Sejarah Gedung Grahadi yang Dibakar Massa, Saksi Bisu Surabaya Punya Arti Nama 'Rumah Indah'
Arie Noer Rachmawati August 31, 2025 08:32 AM

TRIBUNJATIM.COM - Gedung Negara Grahadi Surabaya dibakar massa pada Sabtu (30/8/2025) malam.

Massa membakar Gedung Negara Grahadi tepatnya di sisi barat tempat ruang kerja Wakil Gubernur Jawa Timur.

Api berkobar makin besar dan merembet di ruang-ruang di sampingnya termasuk Ruang Kepala Biro Umum Setdaprov Jawa Timur.

Juga di merembet ruangan press room yang ada tepat di belakang ruang Wagub Jawa Timur. 

Gedung Grahadi sendiri dikenal sebagai salah satu bangunan ikonik yang ada di Kota Surabaya.

Tak hanya menjadi bangunan cagar budaya, Gedung Negara Grahadi kini difungsikan sebagai Rumah Dinas Gubernur Jawa Timur.

Lokasi Gedung Grahadi berada di Jalan Gubernur Suryo, Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya.

Dilansir dari laman Kompas.com, nama Gedung Grahadi berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti rumah indah.

Selain karena keindahan fasad dan arsitekturnya, daya tarik Gedung Negara Grahadi yang menjadi saksi bisu perkembangan Kota Surabaya adalah dari sisi sejarah.

Gedung Negara Grahadi.
Gedung Negara Grahadi. (via KOMPAS.com)

Sejarah Gedung Negara Grahadi

Sebelum dibangun, lahan seluas 16.284 meter persegi di tepi Kalimas ini awalnya merupakan milik seorang Tionghoa.

Tanah tersebut kemudian dibeli pemerintah dengan ganti rugi segobang atau 1,5 sen.

Dibangun pada tahun 1795, gedung yang megah ini menghabiskan dana pembangunan sekitar 14.000 ringgit.

Bangunan ini mulanya digunakan sebagai tempat tinggal Dirk van Hogendoorp, seorang penguasa tunggal Jawa bagian timur (Gezahebber van Hat Oost Hoek).

Selanjutnya, gedung ini ditempati Fredrik Jacob Rothenbuhler pada sekitar tahun 1799-1809.

Di masa itu, tepatnya pada 1802 arah hadap gedung yang mengarah ke Kalimas di sebelah utara dipindah menghadap ke selatan.

Semula, arah hadap gedung ke Utara menghadap Kalimas sehingga penghuni bisa menikmati pemandangan lalu lintas perahu sambil minum teh di sore hari.

Namun kemudian arah hadap gedung diubah menjadi ke selatan yang menghadap ke arah jalan.

Jadi Rumah Dinas

Selanjutnya, renovasi gedung ini dilakukan pada tahun 1810 di masa pemerintahan Herman William Deandels, yang mengubahnya menjadi empire style atau Dutch Collonial Villa.

Pada 1870, gedung ini resmi menjadi rumah bagi Residen Surabaya.

Saat pendudukan Jepang, gedung ini juga digunakan sebagai rumah bagi Gubernur Jepang (Syuuchockan Kakka).

Gedung ini sempat menjadi tepat bersidang Raad Van Justitie (Pengadilan Tinggi), bahkan dimanfaatkan sebagai lokasi pesta dan resepsi dansa.

Hingga saat ini, Gedung Negara Grahadi digunakan sebagai rumah dinas Gubernur Jawa Timur.

Para presiden RI juga menjadikan gedung ini sebagai tempat peristirahatan dan singgah saat mereka melakukan kunjungan kerja di Surabaya dan sekitarnya.

GEDUNG BERSEJARAH - Potret Gedung Negara Grahadi yang menjadi saksi bisu perkembangan Kota Surabaya. Kini Gedung Grahadi dibakar massa pada Sabtu (30/8/2025). (Tribun Jatim/Sofyan Arif Candra Sakti)

Fakta Unik Gedung Grahadi

Gedung Grahadi juga memiliki sejumlah fakta unik, di antaranya:

1. Berkonsep Tuinhuis

Pada awalnya Grahadi berkonsep Tuinhuis yaitu konsep rumah indah yang dikelilingi taman bunga.

Selain itu Grahadi juga menerapkan gaya Oud Hollandstijl (gaya belanda kuno). Arsitek Grahadi adalah orang Belanda yang bernama Ir. W. Lemci.

2. Harganya cuma 2,5 sen

Luas tanah Grahadi 16.284 meter persegi, di tepi kalimas.

Sebelum dimiliki pemerintah, tanah ini milik seorang Tionghoa dan dibeli pemerintah dengan ganti rugi segobang atau 2,5 sen.

Untuk pembangunan gedungnya pada tahun 1795 menghabiskan dana 14.000 ringgit

3. Pindah Pintu Utama

Pada awal pembangunan, Grahadi menghadap ke Utara.

Hal itu dimaksudkan agar bisa menikmati pemandangan sungai Kalimas yang ramai dengan perahu-perahu sebagai alat transportasi.

Namun semenjak yahun 1802 diganti menghadap ke Selatan atau ke jalan Gubernur Suryo seiring dengan renovasi bagian depan.

4. Beberapa kali berganti fungsi

Grahadi pertama dibangun untuk kediaman penguasa tunggal (Gezaghebber) Belanda Dirk Van Hogendrop.

Namun semenjak penguasaan Gubernur Jendral Inggris Daendels ia menjadikan gedung tersebut menjadi istana.

Setelah beberapa tahun, gedung Grahadi berubah fungsi menjadi tempat bersidang Raad Van Justitie (Pengadilan Tinggi), dipakai juga untuk pesta, resepsi dansa, dan lain-lain.

5. Penuh Sejarah Kenegaraan

Grahadi pernah menjadi tempat perundingan Presiden Soekarno dengan Jendral Hawtorn pada Oktober 1945.

Pertemuan itu untuk mendamaikan pertempuran pejuang dengan pasukan sekutu.

Gubernur Suryo yang merupakan gubernur ke 6 Jawa Timur juga pernah menolak ultimatum menyerah tanpa syarat pada Inggris, dan akhirnya meninggal keesokan harinya meninggal di Grahadi.

Para presiden RI menjadikan Grahadi tempat peristirahatan dan singgah ketika mereka punya urusan di Surabaya dan sekitarnya.

Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah presiden yang paling sering tidur di Grahadi, selain itu Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono juga beberapa kali sempat tidur di Gedung Kenegaraan ini.

6. Nonik Penunggu Grahadi

Di kalangan pegawai yang bekerja di Grahadi, mereka berujar ada yang sering diganggu oleh mahkluk halus.

"Ada nonik Belanda yang sering menampakkan diri ke pegawai kami yang jaga malam," ujar Zaenal, seorang pegawai Grahadi, Senin (6/2/2017).

Ia juga berujar bahwa nonik tersebut datang dengan dandanan yang berbeda-beda.

"Mungkin tergantung suasanan hatinya dia ya, kalau marah kadang pakai long dress merah, kadang putih, pokoknya berganti-ganti." tutupnya. (Sofyan Arif Candra Sakti)

© Copyright @2025 LIDEA. All Rights Reserved.