Empunya Digelari Pahlawan Nasional, Bagaimana Kondisi Rumah Cendana Istana Soeharto Selama Berkuasa Sekarang?
Moh. Habib Asyhad November 28, 2025 02:34 PM

Alih-alih tinggal di Istana Presiden, selama menjabat Soeharto lebih memilih tinggal di sebuah rumah yang belakangan dikenal sebagai Rumah Cendana. Bagaima kabar rumah itu sekarang?

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Pada 10 November 2025 lalu, Soeharto dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Selama berkuasa, pria kelahiran Kemusuk, Yogyakarta, itu begitu identik dengan Rumah Cendana.

Lalu bagaimana kondisi Rumah Cendana sekarang?

Soeharto, presiden Indonesia ke-2, dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2025 lalu. Menurut Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, alasan pemberian gelar kepada Seoharto itu adalah sebagai bentuk penghormatan terhadap para pendahulu yang berjasa bagi bangsa dan negara Indonesia.

"... terutama para pemimpin kita, yang apa pun sudah pasti memiliki jasa yang luar biasa terhadap bangsa dan negara," ujar Prasetyo.

Tiga dasawarsa Soeharto memimpin Indonesia. Selama menjadi presiden, Soeharto memitih tidak tinggal di Istana Presiden, tapi di sebuah rumah di Menteng, yang berada di Jalan Cendana, yang kelak di kemudian hari dikenal sebagai Rumah Cendana.

Menurut beberapa sumber, Soeharto mulai tinggal di rumah Cendana sejak 1968. Ketika itu, mantan panglima Divisi Diponegoro itu baru saja dilantik sebagai Presiden RI ke-2 pada 27 Maret 1968.

Sebelum di Rumah Cendana, Soeharto tinggal di Jl. Agus Salim, Jakarta Pusat. Tapi menurut para pengawal kepresidenan, rumah itu tak aman karena ada gedung tinggi di belakangnya. Khawatirnya, sewaktu-waktu ada penembak jitu yang membidik keluarga presiden. Jadi, bukan karena unsur mistis Jawa ya.

“Saya mengambil keputusan ini semata-mata demi kepentingan dan kebaikan keluarga. Untuk kepentingan anak-anak, agar tidak terpisahkan dari masyarakat, saya memilih tinggal di luar istana,” ujar Soeharto, sebagaimana dikutip dari buku Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya.

Kenapa tidak tinggal di istana saja, menurut Soeharto, tinggal di istana akan menyulitkan keluarganya bergaul dengan masyarakat luas. Di Cendana, katanya, walau dijaga ketat masih lebih longgar ketimbang orang masuk istana.

Di rumah Jl. Agus Salim ada cerita menarik. Menurut pengakuan mantan Pengawal Soeharto Kapten Eddie Nalapraya, dirinya pernah memasang ranjau anti-tank di jalan menurut rumah Soeharto. Ranjau itu akan dia ledakkan jika sewaktu-waktu ada yang hendak menyerang.

Lalu bagaimana kabar Rumah Cendana sekarang?

Sebagaimana dilansir Tribunnews.com, suasana sepi dan lapuk menyelimuti Rumah Cendana – maksudnya rumah di Jalan Cendana nomor 6 hingga 8 – ketika empunya, Soeharto, dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, Senin, 10 November 2025 lalu. Rumah itu juga tampak usang dan terlihat beberapa bagian plafon bolong.

Di balik pagar besi yang mulai berkarat, rumah Cendana yang pernah menjadi pusat kekuasaan selama 32 tahun itu kini berdiri dalam keheningan. Tapi itu dulu, sekarang, rumah besar itu hanya meninggalkan kenangan. Sepi.

Dilihat dari depan, pagar setinggi sekitar 1,5 meter memisahkan rumah dengan Jalan Cendana. Cat putih pada pagar telah memudar, dan karat mulai menjalar di bagian penguncinya. Di balik pagar rumah, pohon-pohon besar masih rimbun, memberi kesan rindang yang kontras dengan suasana sunyi.

