BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI – Serangan hama tikus yang melanda lahan jagung (zea mays) pada musim tanam 2024 lalu, sempat membuat banyak petani di Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan, merugi.
Namun kondisi itu justru menjadi titik balik bagi Samsiar, petani jagung sekaligus Kepala Desa Gunungraja, Kecamatan Tambangulang, yang berhasil menemukan cara alami dan efektif untuk menekan serangan tikus.
Caranya sederhana yaitu melalui pola tumpangsari jagung–waluh. Kedua jenis komoditas pertanian ini memiliki perbedaan karateristik dan masa panen, namun bisa saling memberikan manfaat.
Samsiar bercerita pada tahun lalu sebagian besar tanaman jagung miliknya rusak berat digasak tikus. Hama pengerat ini memakan hampir semua buah jagung yang siap dipetik.
Dalam situasi mendesak itu, ia mencari cara baru tanpa bergantung pada racun kimia yang berisiko merusak lingkungan dan membahayakan ternak. Apalagi saat itu penggunaan pestisida dan cara lain juga telah dilakukan namun tak mempan.
Langkah tumpangsari ia aplikasikan pada tanaman jagungnya yang lain yang masih kecil dan belum diserang tikus. Di sela larikan jagung, ia menanam waluh (cucurbita).
Waluh ditanam memanjang dengan jarak sekitar lima meter, hanya pada larikan tertentu. Hasilnya tak disangka. Ketika lahan lain milik petani sekitar mengalami kerusakan parah akibat tikus, kawasan jagung Samsiar justru aman.
“Tanaman jagung saya terhindar dari serangan tikus. Karena berhasil, tahun ini saya lakukan lagi,” ujar Samsiar, Minggu (30/11/2025).
Menurut pengamatannya, waluh dengan aroma dan kanopinya menciptakan lingkungan yang tidak disukai tikus, sehingga hama perusak itu enggan mendekati tanaman jagung.
Kembali Diterapkan di 3 Hektare Lahan
Kini, ketika tanaman jagungnya telah berusia 55 hari dan mulai muncul janten (bakal tongkol), Samsiar kembali mempersiapkan pola yang sama. Daun jagung pada larikan yang akan ditanami waluh ditebas agar jalur tanam lebih terbuka.
Senin besok, Samsiar berencana mulai menanam waluh, dibantu beberapa buruh tani untuk mempercepat proses di lahan seluas tiga hektare.
“Usia panen jagung pakan ini 120 hari, sementara waluh 80–90 hari. Jadi nanti jagung panen, waluh juga panen,” jelasnya.
Selain aman dari hama, tumpangsari ini juga memberi nilai ekonomi ganda. Ketika jagung dipanen sebagai pakan ternak, waluh dapat dijual sebagai komoditas konsumsi dan bahan pangan olahan, sehingga membantu penambahan pendapatan petani.
(banjarmasinpost.co.id/banyu langit roynalendra nareswara)