Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Lampung, Bobby Irawan, Kamis (1/1/2025), mengatakan, Provinsi Lampung masuk dalam 10 besar destinasi wisata paling diminati secara nasional selama periode libur akhir tahun.
Bobby Irawan mengatakan berdasarkan data dan prediksi dari Kementerian Pariwisata serta Kementerian Perhubungan, Lampung menjadi salah satu tujuan utama wisatawan selama momen Nataru.
“Lampung masuk 10 besar destinasi yang diminati selama Nataru. Untuk wilayah Sumatera, hanya ada dua provinsi, yakni Sumatera Utara dan Lampung,” kata Bobby saat diwawancarai.
Ia menyebutkan, pemerintah pusat memprediksi sekitar 2,35 juta orang akan datang ke Lampung selama periode Nataru.
Mayoritas wisatawan tersebut berasal dari Provinsi Sumatera Selatan.
“Berdasarkan data tahun-tahun sebelumnya, lebih dari 45 persen wisatawan yang datang ke Lampung berasal dari Sumatera Selatan,” ujarnya.
Secara kumulatif, Bobby mengungkapkan bahwa sepanjang Januari hingga Oktober 2025, jumlah kunjungan wisatawan nusantara ke Lampung telah mencapai lebih dari 20,5 juta orang. Data tersebut merupakan data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS).
“Untuk November kami masih menunggu rilis resmi BPS, tetapi kami optimistis target nasional sebesar 19,5 juta wisatawan pasti terlampaui. Karena Januari hingga Oktober saja sudah lebih dari 20 juta,” jelasnya.
Angka tersebut jauh melampaui target yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Lampung dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2025, yakni sekitar 9,5 juta wisatawan.
“Artinya capaian ini sudah jauh di atas target pemerintah daerah,” kata Bobby.
Menurutnya, peningkatan kunjungan wisatawan ini tidak terlepas dari perbaikan infrastruktur, khususnya akses jalan menuju destinasi wisata, yang menjadi prioritas Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.
“Pak Gubernur sangat konsen memprioritaskan perbaikan infrastruktur, termasuk akses menuju kawasan-kawasan wisata,” ungkapnya.
Jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terjadi lonjakan signifikan.
Bobby menyebut, perbandingan data Januari–Oktober 2024 dengan Januari–Oktober 2025 menunjukkan peningkatan kunjungan lebih dari 53 persen.
Selama libur Nataru, pihaknya juga terus memantau kondisi destinasi wisata melalui koordinasi dengan dinas pariwisata kabupaten/kota, pelaku usaha, asosiasi, serta penggiat pariwisata.
“Hampir semua destinasi favorit ramai sejak libur Natal. Hotel-hotel yang menjadi ikon Lampung tingkat huniannya penuh, kafe dan restoran juga sangat ramai,” katanya.
Ia menambahkan, tren pertumbuhan sektor pendukung pariwisata seperti restoran dan kafe meningkat signifikan sejak 2022.
Kondisi ini diyakini memberi dampak positif terhadap perekonomian daerah.
“Pariwisata adalah sektor yang simpel tapi efeknya besar, karena mampu menarik dan menggerakkan sektor ekonomi lainnya, mulai dari hotel, restoran, hingga sektor pertanian,” jelas Bobby.
Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, kebutuhan bahan pangan juga meningkat sehingga hasil produksi petani lokal dapat terserap di dalam daerah.
“Ini sangat positif, karena tidak perlu lagi dipasarkan ke luar daerah, tetapi dimanfaatkan oleh pelaku usaha di Lampung,” ujarnya.
Menatap 2026, Bobby mengatakan sektor pariwisata ditargetkan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian daerah.
Pemerintah Provinsi Lampung menetapkan tiga indikator kinerja utama, yakni jumlah kunjungan wisatawan, lama tinggal, dan belanja wisatawan (spending of money).
“Ketiga indikator itu semuanya meningkat. Rata-rata lama tinggal naik, dan pengeluaran wisatawan per kapita juga meningkat,” katanya.
Ia menyebutkan, rata-rata pengeluaran wisatawan pada 2024 berada di angka hampir Rp1,8 juta, sementara pada 2025 hingga Oktober telah menembus Rp 2 juta per orang.
“Jika dikalikan sekitar 20 juta wisatawan dengan rata-rata pengeluaran Rp 2 juta, maka kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian Lampung bisa mencapai hampir Rp 40 triliun,” paparnya.
Terkait kenaikan tarif tol yang dikeluhkan sebagian wisatawan, Bobby menilai hal tersebut perlu menjadi perhatian bersama.
Menurutnya, kenaikan tarif harus diimbangi dengan peningkatan kualitas layanan.
“Kami berharap ada peningkatan pelayanan, jalan yang lebih mulus, penerangan yang baik, dan pengelolaan yang semakin profesional,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mendorong pengembangan moda transportasi alternatif, seperti kereta api. Pada momen Nataru, jumlah penumpang kereta api di Lampung juga mengalami peningkatan signifikan.
“Pariwisata ini adalah bisnis kebahagiaan. Bagaimana wisatawan merasa nyaman, senang, membawa pulang kenangan indah, dan akhirnya ingin kembali lagi ke Lampung,” pungkas Bobby.
( Tribunlampung.co.id )