Rumah berarsitektur gaya lama itu masih mempertahankan warna hijau militer khas Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), dipadu putih di bagian pilar. Genting rumah terlihat memudar, beberapa bagian bahkan mulai amblas.

Pos penjagaan di bagian depan dan samping rumah masih berdiri, dengan tembok hijau menyerupai pos militer. Di teras, patung Kartika Eka Paksi—lambang TNI AD yang menggambarkan kekuatan dan kesetiaan—masih terpajang. Namun, plafon rumah banyak yang lapuk dan berlubang.

Di salah satu sudut, terlihat sarang burung di dekat paralon. Beberapa kendaraan roda dua dan empat masih terparkir, sepertinya milik para penjaga dan pengurus rumah. Salah satunya adalah Slamet.

Slamet masih setia menjaga rumah itu. Pria sepuh itu menyambut Tribunnews dengan senyum tipis. Dia telah lama menjaga rumah tersebut. “Kalau di sini, keadaan seperti ini aja, rumah tidak berubah, paling tambah rusak doang,” ujar Slamet.

Slamet tak mengizinkan wartawan masuk ke dalam rumah. Dia hanya menyebut bahwa rumah itu kini hanya dihuni oleh penjaga.

Menurut Slamet, enam anak Soeharto sudah lama tak datang ke rumah Cendana, terutama sejak pandemi Covid-19. Kehadiran keluarga besar Soeharto di rumah itu kini tinggal cerita. “Dulu waktu sebelum Covid, biasanya ngumpul pas lebaran. Sekarang sudah enggak ada yang ke sini,” kata Slamet.

Dia bilang, anak-anak Soeharto dulu masih sering datang karena ada Prabosutedjo, adik Soeharto, yang dianggap sesepuh. Namun sejak Prabosutedjo meninggal pada 2018 lalu, rumah itu tak lagi jadi tempat berkumpul. “Ya, masih ada sesepuhnya (dulu). Semenjak Pak Prabosutedjo almarhum, wacana mau jadi museum kan, akhirnya beliau almarhum, ya sudah. Enggak ada yang dituakan lagi,” jelas Slamet.

Hingga kini, belum ada keputusan resmi terkait wacana museum tersebut. Meski begitu, Slamet tetap merawat rumah, meski tak seintensif dulu. Dia mengaku senang ketika Soeharto dianugerahi gelar pahlawan nasional.

“Ya kalau kita sih senang-senang aja ya. Namanya juga kita menghormati, bagaimanapun juga bos kita, pemimpin kita zaman itu. Terlepas dari plus minusnya, namanya manusia kan, pasti ada plus minusnya. Pro dan kontra itu pasti ada,” tuturnya.

Soeharti dianugerai gelar Pahlawan Nasional oleh negara melalui Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2025. Gelar pahlawan nasional diberikan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam upacara kenegaraan di Istana Negara.

Tak hanya Soeharto, gelar pahlawan nasional juga dianugerahkan kepada sembilan tokoh lainnya dari berbagai latar perjuangan. Mereka adalah Marsinah, aktivis buruh dari Jawa Timur; Abdurachman Wahid (Gus Dur), Presiden ke-4 RI; Mochtar Kusumaatmadja, ahli hukum internasional; serta Hajjah Rahma El Yunusiyyah, tokoh pendidikan dari Sumatera Barat.

Nama-nama lainnya meliputi Jenderal Sarwo Edhie Wibowo, Sultan Muhammad Salahuddin dari NTB, Syaikhona Muhammad Kholil, Tuan Rondahaim Saragih, dan Zainal Abisin Syah dari Maluku Utara. Penganugerahan ini mencerminkan keberagaman kontribusi para tokoh terhadap bangsa, dari perjuangan kemerdekaan, pendidikan, hingga hak-hak pekerja.

