengatakan Houthi tidak perlu melakukan banyak hal agar bisa bertahan dari serangan AS.
"Houthi bisa bersembunyi di gua dan bunker, dan tidak jelas bagaimana mereka akan dikalahkan dalam jangka panjang."
"Mereka bisa memilih untuk menuntut perdamaian dan sepakat untuk menghentikan serangan. Namun, tidak jelas apakah hal itu akan membuat malu mereka. Houthi sukses melawan Arab Saudi tahun 2015 hingg 2022."
Arab Saudi ikut campur dalam persoalan di Yaman dengan cara mendukung pemerintahan Yaman untuk melawan Houthi. Dengan bantuan Iran, Houthi lalu melawan Arab Saudi. Hal itu menunjukkan bahwa Houthi tidak mudah untuk ditundukkan.
Adapun tanggal 3 April kemarin Houthi dilaporkan melancarkan serangan besar terhadap kapal perang AS di Laut Merah. Salah satu yang kapal yang diserang adalah kapal induk USS Harry S. Truman.
Houthi mengklaim serangan itu adalah balasan atas serangan AS di Yaman.
"Serangan AS yang menargetkan bangunan manajemen air di Distrik Al Mansouriyah di Provinsi Hudaydah dengan beberapa serangan pada hari Kamis menyebabkan tiga orang tewas dan dua terluka, kebanyakan adalah pegawai," kata Houthi,
"Operasi militer kami untuk melawan AS akan berlanjut, menargetkan kapal perangnya di zona operasional yang dideklarasikan."
Menurut Houthi, pihaknya menggunakan sejumlah rudal penjelajah dan drone atau pesawat tanpa awak dalam serangan terhadap USS Harry S. Truman.
Di samping itu, Houthi juga mengaku akan terus menargetkan kapal Israel yang berlayar di Laut Merah. Serangan itu baru akan berhenti jika perang di Gaza diakhiri.
Tempo hari Houthi kembali berhasil menjatuhkan drone MQ-9 Reaper milik AS.
Dalam pernyataanya pada hari Senin kemarin, Houthi menyebut drone itu merupakan MQ-9 ke-16 yang dijatuhkan pihaknya sejak perang di Jalur Gaza meletus tanggal 7 Oktober 2023.
"Sebagai balasan atas agresi militer Amerika terhadap negara kami, sistem pertahanan udara kami berhasil menembak jatuh satu drone MQ-9 saat melanjakan misi permusuhan di langit Provinsi Ma'arib dengan rudal buatan lokal yang sesuai," kata Houthi dikutip dari Press TV.
Reaper adalah drone yang sangat mahal karena bernilai $32 juta atau sekitar setengah triliun rupiah.
Sudah ada enam belas Reaper yang dihancurkan Houthi. Oleh karena itu, kerugian AS mencapai Rp8 triliun.
Reaper rawan dijatuhkan oleh musuh-musuh AS. Drone ini bahkan kerap menjadi korban Houthi.
Reaper mampu terbang hingga ketinggian 15.240 meter dan terbang di udara selama 24 jam. Drone ini adalah aset yang sangat penting bagi militer AS dan operasi Intelijen.
(*)