Ringkasan Berita:
- Belasan rumah di Sekeloa rusak, atap asbes beterbangan diterjang angin.
- Di Buol, angin kencang membuat dua rumah rusak, delapan jiwa termasuk bayi terpaksa mengungsi.
- Logistik dan hunian sementara jadi kebutuhan mendesak korban.
- Puting beliung disebut tornado mini khas Indonesia, singkat tapi mematikan
TRIBUNNEWS.COM - Bencana puting beliung melanda dua wilayah sekaligus, Sekeloa Bandung, Jawa Barat dan Buol di Sulawesi Tengah.
Angin kencang merusak rumah warga, menerbangkan atap bangunan, dan memaksa puluhan orang mengungsi demi keselamatan.
Angin puting beliung adalah pusaran angin kencang berputar yang berasal dari awan kumulonimbus, dengan kecepatan lebih dari 63–64 km/jam, berdurasi singkat (5–10 menit), dan biasanya terjadi di wilayah yang tidak luas.
Angin puting beliung adalah tornado mini khas Indonesia: singkat, lokal, tapi berisiko tinggi. Fenomena ini menegaskan pentingnya kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi, terutama di masa peralihan musim.
Belasan rumah warga di RT 8/3, Kelurahan Sekeloa, Kecamatan Coblong, Kota Bandung rusak diterjang angin puting beliung pada Minggu (30/11/2025) sekitar pukul 14.00 WIB.
Kerusakan mayoritas terjadi pada bagian atap karena asbes berterbangan, sehingga sejumlah rumah hanya beratapkan langit.
Sejumlah warga langsung memperbaiki rumah dengan asbes baru atau menutup sementara menggunakan terpal.
"Iya ini rumah saya rusak di bagian atas, karena angin tadi kencang banget berputar di atas rumah," ujar Didi Suryadi (56).
"Rumah saya hancur, asbes kebawa setengahnya lebih. Sementara cuma bisa ditambal sama terpal karena tadi hujan lagi," katanya.
Warga lain, Rizal (68), menyebut ada sekitar 15 rumah yang rusak akibat puting beliung.
"Kurang lebih di lingkungan ini (RT 8) ada 15-an rumah yang atapnya rusak diterjang angin, termasuk punya saya juga yang ini," ucap Rizal.
Atap rumah yang rusak sementara ditutup terpal agar tidak bocor saat hujan.
"Iya pakai terpal dulu supaya tidak bocor ke dalam rumah kalau nanti malam hujan lagi. Yang penting rumah masih bisa dipakai tidur," katanya.
Angin kencang melanda Kelurahan Leok I, Kecamatan Biau, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, pada Sabtu (29/11/2025) sore.
Peristiwa ini mengakibatkan dua rumah rusak—satu rusak berat dan satu rusak ringan—serta memaksa dua kepala keluarga dengan total delapan jiwa, termasuk seorang bayi, mengungsi.
Kepala Pelaksana BPBD Sulteng, Akris Fattah Yunus, menyebut angin berkecepatan tinggi sempat menggoyang tiang rumah hingga rubuh, menciptakan kondisi darurat bagi warga. Selain kerusakan bangunan, sejumlah barang rumah tangga juga terendam air.
BPBD Sulteng segera berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Buol untuk menyalurkan bantuan darurat, termasuk logistik dasar dan hunian sementara.
“Kebutuhan mendesak saat ini untuk masyarakat yakni logistik dan penyediaan hunian sementara untuk korban bencana,” ujar Akris.
Warga setempat bergotong royong mengevakuasi barang dan memperbaiki kerusakan, sementara pemerintah daerah memastikan pemantauan berlanjut untuk mengantisipasi dampak lanjutan serta menyiapkan langkah rehabilitasi pasca-bencana.