TRIBUNJATENG.COM - Pagi belum sepenuhnya merekah di kawasan persawahan Kampung Dangdeur, Desa Kiangroke, Kabupaten Bandung.
Di tengah hamparan lumpur dan ilalang, seorang bocah berusia 10 tahun justru menjadikan alam liar sebagai ruang bermain sekaligus tempat bertahan hidup.
Muhamad Nandika Sapulloh, atau akrab disapa Dika, bukan anak pada umumnya yang menghabiskan waktu dengan gawai.
Ia justru akrab dengan lumpur sawah, suara hewan melata, dan risiko yang tak biasa bagi anak seusianya.
Tanpa alas kaki memadai, Dika menyusuri pematang dan semak, menghadapi bahaya dengan ketenangan yang mencuri perhatian.
Selama sekitar satu tahun terakhir, Dika dikenal mampu menangkap ular secara langsung tanpa alat bantu.
Keberanian itu bukan hasil latihan khusus, melainkan dorongan naluri yang ia bangun dari keseharian di sawah.
"Hanya ditangkap. Pakai tangan," ucap Dika lirih, ditemui Selasa (30/12/2025).
Awal mula keterlibatannya dengan reptil terjadi secara tidak disengaja. Saat tengah mencari belut di sawah atau ngurek, Dika justru menarik seekor ular belang dari lubang air.
Alih-alih panik, ia memilih mengamati dan membawa pulang ular tersebut, yang kemudian menjadi titik awal ketertarikannya pada dunia reptil.
Baca juga: Cek Kosong Muluskan Tipu-tipu Investasi Motor Gede di Pati, Kerugian Capai Rp1,05 Miliar
Baca juga: Berawal 2,7 Gram Sabu, Leo Bandar Besar Narkoba Asal Semarang Tertangkap: Total Aset Rp3,16 Miliar
Di balik keberanian itu, tersimpan kisah pilu yang jarang terlihat.
Ibunda Dika, Reka Noviyanti (25), mengungkapkan bahwa anak sulungnya sempat berhenti sekolah akibat dugaan perundungan dari teman sebaya.
Sawah menjadi tempat pelarian Dika dari tekanan sosial yang tak sanggup ia ceritakan secara terbuka.
"Harusnya sudah naik kelas 5, tapi sekarang masih kelas 4.
Sempat putus sekolah sejak kelas 3.
Katanya ada yang merundung, tapi dia tidak pernah bercerita kepada saya.
Baru terungkap setelah ia bertemu dengan Panji Petualang kemarin," ungkap Reka dengan nada campur aduk antara khawatir dan bangga.
Bagi Dika, sawah bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan ruang aman dari ejekan.
Di sana, ia menemukan kendali atas hidupnya sendiri.
Dalam sehari, ia mampu menangkap hingga empat ekor ular yang kemudian dijual kepada pengepul bernama Mang Mulyadi.
Uang hasil penjualan tersebut kerap digunakan Dika untuk membeli jajanan dan mentraktir teman-temannya.
Sebuah bentuk pencarian penerimaan sosial dari seorang anak yang tumbuh lebih cepat karena keadaan.
Tubuh yang kebal, jiwa yang berani Dika seolah memiliki "perjanjian" rahasia dengan alam.
Tubuh kecilnya telah berkali-kali menjadi sasaran taring-taring tajam.
Telinga, kaki, hingga tangannya pernah merasakan perihnya gigitan.
Anehnya, tak ada bengkak yang menetap, tak ada demam yang menggigilkan raga.
"Pernah digigit di telinga, kaki, tangan. Tapi tidak sakit," kata Dika tenang.
Ibunya mengonfirmasi keajaiban kecil itu.
Bagi Reka, melihat anaknya pulang membawa ular sanca sepanjang tiga meter adalah pemandangan yang mendebarkan sekaligus mengherankan.
Dika tak pernah mengeluh, tak pernah kapok, seolah darahnya telah bersahabat dengan bisa yang paling jalang sekalipun.
Kepopulerannya di media sosial baru-baru ini membawa Dika pada pertemuan-pertemuan tak terduga.
Ia sempat bersua dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi hingga pakar reptil seperti Panji Petualang dan Dede Inoen.
Di sana, sang penakluk kecil ini diberi wejangan: bahwa keberanian harus bersanding dengan pengetahuan.
Ia mulai belajar membedakan mana kobra yang mematikan dan mana ular air yang sekadar lewat.
Namun, petualangan di pematang sawah itu kini harus menemui muara baru.
Sebuah janji telah terucap di hadapan tokoh-tokoh yang mengaguminya.
Dedi Mulyadi berpesan agar Dika menanggalkan hobinya yang berbahaya itu demi merajut kembali benang-benang sekolah yang sempat terputus.
"Jangan menangkap ular lagi, sekolah dulu," ujar Dika menirukan pesan yang kini terpatri di benaknya.
Ketika ditanya apakah ia akan kembali berburu ular, dengan anggukan pasti ia menjawab, "Enggak."
Kini, di rumah sederhana di Kampung Dangdeur, tak ada lagi desis ular dalam karung di pojok kamar.
Dika sedang belajar kembali menjadi anak-anak pada umumnya, yang bertarung bukan dengan ular kobra, melainkan dengan abjad dan angka di dalam kelas.
Keberaniannya yang dulu liar di sawah Lembang kini coba ia jinakkan untuk membangun masa depan, membuktikan bahwa seorang penakluk sejati adalah ia yang berani menaklukkan ego dan ketakutannya sendiri demi sebuah impian yang lebih tinggi. (*)