TIMESINDONESIA, PONOROGO – Madumongso merupakan salah satu kue tradisional, atau jajanan lawas dengan cita rasa manis nan legit yang sering disajikan saat lebaran, kini kembali trend, dan banyak diminati masyarakat.
Banyak warga yang mencari jajanan ini, sehingga para pengusaha madumongso pun kebanjiran order. Salah satunya adalah Febyana Wijayanti, Pengusaha madumongso asal Desa Caluk Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo.
Feby panggilan akrabnya mengatakan, proses membuat kue itu tidak mudah. Rangkaian panjang pembuatan jajanan yang berbahan baku ketan hitam dan ketan putih itu diawali dengan ketan yang difermentasikan dulu, hingga sekitar dua hari. Setelah menjadi tape, ketan lalu dimasak dengan campuran santan serta gula kelapa.
"Masaknya dengan api kecil sampai delapan jam. Gunanya, agar masaknya maksimal dan tahan lama," katanya.
Setelah masak pun, tidak bisa langsung dibungkus, melainkan harus didiamkan sekitar satu hari, sampai dingin. Setelahnya, seluruh kue yang telah dimasak itu dibungkus kecil-kecil dengan plastik serta aneka kertas pembungkus.
Ciri khas madumongso yang dibuat oleh Feby adalah rasanya yang manis, legit, dan ada sedikit rasa asam.
"Saya masih fokus untuk rasa madumongso yang alami, dengan manis dan gurih dari gula kelapa dan santan. Dan itu legend banget," sebutnya.
Feby juga mengaku, menjelang Idul Fitri tahun ini banyak sekali pesanan-pesanan, "Biasalah, menjelang lebaran pesanan cukup banyak," ujarnya.
Mendekati lebaran yang sudah di depan mata, Feby mengaku pesanan semakin banyak. Untuk harga, ia mengatakan relatif terjangkau. Harga madumongso dengan kemasan isi 15 biji, dihargai Rp12.000, kemasan isi 20 dihargai Rp16.000, kemasan isi 18 (dengan bungkus kertas) dihargai Rp16.000. Sementara, untuk yang bungkus besar isi 48 dihargai dengan Rp40.000 per bungkus. (*)