Sosok Nelayan Maradapan Kotabaru Kalsel yang Bertahan 2 Hari di Laut Lepas, Sempat Dilaporkan Hilang
January 02, 2026 12:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU -  Seorang nelayan asal Kabupaten Kotabaru, dilaporkan hilang sejak dua hari lalu, akhirnya terselamatkan

Sosok tersebut yakni, Taufik Hidayat (40), warga Desa Maradapan, Kecamatan Pulau Sembilan, yang ditemukan nelayan lain setelah mengalami kendala dan terombang-ambing gelombang di tengah laut.

Diungkapkan Kapolsek Pulau Sembilan, Iptu Agus Riyanto, kejadian bermula Senin 
(29/12/2025) sekitar pukul 08.00 wita.

Saat itu Taufik Hidayat berangkat seorang diri ke laut untuk mencari ikan menggunakan kapal jenis balapan, menuju ke rompong (istilah rumah ikan) miliknya.

Baca juga: Penampakan Seorang Warga di Handilnegara  Tanahlaut Kalsel Terobos Banjir dengan Sepeda Motor

Baca juga: Momen Hangat Open House Keuskupan Banjarmasin, Kakanwil Kemenag Kalsel Sampaikan Doa dan Harapan

Namun, saat berada di lokasi, cuaca tiba-tiba memburuk.

Angin kencang datang dan memaksa Taufik untuk berlindung dan melabuh jangkar di sekitar rompong tersebut. 

Ia pun terpaksa bertahan di laut selama dua hari penuh menunggu cuaca membaik.

Pada Rabu (31/12/2025), saat angin dirasa sudah mereda, Taufik berupaya pulang. 

Namun, nasib sial kembali menghampiri. Kapalnya kehabisan bahan bakar sebelum sampai ke daratan. 

Lagi-lqgi ia terpaksa kembali melabuh jangkar, namun kali ini di perairan yang tidak jauh dari Pulau Matasirih.

"Beruntungnya, tidak berapa lama bertahan, ada nelayan lain bernama Ami yang melintas," ucap Agus.

Warga Desa Labuan Barat, Kecamatan Pulau Sembilan ini sempat kaget karena melihat kapal yang terhenti. 

Ami pun segera mendekat dan memberikan pertolongan dengan cara menderek kapal Taufik menuju daratan.

Taufik pun akhirnya dapat kembali ke pangkuan keluarga pukul 11.30 setelah dua hari bertahan dengan hempapsan gelombang dan ketidakpastian di laut, WITA.

Ditegaskan Kapolsek, kejadian ini menjadi pengingat akan risiko tinggi yang dihadapi para nelayan tradisional. 

Maka dari itu, untuk kebaikan bersama pihaknya juga terus mengingatkan saat cuaca ekstrem untuk menyarankan sementara tidak turun melaut.

Cara Nelayan Mencari Ikan Supaya Kelestarian Ekosistem Terjaga

Kelestarian ekosistem laut dapat terjaga, jika nelayan menggunakan cara-cara yang sifatnya lebih ramah lingkungan.

Artinya nelayan tidak hanya mementingkan hasil tangkapan saja, tetapi juga mengutamakan kelestarian ekosistem beserta sumber dayanya.

Menurut Yulia A. Hasan dalam buku Hukum Laut Konservasi Sumber Daya Ikan di Indonesia (2020), menjaga kelestarian ekosistem laut atau perairan merupakan tanggung jawab pengguna sumber daya laut.

Sudah menjadi hak nelayan untuk menangkap dan memanfaatkan sumber daya, berupa ikan atau hasil tangkapan laut. Sebagai bentuk tanggung jawab, nelayan harus menjaga kelestarian ekosistem beserta sumber dayanya.

Cara nelayan mencari ikan

Dilansir dari situs Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Pemerintah Kabupaten Klungkung, ada beberapa cara untuk mencari ikan dengan cara yang ramah lingkungan.

Adapun cara yang disebutkan ini didasarkan pada Code of Conduct for Responsible Fisheries, FAO 1995. Berikut penjelasannya:

    Diusahakan untuk menangkap ikan yang telah ditargetkan.
    Gunakan alat tangkap yang tidak merusak habitat, tempat tinggal, serta lokasi perkembangbiakan ikan.
    Menggunakan alat tangkap yang aman bagi nelayan.
    Ikan ditangkap dalam kondisi segar atau hidup.
    Ikan harus aman dikonsumsi atau tidak mengandung bahan kimia berbahaya.
    Alat tangkap aman untuk kelestarian sumber daya hayati.
    Tidak menangkap spesies yang dilindungi undang-undang atau terancam punah.
    Tidak bertentangan dengan budaya masyarakat sekitar.

Lalu, bagaimana seharusnya para nelayan mencari ikan supaya kelestarian ekosistem tetap terjaga?

Untuk menjaga kelestarian ekosistem, nelayan seharusnya menggunakan cara yang ramah lingkungan. Cara ini tidak hanya mencakup metode, tetapi juga termasuk peralatan yang digunakan, seperti alat tangkap dan perahu.

ara yang ramah lingkungan berarti tidak merusak ekosistem dan sumber daya yang ada. Contohnya menggunakan sampan dan jaring khusus, seperti jaring insang, jaring lingkar, dan jaring angkat.

Selain itu, nelayan tidak seharusnya menangkap ikan secara berlebihan atau mengeksploitasinya. Karena hal ini dapat menurunkan jumlah ikan dan nantinya akan berdampak pula pada kelestarian ekosistem.
 (Banjarmasinpost.co.id/MuhammadTabri/kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.