Bertaruh Nyawa di Atas Rakit, Perjuangan Warga Linge Aceh Tengah Usai Jembatan Terputus
January 02, 2026 12:54 AM

Laporan Wartawan Tribun Gayo Romadani | Aceh Tengah

TribunGayo.com, TAKENGON – Warga Linge, Kabupaten Aceh Tengah berjuang keras hingga bertaruh nyawa demi menyeberangi sungai setelah jembatan Kala Ili sebagai penghubung utama terputus akibat bencana alam pada 26 November 2025.

Sejak jembatan putus, sungai berarus deras menjadi satu-satunya jalur yang harus dilalui warga setiap hari.

Tanpa pilihan lain, mereka menggunakan rakit kayu sederhana yang ditarik dengan seutas tali untuk menyeberang.

Rakit tersebut tak hanya mengangkut orang dewasa, tetapi juga sepeda motor serta berbagai kebutuhan pokok warga.

Peristiwa memilukan terjadi pada Rabu (31/12/2025), ketika satu rombongan keluarga, termasuk seorang bayi, harus menyeberangi sungai dengan air berwarna cokelat pekat akibat hujan deras. 

Teriakan waspada warga di tepian sungai terdengar bersahut-sahutan saat rakit berguncang dihantam arus dan jeram.

Derasnya air menghantam rakit hingga kehilangan keseimbangan, seorang ibu yang menggendong bayi terlihat bingung terombang-ambing di atas rakit.

Barang-barang mereka terlepas dari rakit dan mereka hanyut dibawa air.

Dengan segera sosok laki-laki paruh baya melompat dari rakit untuk mengurangi beban dan berupaya mendapatkan kembali barang tersebut.

Beruntungnya, mereka semua selamat hingga seberang sungai, meski kehilangan sebahagian barang, warga tetap kuat dan terus melintasi hal itu setiap hari.

Ya Allah, Ada Bayi

Sejumlah warga dan relawan turut mengabadikan video peristiwa itu hingga beredar luas di media sosial.

Sebuah rekaman video itu, memperlihatkan beratnya perjuangan warga di enam kampung yakni Kampung Linge, Jamat, Delung Sekinel, Kuteni Reje dan Reje Payung.

“Ya Allah, ada bayi yang hampir hanyut terbawa arus,” tulis netizen dalam video tersebut.

Seorang warga setempat, Sertalia, mengatakan kepada TribunGayo.com, peristiwa dalam video itu terjadi pada Rabu (31/12/2025) dan merupakan kondisi yang hampir setiap hari dialami warga.

Menurutnya, perjalanan tersebut bukan sekadar menyeberang sungai, melainkan pertaruhan nyawa demi tetap bisa bekerja, berinteraksi, dan menyambung hidup.

“Setiap tarikan tali rakit adalah bukti ketangguhan warga Linge, sekaligus jeritan kami akan harapan dibangunnya kembali infrastruktur yang layak,” ujar Sertalia, Kamis (1/1/2026).

Hingga kini, warga hanya bisa mengandalkan gotong royong dan keberanian untuk menaklukkan arus sungai tersebut.

“Ini kenyataan yang mereka hadapi setiap harinya,” demikian kalimat penutup dalam video yang beredar.

Ironisnya, Linge bukanlah wilayah biasa. Daerah ini dikenal sebagai kawasan bersejarah, pusat Kerajaan Linge adalah salah satu kerajaan awal suku Gayo dan asal-usul peradaban Gayo. 

Di wilayah ini masih terdapat peninggalan sejarah seperti situs makam raja, sumur keramat Telege Linge, serta rumah adat Umah Pitu Ruang.

Kini, kawasan yang sarat nilai sejarah itu justru masih terisolir.

Ribuan jiwa di Linge dan Kemukiman Jamat dilaporkan kehilangan rumah dan sawah akibat banjir. 

Hingga hari ini, mereka masih harus melawan maut, sekadar untuk menyeberangi sebuah sungai. (*)

Baca juga: 97 KK Asal Kampung Umang Linge Aceh Tengah Masih Bertahan di Lokasi Pengungsian

Baca juga: Polres Aceh Tengah Tembus Desa Terisolir Banjir di Bintang untuk Selamatkan Bayi Alami Sakit

Baca juga: Bupati Haili Yoga: Aceh Tengah Masih Butuh Perhatian Bersama Pasca Banjir dan Longsor

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.