6 Daerah di Aceh, Sumut, Sumbar Darurat Banjir dan Longsor, Warga Butuh Bantuan Segera
Glery Lazuardi November 30, 2025 06:33 PM
Ringkasan Berita:
  • 6 daerah lumpuh di Aceh, Sumut, dan Sumbar akibat banjir dan longsor 26–29 November 2025.
  • Lebih dari 303 tewas, 279 hilang, dan 50 ribu mengungsi.
  • Kota Id di Aceh Timur lumpuh, listrik padam, internet mati, warga mulai kelaparan.
  • Aceh Tengah berada dalam situasi darurat: 7 hari terputus, krisis pangan diprediksi meluas dalam 48 jam.
  • Langsa & Singkil krisis, di mana air bersih sulit, stok beras dapur umum menipis, harga pangan melonjak.

TRIBUNNEWS.COM - Banjir dan longsor yang melanda Pulau Sumatra pada 26–29 November 2025 membuat tujuh daerah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat lumpuh. 

Lebih dari 50 ribu warga terpaksa mengungsi, ratusan jiwa tewas dan hilang, sementara kebutuhan mendesak berupa makanan, obat, dan tenda darurat belum sepenuhnya terpenuhi.

Berikut ini 6 daerah darurat banjir dan longsor di Sumatra

Aceh Timur Lumpuh, Kota Idi Terisolasi: Listrik Padam, Internet Mati, Warga Kelaparan

Banjir besar yang melanda Aceh Timur sejak Rabu (26/11/2025) membuat wilayah ini lumpuh total.

Kota Idi sebagai pusat aktivitas kabupaten masih terisolasi dan sulit diakses dari berbagai arah. Listrik padam, jaringan internet terputus, dan pasokan BBM dari semua jenis habis sejak dua hari terakhir.

Wartawan Serambi Indonesia, Maulidi Alfata, mengaku kesulitan berkomunikasi dan baru bisa mengirim laporan melalui ponsel rekannya.

“Di Aceh Timur listrik dipadamkan sejak hari Rabu kemarin, semenjak banjir mengepung Kota Idi. Saat ini Idi masih lumpuh, belum bisa kita melintas antar kabupaten,” ujarnya.

Kondisi semakin parah di Kecamatan Julok dengan ketinggian air mencapai dua meter.

Warga terpaksa berjalan kaki karena BBM tidak tersedia. Informasi sementara menyebutkan sejumlah korban jiwa, terutama dari Gampong Meunasah Puuk, Gampong Blang, dan Gampong Aceh, dengan ketinggian air mencapai tiga meter.

Di pusat Kota Idi, banyak ruko rusak akibat derasnya arus banjir. Jalan utama simpang empat Idi tidak bisa dilalui kendaraan.

Upaya pemerintah daerah menyalurkan bantuan juga terhambat. Bupati Aceh Timur sempat turun ke pedalaman, namun speedboat yang ditumpangi rusak dihantam arus banjir.

Muhammad bin Ishak, warga Idi, menyampaikan kondisi warga yang mulai kelaparan.

“Kami di Aceh Timur mulai kelaparan. Akses jalan putus. Sinyal hp hilang, listrik padam, kami terkurung karena ketinggian air sejak hari Selasa, 2 meter lebih,” katanya.

Data sementara mencatat sedikitnya delapan korban meninggal dunia di sejumlah kecamatan, termasuk Peunaron, Peureulak Barat, Peudawa, Ranto Peureulak, Banda Alam, dan Idi Tunong. Jumlah korban diperkirakan bertambah karena banyak wilayah belum bisa dijangkau tim penyelamat.

Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky bahkan mengajukan permintaan langsung kepada Presiden Prabowo agar bantuan sembako dikirim melalui helikopter.

Surat permohonan bantuan beras kepada Bulog juga beredar di media sosial, menegaskan kondisi darurat pangan di wilayah tersebut.

