Oleh: Abdul Rosyid Rexy Andryan, SST, M.Sc.
Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Kota Atambua sebagai ibukota Kabupaten Belu telah lama memiliki branding sebagai kota perbatasan.
Pasalnya, Atambua merupakan kota yang paling dekat dengan ibu kota Timor Leste di Dili.
Warga negara Timor Leste yang memasuki Indonesia via jalur darat sudah familier dengan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain yang menghubungkan negaranya dengan Indonesia.
Tidak jauh dari pos tersebut, membentang Kota Atambua. Berbagai macam kegiatan yang dilakukan oleh penduduk Timor Leste, baik bermalam selama beberapa hari di NTT maupun melanjutkan perjalanan udara ke Jakarta, tidak dapat terlepas dari apa yang ditawarkan oleh Atambua.
Baca juga: Opini: Pariwisata Premium dan Keselamatan Transportasi Laut
Perjalanan menuju Kupang akan otomatis melalui Atambua. Atambua berperan sebagai wajah Indonesia sebagai kota pertama yang dilewati.
Pada waktu-waktu tertentu seperti akhir pekan atau libur panjang, banyak ditemui mobil-mobil dengan plat nomor putih dengan kode Timor Leste.
Pada waktu tersebut, jumlah penghunian kamar di Atambua juga meningkat.
Di Kabupaten Belu sendiri per tahun 2024 jumlah hotel/losmen mencapai 15 dengan total kamar sebanyak 362.
Data ini menunjukkan potensi Atambua yang luas sebagai kota perbatasan.
Meskipun demikian, pembangunan di Kabupaten Belu beberapa tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan yang kurang mengesankan.
Melihat dari PDRB Lapangan Usaha, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Belu pada kategori Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum memang bagus, yaitu mencapai 7,59 persen di tahun 2024.
Kategori ini juga menjadi salah satu kategori dengan pertumbuhan tertinggi.
Selain itu, transportasi dan pergudangan juga memiliki potensi yang baik dengan pertumbuhan sebesar 8,10 persen pada 2024.
Tidak jarang WNI maupun WNA yang menggunakan transportasi dari Atambua untuk menuju maupun keluar dari Timor Leste.
Sayangnya, terkait dengan pembangunan yang seharusnya bisa menjadi perhatian, kategori Konstruksi pada tahun 2024 hanya tumbuh sebesar 1,87 persen.
Angka ini menjelaskan bahwa pertumbuhan untuk konstruksi masih belum terlalu tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan di tahun 2023 yang mencapai sekitar 8 persen.
Dilihat dari PDRB Pengeluaran, untuk pertumbuhan Pembangunan Modal Tetap Bruto (PMTB, atau biasa dikenal dengan aset) hanya mengalami pertumbuhan sebesar 0,95 persen.
Namun, fakta-fakta tersebut bukan merupakan sebuah akhir, melainkan sebuah refleksi untuk kita pahami lebih dalam.
Atambua sebagai ‘wajah’ pertama Indonesia akan memberikan kesan yang lebih baik jika dilakukan perbaikan-perbaikan demi kemajuan daerah yang lebih besar lagi.
Saat ini, pemerintah daerah Belu patut diapresiasi dengan pertumbuhan yang baik pada Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum; dan Transportasi dan Pergudangan.
Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum salah satunya berkaitan dengan penyediaan hotel dan penginapan yang ada di Atambua.
Jika melihat pada lima (5) tahun terakhir, kemajuan penambahan hotel-hotel dan homestay memiliki tren yang meningkat.
Hal ini dapat memberikan pilihan yang banyak terhadap wisatawan yang mengunjungi Atambua. Pada sisi makan minum, adanya penambahan pilihan warung-warung makan, restoran, kafe, dan sejenisnya akan menjadi salah satu penarik wisatawan.
Kategori Transportasi dan Pergudangan akan berperan pada kemajuan wilayah dengan mengaitkannya terhadap adanya transportasi darat antarwilayah yang nyaman dan keperluan logistik yang baik.
Adanya arus barang dan logistik yang lancar akan memberikan kesan yang baik dan memudahkan.
Urusan logistik ini akan membantu menggenjot perdagangan besar dan eceran barang dan dapat menumbuhkan perekonomian Belu.
Selain itu, hal yang mungkin terlihat kecil namun cukup berdampak adalah dengan melihat pada Administrasi Pemerintahan. Siapa yang memiliki peranan penting dalam hal ini? Tentunya, negara.
Namun, sebagai daerah yang mengampu dan akan mendapatkan manfaatnya secara langsung, turut serta pemerintah daerah dalam mendukung pertumbuhan Belu, terutama di Atambua, disinyalir dapat memberikan hasil yang baik ke depannya.
Beberapa instansi yang terlibat dalam mengelola PLBN memegang peranan pada kategori ini.
Distribusi PDRB Lapangan Usaha pada kategori ini mencapai 12,80 persen yang merupakan Top 5 pada kategori dengan distribusi tersebut penyusun PDRB.
Pelayanan publik yang optimal dapat menjadi pecut bagi Kabupaten Belu untuk tampil sebagai wajah negara yang maksimal.
Pemberian perizinan pembangunan jalan dan bangunan yang sesuai kebutuhannya, pelayanan perbatasan yang ramah, dan semacamnya, dapat menjadi trigger untuk mengeskalasi pertumbuhan ekonomi Belu.
Dengan adanya layanan yang baik, hal ini dapat menjadi magnet bagi warna negara Timor Leste untuk lebih sering mengunjungi daerah kita dan dapat berdampak pada pembangunan wilayah. (*)