Kaleidoskop Bencana Jombang 2025: Banjir di Awal Tahun, Kebakaran Mengintai di Musim Kemarau
January 01, 2026 04:32 PM

 

SURYA.CO.ID, JOMBANG – Kabupaten Jombang di Jawa Timur (Jatim), melewati tahun 2025 dengan tantangan alam yang kontras. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jombang, merilis data tahunan yang menunjukkan dinamika bencana di wilayah ini bergerak secara ekstrem mengikuti pergeseran musim.

Pola bencana yang terjadi, menuntut pemerintah dan masyarakat untuk terus mengkalibrasi ulang strategi kesiapsiagaan guna meminimalisir dampak risiko di masa depan.

Puncak Hidrometeorologi: 122 Insiden di Januari

Awal tahun 2025 menjadi fase terberat bagi Jombang dalam menghadapi fenomena hidrometeorologi. 

Periode Januari hingga April, tercatat sebagai babak dengan frekuensi insiden tertinggi. 

Berdasarkan laporan resmi, Januari menjadi puncaknya dengan total 122 laporan bencana.

Hampir separuh dari angka tersebut disumbang oleh bencana banjir yang dipicu oleh curah hujan ekstrem. 

Selain banjir, ancaman angin kencang juga menjadi momok yang kerap melanda pemukiman warga pada periode awal tahun ini.

Ancaman Bergeser ke Kebakaran di Bulan September

Memasuki pertengahan hingga akhir tahun, karakter bencana di Jombang mengalami pergeseran tajam. 

Seiring masuknya musim kemarau, frekuensi kebakaran hutan, lahan hingga pemukiman melonjak signifikan.

Bulan September menempati posisi kedua tertinggi sepanjang setahun dengan 78 kejadian. Angka ini didominasi oleh belasan titik kebakaran, yang menuntut respons cepat dari tim pemadam dan relawan BPBD.

BPBD Jombang: Fokus Mitigasi dan Edukasi Publik

Kepala Pelaksana BPBD Jombang, Wiku Birawa Felipe Diaz Quintas, menekankan bahwa pola transisi ini sudah terbaca dengan jelas. 

Melalui Supervisor BPBD, Stevy Maria, pihaknya mengimbau warga untuk mengenali risiko antropogenik (faktor manusia) yang sering memperparah kondisi.

"Kami mengamati sebuah transisi yang jelas: dari dominasi banjir di musim hujan ke ancaman kebakaran di musim kemarau. Ini adalah pola yang perlu diantisipasi bersama oleh pemerintah dan warga," tegas Wiku dalam keterangannya, Kamis (1/1/2026).

Menyikapi tantangan tersebut, BPBD Jombang kini menggenjot penguatan sistem respons melalui koordinasi lintas lembaga, dan peningkatan kapasitas personel. 

Edukasi publik secara berkelanjutan menjadi fondasi utama untuk membangun ketangguhan masyarakat.

"Prioritas utama kami adalah memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat Kabupaten Jombang. Kesiapsiagaan kolektif adalah fondasi terkuat. Warga diharapkan aktif mengenali risiko di sekitarnya dan segera melapor untuk respons yang lebih cepat," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.