Pemerintah Aceh menegaskan fokus penanganan darurat saat ini adalah percepatan evakuasi, pembukaan akses, dan distribusi logistik.

Banjir besar ini disebut sebagai salah satu yang terparah dalam satu dekade terakhir di Aceh Timur.

Stok Beras Dapur Umum di Anak Laut Aceh Singkil Menipis

Korban banjir di Danau Anak Laut, Desa Gosong Telaga Barat, Kecamatan Singkil Utara, Kabupaten Aceh Singkil, masih mengandalkan dapur umum untuk makan.

Namun stok beras di dapur umum yang dibangun di pinggir jalan semakin menipis dan diperkirakan hanya cukup untuk sekali masak lagi.

“Beras sudah menipis sekali masak lagi sore ini,” kata Rajab, salah satu warga di dapur umum Anak Laut.

Warga di Anak Laut terisolir akibat jalan putus di dua titik perbatasan masuk dari arah Singkil.

Kondisi ini membuat dapur umum tidak hanya melayani penduduk Anak Laut, tetapi juga korban banjir dari desa-desa sekitar Kecamatan Singkil.

Untuk makan pagi, pembagian nasi bahkan dibatasi agar bisa terbagi merata kepada semua korban.

Korban banjir berharap ada tambahan bantuan beras untuk dapur umum, mengingat mereka tidak bisa langsung mencari nafkah setelah banjir surut karena akses jalan masih terputus.

Untuk keluar masuk Anak Laut menuju Singkil, ibu kota Kabupaten Aceh Singkil, warga harus menggunakan jembatan darurat dan rakit.

Situasi semakin sulit karena bahan bakar minyak mulai langka, sehingga warga kesulitan membeli sembako dari luar daerah.

Kondisi ini menambah beban masyarakat yang sudah empat hari terjebak banjir.

Aceh Tengah 7 Hari Terisolasi, Logistik Terputus, Warga Terancam Krisis Pangan

Kabupaten Aceh Tengah kini memasuki fase darurat kemanusiaan setelah tujuh hari berturut-turut dilanda bencana hidrometeorologi.

Seluruh akses jalan dari berbagai arah putus total, jaringan komunikasi terputus, dan aliran listrik padam, membuat wilayah ini terisolasi sepenuhnya.

Kabag Prokopim Aceh Tengah, Rahmat Hidayat, S.STP, M.Si, menyebutkan hingga hari ini belum ada bantuan logistik yang berhasil masuk.

Situasi semakin mengkhawatirkan karena dalam dua hari ke depan Aceh Tengah diprediksi memasuki krisis bahan pangan.

Stok makanan yang tersisa semakin menipis, sementara masyarakat mulai melakukan panic buying yang berpotensi memicu konflik sosial di sejumlah titik.

Satu-satunya layanan perbankan yang masih aktif adalah ATM Bank Aceh di dekat Kodim Aceh Tengah, Takengon. Warga terlihat mengantre panjang untuk menarik uang tunai demi memenuhi kebutuhan darurat.

Data sementara mencatat 18 korban meninggal dunia, 4 orang masih dalam pencarian, dan 6.104 jiwa pengungsi membutuhkan bantuan mendesak.

Upaya evakuasi dan pencarian korban masih sangat terbatas karena kondisi medan rusak parah di sembilan wilayah terisolir.

Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah menyerukan bantuan segera dari pemerintah provinsi, pusat, serta lembaga kemanusiaan nasional untuk menghindari memburuknya situasi.

“Kami khawatir dalam 48 jam ke depan krisis pangan akan meluas jika suplai logistik tidak segera masuk,” tegas Rahmat.

Bencana ini disebut sebagai salah satu fase darurat kemanusiaan terburuk yang pernah dialami Aceh Tengah dalam satu dekade terakhir.

Pasca Banjir Langsa Surut, Warga Kesulitan Air Bersih

Pasca air banjir surut sejak Kamis (27/11/2025), masyarakat Kota Langsa menghadapi krisis baru: sulit mendapatkan air bersih.

