TRIBUNWOW.COM - Gelandang AC Milan asal Kroasia, Luka Modric mengungkap pengalamannya ketika membela Real Madrid.
Luka Modric merupakan pemain yang membela Real Madrid dari 27 Agustus 2012, hingga 14 Juli 2025, sebelum akhirnya hengkang ke AC Milan.
Pemain berusia 40 tahun itu mengenang momen ketika Jose Mourinho membuat Cristiano Ronaldo menangis di ruang ganti Real Madrid.
Cerita itu dibagikan Luka Modric dalam sebuah wawancara dengan 'Corriere della Sera', dan dikutip media Spanyol, mundodeportivo, Rabu (31/12/2025).
Luka Modric menyebut Jose Mourinho adalah pelatih terberat.
Baca juga: Transfer Panas Real Madrid: Agen Vinicius Junior Diam-diam Tawarkan Pemain ke Chelsea, Mahar Rp2,7 T
Dalam wawancara itu, Luka Modric mengungkap bahwa Jose Mourinho kesal karena Cristiano Ronaldo tak mengejar bek sayap lawan, dan melakukan pertahanan.
"Cristiano Ronaldo menangis di ruang ganti, seorang pemain yang memberikan segalanya di lapangan, karena untuk sekali ini ia tidak mengejar bek sayap lawan. Mourinho sangat lugas dengan para pemain, tetapi dia jujur," ujarnya.
Luka Modric juga mengungkap bahwa Sergio Ramos diperlakukan sama oleh Jose Mourinho.
"Dia memperlakukan Sergio Ramos dan pemain baru dengan cara yang sama: Jika dia punya sesuatu untuk dikatakan kepada Anda, dia akan mengatakannya," kata Modric.
"Max (Allegri) juga sama: Dia mengatakan langsung kepada Anda apa yang benar dan apa yang salah. Kejujuran adalah hal mendasar," sambungnya.
Luka Modric menambahkan, bahwa baginya, Jose Mourinho adalah sosok istimewa, baik sebagai pelatih maupun pribadi.
"Dialah yang menginginkan saya di Real Madrid. Tanpa Mourinho, saya tidak akan pernah sampai di sini."
"Saya menyesal hanya memilikinya selama satu musim," kata Modric.
Meski demikian, baginya, Carlo Ancelotti, mantan pelatihnya di Real Madrid, adalah pelatih nomor satu.
"Sulit untuk menemukan kata-kata yang tepat. Karena kepribadiannya, bukan hanya kualitasnya di bangku cadangan."
"Kami sering membicarakan Milan saat berada di Madrid. Tempat ini juga istimewa baginya. Saya ingat saat bertemu dengannya. Dia sendirian di kota itu."
"Dia menelepon saya dan berkata, 'Ayo, ayo makan malam denganku.' Kami mengobrol berjam-jam, tentang segalanya."
"Tentang sepak bola, tentang keluarga, tentang kehidupan. Biasanya, pelatih tidak mempercayai pemainnya. Tapi dia mempercayainya," ungkapnya.
(TribunWow.com/Lailatun Niqmah)