Mengenal Super Flu Subclade K, Varian Influenza H3N2 yang Picu Lonjakan Kasus Global
January 01, 2026 07:03 PM

BANGKAPOS.COM -- Istilah “Super Flu” belakangan ramai dibicarakan menyusul meningkatnya kasus influenza di berbagai negara.

Meski terdengar mengkhawatirkan, para ahli menegaskan bahwa Super Flu bukan penyakit baru.

Super Flu merujuk pada hasil mutasi virus Influenza A H3N2, yang kini diklasifikasikan sebagai Subclade K sebelumnya dikenal sebagai subgrade K.

Varian ini merupakan bagian dari evolusi alami virus influenza yang terus berubah dari waktu ke waktu.

Apa Itu Super Flu Subclade K?

Anggota UKK Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp. Respi(K), menjelaskan bahwa Subclade K menjadi varian dominan di belahan bumi utara sejak akhir 2025.

“Subclade K masih satu keluarga dengan H3N2, tetapi memiliki kemampuan evolusi yang cukup tinggi. Ini membuat virus lebih mudah menular dan berpotensi menyebabkan lonjakan kasus influenza,” jelas dr. Nastiti dalam diskusi virtual, Kamis (1/1/2026).

Gejala Super Flu, Benarkah Lebih Berat?

Secara klinis, gejala Super Flu Subclade K tidak jauh berbeda dari influenza musiman pada umumnya.

Masyarakat tetap perlu waspada jika mengalami keluhan seperti:

  • Demam tinggi disertai menggigil
  • Sakit kepala dan nyeri otot
  • Nyeri tenggorokan
  • Pilek dan batuk

Namun, dr. Nastiti menekankan bahwa dokter tidak dapat membedakan varian virus hanya dari gejala fisik.

“Untuk memastikan apakah seseorang terinfeksi Subclade K, diperlukan pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) di laboratorium khusus, sama seperti saat membedakan varian Delta atau Omicron pada Covid-19,” jelasnya.

Kelompok yang Paling Rentan

Meski Super Flu dapat menyerang semua kelompok usia, risiko keparahan hingga kematian lebih tinggi pada kelompok tertentu, antara lain:

  • Balita dan lansia
  • Ibu hamil

Individu dengan penyakit penyerta (komorbid), seperti penderita penyakit jantung bawaan, kanker, HIV, gangguan autoimun, serta pasien yang mengonsumsi obat penekan sistem imun.

Pola Penyebaran di Indonesia

Berbeda dengan negara empat musim yang mengalami puncak influenza saat musim dingin, Indonesia memiliki pola penularan yang unik. Kasus influenza dapat muncul sepanjang tahun.

“Di Indonesia, peningkatan kasus biasanya mulai terlihat pada Oktober hingga November,” ungkap dr. Nastiti.

Karena penularan berlangsung sepanjang tahun, imunisasi influenza dianjurkan dapat diberikan kapan saja, khususnya bagi anak usia minimal 6 bulan.

Pencegahan dan Penanganan

Untuk menekan risiko penularan dan komplikasi, beberapa langkah penting yang disarankan antara lain:

Vaksinasi influenza, yang hingga kini masih efektif dan belum terbukti gagal melawan Subclade K

Pemberian antivirus, seperti Oseltamivir, terutama pada pasien berisiko tinggi sesuai rekomendasi dokter

Penerapan PHBS, termasuk memakai masker saat sakit, rutin mencuci tangan, dan menjaga jarak

(Bangkapos.com/Tribunnews/Tribun Jabar)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.