Apindo Sebut Ekspor CPO RI ke AS Bakal Terdampak Perang Tarif Trump
kumparanBISNIS April 03, 2025 08:20 PM
Kebijakan Presiden AS Donald Trump terkait tarif 32 persen ke Indonesia dinilai akan berdampak pada banyak sektor, salah satu ekspor Crude Palm Oil (CPO).
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyebut kebijakan tersebut akan mempengaruhi margin dan daya saing pelaku usaha yang masih mengandalkan pasar AS.
"Secara umum, dimungkinkan akan terjadi penyesuaian, baik dari sisi harga maupun kuantitas ekspor, terutama bagi eksportir yang belum melakukan diversifikasi pasar," kata Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani, kepada kumparan, Kamis (3/4).
Menurut Shinta, ekspor CPO merupakan salah satu komoditas ekspor utama ke AS. Meski demikian, ekspor minyak sawit mentah Indonesia ke pasar AS bukan merupakan volume terbesar secara global, jika dibandingkan dengan ekspor ke India, Tiongkok, atau Pakistan.
Dilanjut Shinta, situasi penerapan tarif impor AS ini mesti dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat hilirisasi industri sawit, meningkatkan penetrasi ke pasar selain AS, dan mempercepat transisi dari ekspor bahan mentah ke produk turunan bernilai tambah seperti oleokimia dan bioenergi.
"Dunia usaha berharap agar bersama-sama dengan pemerintah kita terus jaga stabilitas iklim usaha di tengah dinamika global, dengan mengedepankan dialog dan kolaborasi erat antara berbagai pemangku kepentingan, termasuk regulator dan pelaku usaha," lanjut dia.
Perbesar
Presiden Donald Trump menunjukkan grafik tarif impor baru saat "Make America Wealthy Again" di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (2/4/2025). Foto: Brendan Smialowski/AFP
Di kesempatan yang berbeda, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengungkapkan ekspor minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) RI ke Amerika Serikat (AS) bakal mengalami stagnasi akibat kebijakan tarif impor dari Presiden AS Donald Trump.
"Paling tidak akan terjadi stagnasi besaran ekspor ke US," kata Eddy Martono kepada kumparan, Kamis (3/4).
GAPKI berpotensi menggeser pasar tujuan ekspor di luar Amerika Serikat, seperti di Benua Afrika, Timur Tengah, dan Asia Tengah sebagai peluang pasar yang baru.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akhirnya mengumumkan tarif impor baru ke banyak negara yang menjadi dimulainya genderang perang dagang Trump, Rabu (2/4) malam waktu AS, lebih cepat dari jadwal sebelumnya pada Kamis (3/4) pagi. Dia menyebutnya sebagai 'Hari Pembebasan' atau 'Liberation Day'.
Nama negara yang pertama disebut Trump adalah China yang dikenakan tarif impor atau tarif imbal balik (resiprokal) 34 persen. Indonesia juga tidak luput dari target Trump. Dalam daftar yang dipegang Trump dalam konferensi pers, Indonesia kena tarif impor 32 persen.