TRIBUNTRENDS.COM - Heboh kasus anak berinisial AL (12) membunuh ibu kandungnya, F (42), dengan 26 tusukan di Medan, Sumatera Utara pada Rabu, 10 Desember 2025.
Pelaku terus mendapatkan pendampingan psikologis mengingat usianya yang masih di bawah umur.
Berikut ini 5 kata psikolog tentang anak 12 tahun yang tega bunuh ibu kandung di Medan.
Psikolog forensik, Irna Minauli, mengungkapkan alasan AL nekat membunuh ibunya, F, setelah mendapati kakaknya kerap kali dipukuli.
Anak yang terpapar dengan kekerasan yang dilakukan orangtua akan menimbulkan trauma yang besar.
"Cuma mungkin orang menanyakan yang lebih sering kena sasaran kan kakaknya ya, kok dia yang merasa sakit hati," kata Irna Minauli dikutip adari KOMPAS.COM, Kamis (1/1/2025).
"Perlu diketahui bahwa, hubungan antara kakak dan adik jauh lebih erat dibanding anak dengan orangtua," tambahnya.
Kapolrestabes Medan Kombes Calvin Simanjuntak menyampaikan salah satu motif tindakan tersebut adalah sakit hati karena sang ibu menghapus game online.
Selain itu, sang anak juga disebut sering kali memainkan game online yang menggunakan pisau dan menonton serial anime yang menampilkan pisau.
Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, mengatakan bahwa game online (terutama yang mengandung kekerasan) memiliki pengaruh terhadap perilaku kekerasan yang dilakukan anak.
“Ya, namun tidak secara otomatis atau linier,” kata Danti Wulan Manunggal dikutip dari Kompas.com, Kamis (1/1/2025).
“Penelitian psikologi menunjukkan bahwa paparan konten kekerasan yang intens dapat memengaruhi kognisi dan emosi, tetapi efeknya berbeda-beda pada setiap anak,” sambungnya.
Irna Minauli menyatakan, paparan game online berisi kekerasan menjadi faktor kuat di balik insiden pembunuhan ibu kandung berinisial F oleh anaknya, AL.
Game online kekerasan dapat menyebabkan anak mengalami desensitisasi atau ketidakpekaan terhadap kekerasan, sehingga menganggapnya sebagai hal normal atau bagian dari permainan.
"Mereka menganggap kekerasan sebagai hal yang normal atau bahkan merupakan bagian dari permainannya," kata Irna Minauli.
Irna Minauli menambahkan, faktor game kekerasan menjadi kuat ketika ditambah dengan kondisi ibu yang sering menunjukkan tindakan kekerasan.
"Ya cukup kuat karena sering ditonton dan ada faktor predisposisi sebelumnya seperti keluarga yang kurang harmonis, paparan kekerasan dalam keluarga, emosi yang kurang stabil," tambah Irna Minauli.
Baca juga: Video CCTV Anak Bunuh Ibu di Medan, Terekam Aktivitas Keluarga Lakukan Ini di Pagi Hari, Bukti Kuat
Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi, Psikolog menjelaskan, dalam banyak kasus, kekerasan berat yang dilakukan anak bukan muncul secara tiba-tiba.
Hal itu merupakan puncak dari rangkaian masalah psikologis dan lingkungan yang tidak tertangani sejak dini.
“Pada banyak kasus, kekerasan ekstrem yang dilakukan anak merupakan puncak dari masalah regulasi emosi, paparan kekerasan, relasi yang tidak aman, serta kurangnya dukungan atau penanganan dini,” ujar Vera Itabiliana Hadiwidjojo dikutip adari KOMPAS.COM, Kamis (1/1/2025).
Anak juga cenderung meniru pola penyelesaian konflik yang ia lihat di lingkungan terdekat, terutama di dalam keluarga.
“Jika di rumah kekerasan menjadi cara yang biasa digunakan untuk menyelesaikan masalah, anak bisa menganggap kekerasan sebagai respons yang efektif,” jelas Vera Itabiliana Hadiwidjojo.
Selain itu, masalah kesehatan mental orangtua serta tekanan ekonomi dapat memperburuk situasi emosional anak.
“Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan tanpa dukungan emosional yang memadai akan lebih rentan melampiaskan emosi secara destruktif,” kata Vera Itabiliana Hadiwidjojo.
“Tekanan psikologis yang terus menumpuk tanpa ruang aman untuk mengekspresikan emosi dapat memicu tindakan ekstrem,” sambungnya.
Irna Minauli sempat memeriksa kondisi AL kurang dari seminggu pasca kejadian.
Hasilnya, ia belum menemukan tanda-tanda traumatik.
"Anak terlihat pendiam, tenang, mampu menjawab pertanyaan dengan runtut.
Secara keseluruhan terlihat cukup terkendali dan lebih matang dibandingkan anak seusianya," kata Irna Minauli.
Irna tidak menemukan adanya impulsivitas atau ketidakmampuan mengendalikan dorongan.
Artinya, AL cukup terkendali dan tidak ada gangguan mental yang tampak.
Meski begitu, ada kemungkinan AL mengalami delay trauma atau secondary trauma, sebab banyak yang bertanya sehingga membangkitkan pengalaman traumatis.
(TribunTrends/ Amr)