Jaringan PDAM belum berfungsi karena mesin Perumda Air Minum Tirta Keumuning Mangsa terendam lumpur, sementara aliran listrik belum sepenuhnya normal.

Depot isi ulang air minum juga belum bisa beroperasi akibat listrik padam. Hanya sebagian titik yang mulai dialiri PLN sejak Sabtu (29/11/2025), membuat depot yang buka langsung diserbu warga untuk memperoleh air minum dan memasak.

Sebagian masyarakat bahkan harus membeli air bersih dari daerah Lengkong menggunakan jeriken.

Ketiadaan pasokan air membuat warga yang kembali ke rumah sejak Kamis belum bisa membersihkan lumpur yang menutupi rumah mereka.

Kondisi semakin sulit karena stok makanan menipis, beras banyak terendam, dan harga kebutuhan pokok melonjak. Telur ayam dijual hingga Rp90 ribu per papan, sementara ikan semakin langka.

Sebelumnya, banjir dahsyat yang melanda Langsa pada Selasa–Rabu (25–26/11/2025) melumpuhkan aktivitas kota.

Puluhan ribu warga mengungsi, ketinggian air mencapai 1–3 meter, dan hampir 90 persen fasilitas umum rusak berat.

Rumah warga terendam lumpur setebal sejengkal, banyak yang rusak atau ambruk.

Hingga Sabtu (29/11/2025), jaringan internet dan listrik masih belum pulih total. Warga kesulitan mencairkan uang di ATM, sehingga tidak bisa berbelanja kebutuhan pokok.

Hampir semua kantor pemerintahan, termasuk Pendopo Wali Kota Langsa, terendam banjir, membuat pelayanan umum lumpuh.

Akses bantuan dari Provinsi Aceh juga belum bisa masuk karena jalur dari Aceh Timur hingga Bireuen terputus akibat banjir.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan krisis pangan dan air bersih jika distribusi logistik tidak segera dilakukan.

Pematangsiantar Krisis BBM dan LPG, SPBU Tutup, Warga Sidamanik Ikut Kebingungan

Sejumlah SPBU di Kota Pematangsiantar, Sumatra Utara dan sekitarnya mengalami kekosongan bahan bakar minyak (BBM) pada Minggu (30/11/2025). Pengelola SPBU menutup operasional dengan memasang plang ketiadaan BBM.

Pantauan Tribun Medan menunjukkan SPBU 14211277 di Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Bah Kapul, Kecamatan Siantar Sitalasari, kosong untuk semua jenis BBM.

Kondisi serupa terjadi di SPBU 14211209 Jalan Patuan Nagari, Kelurahan Sigulanggulang, Kecamatan Siantar Utara (Parluasan), yang hanya menjual sisa biosolar, sementara Pertalite dan Pertamax kosong.

Seorang pengendara asal Sidamanik, Kabupaten Simalungun, mengaku turut kesulitan mencari BBM.

“Kami aja dari Sidamanik kosong, Bang. Makanya kami turun ke Kota Siantar, eh di sini rupanya pertalite kosong juga,” ujarnya.

Kelangkaan BBM membuat pengendara, termasuk ojek online, kebingungan. Banyak yang melambatkan laju kendaraan untuk menilik penjaja bensin eceran di pinggir jalan, namun stok juga kosong.

Selain BBM, kelangkaan juga terjadi pada distribusi LPG. Seorang pengusaha pangkalan elpiji di Kecamatan Siantar Selatan menyebut pasokan gas dari Pertamina terkendala jalur distribusi.

“Sisa-sisa gas pun sudah nggak ada lagi sejak Sabtu kemarin. Katanya baru pulih Senin besok,” ujarnya. Ia menambahkan, masyarakat dan pelaku usaha makanan terpaksa mencari alternatif seperti kayu bakar.

