Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Deanza Falevi
TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Hujan deras disertai angin kencang yang melanda Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat pada Rabu (31/12/2025) sore, menyebabkan puluhan rumah warga mengalami kerusakan.
Total sebanyak 29 bangunan terdampak di dua desa, masing-masing 22 bangunan di Desa Cisaat dan tujuh rumah di Desa Cimahi. Selain rumah warga, kerusakan juga terdampak pada kandang ternak sapi dan penggilingan padi.
Diketahui, angin kencang yang datang secara tiba-tiba sekitar pukul 16.00 WIB itu sempat disertai suara gemuruh dan membuat warga panik. Ketua RT 12/RW 04 Kampung/Desa Cisaat, Kecamatan Campaka, Nersi mengatakan angin kencang tersebut diduga merupakan angin puting beliung.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Bandung dan Jabar Malam Tahun Baru 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang
“Awalnya terdengar angin gemuruh, tiba-tiba ramai warga bilang ada rumah yang kena angin puting beliung. Pas dilihat, ternyata banyak rumah yang roboh, ada yang rusak ringan dan banyak juga yang rusak berat," ujarnya saat ditemui Tribunjabar.id di lokasi, Kamis (1/1/2026) pagi.
Dari 22 bangunan yang terdampak di Desa Cisaat, sebagian besar mengalami kerusakan berat. Kerusakan didominasi atap rumah yang beterbangan hingga ambruk ke tanah. Sementara kerusakan ringan umumnya berupa genteng yang terlepas dan rusak.
"Yang (kerusakan) berat itu atapnya ambruk, ada juga yang langsung jatuh ke tanah. Kalau yang ringan, genteng-gentengnya beterbangan," katanya.
Selain rumah warga, angin kencang juga menyebabkan pohon tumbang, serta merusak kandang ternak dan gilingan padi milik warga. Beruntung, dalam peristiwa tersebut tidak ada korban jiwa maupun luka-luka.
"Alhamdulillah tidak ada korban, baik jiwa maupun luka," ujarnya.
Saat kejadian, kata dia, sebagian besar warga berada di rumah karena aktivitas di sawah telah usai menjelang hujan. Bahkan, ada warga yang sempat terjebak di dalam rumah karena kuatnya dorongan angin.
"Ada warga yang mau keluar tapi enggak bisa karena angin ngedorong ke dalam, jadi sempat kejebak di rumah," ucapnya.
Usai kejadian, Nersi menyebutkan, warga langsung melakukan gotong royong memperbaiki rumah masing-masing, terutama bagian atap, karena hujan gerimis masih turun dan air mulai masuk ke dalam rumah.
Sebelumnya, kata Nersi, sebagian warga sempat mengungsi sementara, namun kini telah kembali ke rumahnya.
"Sebagian ngungsi, sebagian langsung dibetulin atapnya. Sekarang sudah kembali ke rumah masing-masing," katanya.
Baca juga: Penyebab Tragedi Terjun Payung di Pangandaran: Angin Kencang di Ketinggian 10.000 Feet
Salah seorang warga, Royosukandi (53), mengaku sempat merasakan ketakutan saat hujan deras dan angin kencang datang secara mendadak.
"Anginnya besar sekali, semua orang takut. Yang di luar langsung cari tempat teduh," ujarnya.
Hingga Kamis (1/1/2026) pagi, berdasarkan pantauan Tribunjabar.id, warga masih melakukan perbaikan mandiri sambil menunggu bantuan lebih lanjut.
Pemerintah setempat diharapkan segera melakukan pendataan lanjutan dan penanganan bagi rumah-rumah yang mengalami kerusakan berat.(*)