Di sisi lain, Rumah Cendana dalam kondisi murung – karena sudah tak dilirik lagi. Rumah yang dulu menjadi pusat kekuasaan selama tiga dekade kini berubah menjadi ruang kenangan yang dijaga oleh mereka yang masih setia.

Rumah itu sudah tak lagi didatangi keluarga besar Soeharto yang dulu memenuhinya, rumah ini berdiri dalam keheningan. Dari pagar berkarat hingga genting yang amblas, setiap sudut menyimpan jejak masa lalu yang perlahan memudar, namun tetap berbicara tentang sejarah yang pernah hidup di dalamnya.

Menjadi saksi Ibu Tien terkena serangan jantung

Selain menyimpan kenangan indah, Rumah Cendan juga menjadi saksi kepiluan. Di rumah inilah Siti Hartinah Soeharto alias Ibu Tien Soeharto mengembuskan napas terakhir setelah mendapat serangan jantung pada pertengahan 1996. Di rumah itulah air mata Soeharto akhirnya tumpah.

28 April 1996 pagi, di Rumah Cendana itu, Ibu Tien terkena serangan jantung. Sempat dibawa ke RSPAD Gatot Subroto, perempuan berdarah bangsawan itu akhirnya mengembuskan napas terakhirnya pada 05.10 WIB.

Soeharto tentu tak kuasa menahan duka. Dia beberapa kali mengusapkan sapu tangannya ke wajah untuk menghapus air mata.

Kisah sedih ini turut disaksikan oleh Satyanegara, dokter ahli bedah saraf yang juga anggota Tim Dokter Kepresidenan. Pagi itu, Satya tiba di rumah duka di Jalan Cendana sekitar pukul 07.00 WIB. Dia melihat jenazah Ibu Tien dibaringkan di ruang tamu.

Satya masuk untuk menyampaikan belasungkawa. Di situ Soeharto memeluk erat dirinya.

“Pak Harto memeluk saya, kemudian berkata sangat perlahan, ‘Piye to, kok ora iso ditolong...?’ (Bagaimana, kok tidak bisa ditolong?)'," tutur Satya, sebagaimana tertulis dalam buku Pak Harto, The Untold Stories terbitan Gramedia Pustaka Utama (2011).

Mendengar Soeharto, Satya tidak mampu mengucapkan satu kata pun. Dia turut merasakan kesedihan Soeharto lewat air mata yang diteteskan oleh pria Kemusuk itu.

“Saya hanya tertegun, turut merasakan dalamnya kepiluan di hati Pak Harto," tutur pria yang mendapat gelar doktor bidang neurologi dari Universitas Tokyo pada 1972 itu.

Satya masih merawat Soeharto hingga penguasa Orde Baru itu tak lagi berkuasa. Bagi Satya, Soeharto adalah sosok yang disiplin. Dia terkagum-kagum pada kegigihan Soeharto ketika berjuang melawan stroke yang dideritanya.

“Ketika Pak Harto terkena stroke, setiap hari saya menyaksikan beliau berusaha mengatasinya dengan keuletan dan disiplin yang tinggi," kata Satya.

Menurut penuturan Satya, salah satu cara Soeharto berjuang melawan stroke adalah berusaha sekuat tenaga untuk kembali menggerakkan tangannya. "Pak Harto berusaha sekuatnya untuk segera bisa lagi menorehkan tanda tangannya, seutuh dan setegas saat ia belum stroke," kisah Satya.

Satya melihat Soeharto sebagai pasien yang istimewa. Menurutnya, Pak Harto mampu mengimbangi berbagai bentuk tindakan medis. "Seberapa pun berat dan menyakitkan—dengan kontrol diri dan mental yang hebat," kenang Satya. "Di usianya yang 80-an tahun, kekuatan fisik Pak Harto bagaikan mobil berkekuatan empat mesin turbo," tambah mantan Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Pertamina pada 1979-1998.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.