Menanggapi kondisi ini, Kabag Ekonomi Sekretariat Daerah Kota Pematangsiantar, Sari DR Damanik, menyampaikan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan Pertamina Regional Sumbagut.

“Kemarin tanker Pertamina sudah empat hari nggak bisa bersandar di Belawan karena ombak tinggi. Jumat sore infonya sudah loading untuk selanjutnya didistribusikan ke semua SPBU di Kabupaten-Kota. Insya Allah Senin besok kami rapat kembali dengan Pertamina,” jelasnya.

Krisis BBM dan LPG ini menambah beban masyarakat Pematangsiantar dan sekitarnya, yang kini berharap distribusi segera normal agar aktivitas ekonomi dan kebutuhan harian kembali berjalan.

Warga Malalak Timur Agam Mengungsi di Masjid Butuh Logistik dan Obat-Obatan

Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatra Barat luluh lantak akibat banjir bandang yang menerjang pada Rabu (26/11/2025) sore. Puluhan rumah rusak, akses jalan tertimbun material, dan warga terpaksa mengungsi ke Masjid Nurul Iman, Bukit Malanca.

Pantauan di lokasi pengungsian menunjukkan warga terdampak masih membutuhkan bantuan logistik mendesak, mulai dari makanan, pakaian, hingga kursi roda bagi lansia.

Karni, salah satu pengungsi, menuturkan bahwa banyak warga hanya selamat dengan pakaian yang melekat di badan.

“Saat ini terpenting tentu kebutuhan pokok seperti makanan serta pakaian,” ujarnya.

Sudah tiga hari warga bertahan di pengungsian karena belum bisa kembali ke rumah.

Material banjir yang menumpuk membuat akses jalan terhambat. Darlis, pengungsi lainnya, menambahkan bahwa obat-obatan juga sangat dibutuhkan. 

“Bantuan medis seperti obat sangat diperlukan, jika ada kursi roda pun sangat membantu kami yang tua ini,” katanya.

Banjir bandang di Malalak Timur ini menjadi salah satu bencana hidrometeorologi terparah di Sumatera Barat tahun 2025, dengan dampak besar terhadap warga yang kini masih bertahan di pengungsian.

Update Korban Bencana Sumatra

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis update terbaru korban banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Hingga Minggu (30/11/2025), tercatat 316 orang tewas dan 147 lainnya masih hilang, menjadikan bencana ini salah satu yang paling mematikan di Tanah Air dalam beberapa tahun terakhir.

Banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 terjadi akibat kombinasi curah hujan ekstrem dari Siklon Tropis Senyar dan kerusakan lingkungan seperti alih fungsi lahan serta deforestasi. 

Faktor atmosfer dan degradasi ekosistem memperparah dampak bencana hidrometeorologi ini.

Untuk wilayah terdampak, yaitu Aceh (Pidie, Meureudu), Sumatera Utara (Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan), dan Sumatera Barat (Padang, Pauh, Gunung Nago). Ratusan korban jiwa, puluhan ribu pengungsi, kerusakan jembatan, rumah, dan akses jalan.

BNPB melaporkan korban tewas dan hilang terus bertambah seiring pencarian di lokasi terdampak.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan, di Sumut saat ini ada 147 orang yang dilaporkan hilang.

Di Aceh 55 orang hilang, dan di Sumbar ada 87 orang yang masih dalam pencarian.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyebutkan saat ini listrik dan air di lokasi bencana relatif sudah pulih. Meski begitu ia tak menampik masih banyak lokasi yang masih terputus listrik dan air.

"Listrik, air ini juga relatif sudah pulih tapi masih banyak yang padam kami tahu dari PLN sudah menyebar personelnya mohon ini lebih cepat lagi khususnya di daerah-daerah yang terisolir karena itu juga sangat dibutuhkan masyarakat," kata Suharyanto, dalam konferensi pers daring, Minggu (30/11/2025).

BERITA TERKAIT

© Copyright @2025 LIDEA. All Rights Reserved.