TRIBUNTRENDS.COM - Menjelang pergantian tahun, ketika sebagian besar orang bersiap menutup kalender dengan doa dan harapan baru, kegelisahan justru menyelimuti ruang kerja Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa.
Bagi banyak pihak, 31 Desember mungkin identik dengan ketenangan angka-angka anggaran dianggap sudah final, laporan tinggal ditutup. Namun kenyataan berkata lain.
Di detik-detik terakhir tahun anggaran, pergerakan fiskal justru masih hidup, bergerak, dan penuh ketidakpastian.
Dana keluar masuk hingga larut malam, membuat posisi keuangan negara terus berubah secara dinamis.
Di tengah arus angka itulah, tidur menjadi kemewahan yang tak bisa dirasakan sang bendahara negara.
Baca juga: Teka-teki Uang Miliaran Yudo Anak Purbaya: Habiskan Kekayaan untuk Kembangkan AI, Ogah Hidup Glamor
Dalam sebuah Media Briefing di Kementerian Keuangan pada Rabu (31/12/2025), Purbaya secara terbuka mengungkap kegelisahan yang ia alami.
“Baru tahu saya. Saya pikir kalau Menteri Keuangan 31 Desember sudah tenang, rupanya belum tuh.
Semalam saja saya enggak bisa tidur, uangnya masuk enggak ya, uangnya masuk enggak ya? Defisitnya bisa melebar,” tutur Purbaya.
Pengakuan itu menggambarkan betapa akhir tahun anggaran bukan sekadar penutupan buku, melainkan momen krusial yang sarat ketegangan.
Setiap rupiah yang belum masuk, setiap potensi belanja yang tiba-tiba muncul, bisa mengubah peta fiskal nasional.
Purbaya mengaku baru menyadari bahwa menjadi Menteri Keuangan berarti tak ada istilah “tenang sepenuhnya” di penghujung tahun.
Kekhawatiran muncul karena selalu ada risiko penerimaan negara yang tidak masuk sesuai proyeksi, atau sebaliknya, muncul kebutuhan belanja besar secara mendadak.
Dua hal itu dapat memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Namun hingga saat ini, ia memastikan situasi masih terkendali. Tidak ditemukan lonjakan pengeluaran yang tiba-tiba, dan penerimaan negara masih bergerak sesuai pola yang telah diperkirakan sebelumnya.
Dengan kata lain, meski sempat diliputi kecemasan, fondasi fiskal masih berdiri cukup kokoh.
Tak hanya soal angka APBN semata, pemerintah juga mencermati dampak yang lebih luas terhadap sistem perekonomian nasional.
Purbaya menegaskan bahwa koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk bank sentral, menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Peran Bank Indonesia dinilai penting untuk menopang sistem keuangan dan memastikan roda ekonomi tetap berputar di tengah tantangan global dan domestik.
Pendekatan ini dilakukan agar tekanan fiskal tidak menjalar menjadi gangguan ekonomi yang lebih besar.
Baca juga: Cara Unik Purbaya Didik Yudo hingga Sukses di Dunia Kripto: Ngajarin Ilmu, Tak Pernah Beri Modal
Sebelumnya, Purbaya telah memberi sinyal bahwa defisit APBN tahun 2025 berpotensi melampaui target awal sebesar 2,78 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit diperkirakan berada di atas angka tersebut. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut masih tergolong aman karena tidak melewati ambang batas 3 persen sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Dengan demikian, meski ada tekanan, disiplin fiskal tetap dijaga dalam koridor hukum.
Pelebaran defisit, menurut Purbaya, dipicu oleh penerimaan pajak yang belum mencapai target.
Perlambatan ekonomi memberikan dampak langsung terhadap kinerja penerimaan negara. Aktivitas ekonomi yang melambat berarti basis pajak menyempit, sementara kebutuhan belanja negara tetap tinggi.
Bahkan, sejumlah kebijakan pajak baru terpaksa ditunda. Pemerintah memilih menunggu momentum ekonomi yang lebih baik sebelum kembali mendorong instrumen fiskal tersebut.
Baca juga: Salut! Yudo Anak Purbaya Pilih Naik Motor dari Bogor ke Jakarta, Bikin Bigmo Geleng-geleng Kepala
Kisah sulit tidur Menteri Keuangan di malam tahun baru menjadi potret nyata bahwa APBN bukan sekadar dokumen anggaran, melainkan denyut nadi negara yang terus bergerak hingga detik terakhir.
Di balik perayaan pergantian tahun, ada kecemasan, perhitungan, dan tanggung jawab besar yang dipikul oleh mereka yang menjaga keuangan negara tetap seimbang.
Dan bagi Purbaya Yudhi Sadewa, malam 31 Desember bukan tentang kembang api melainkan tentang satu pertanyaan yang terus berputar di benak: apakah semua angka akan benar-benar sampai tepat waktu.
***