Mimpi Terbang Tinggi dengan Pesawat Pupus, Nadia: Selama Ini Evia Maria Cerita Ingin Jadi Pramugari
January 02, 2026 10:22 AM

Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID – Evia Maria (21) kerap berbicara tentang langit dan seragam pramugari yang suatu hari ingin ia kenakan.

Di mata sahabatnya, Nadia, Evia adalah gadis ceria dengan mimpi besar untuk terbang tinggi dengan pesawat meninggalkan pulau kecil asalnya di Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara (Sulut).

Namun, di balik cita-cita itu, Evia menyimpan kegelisahan mendalam yang hanya berani ia curahkan kepada orang terdekatnya.

Beberapa hari sebelum ditemukan meninggal dunia secara tak wajar di kamar kosnya di Kota Tomohon, Selasa (30/12/2025) pagi, kepada Nadia, Evia mengaku diliputi rasa takut akibat dugaan pelecehan seksual yang disebutnya melibatkan seorang oknum dosen di Universitas Negeri Manado (Unima) terhadapnya.

Evia Maria adalah mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan Psikologi (FIPP) Unima yang ditemukan meninggal tak wajar di kosnya.

Mahasiswi asal Kepulauan Sitaro Sulut itu ditemukan tak bernyawa di sebuah indekost di Kelurahan Matani Satu, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Sulut.

Kabar meninggalnya Evia Maria membuat warga Sulut berduka. Tak terkecuali Nadia sahabat Evia sedari duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Evia dan Nadia bersekolah di SMK Negeri 1 Siau Timur, Jurusan Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran (OTKP), dan mulai berteman sejak tahun 2019.

Hubungan mereka, menurut Nadia, sudah seperti saudara kandung.

Meski tinggal di daerah berbeda Evia tinggal di kos di Tomohon, sementara Nadia di Manado, namun komunikasi keduanya tetap intens.

Kepada wartawan Tribunmanado.co.id, Indri Panigoro, Nadia mengungkap percakapan terakhirnya dengan almarhumah.

Evia, kata Nadia kerap curhat soal kasus dugaan pelecehan seksual yang ia alami.

Sosok yang kerap disebut Evia dalam curhatannya yakni salah satu oknum dosen di Unima

Beberapa waktu sebelum meninggal dunia, Evia sempat mendatangi kos Nadia.

Saat itu, Evia mengatakan ingin ke kos Nadia untuk bercerita, sembari menunjukkan rencana foto studio seperti foto kelulusan SMA.

“Waktu di kos, dia tiba-tiba curhat sambil menangis. Dia cerita tentang dosen yang diduga melecehkannya,” kata Nadia saat diwawancarai di akun Facebooknya bernama Nadia, Kamis 1 Januari 2026 sore.

Nadia menuturkan, Evia juga pernah menyampaikan bahwa dirinya telah menerima perlakuan tidak pantas melalui pesan langsung (DM) dari dosen yang bersangkutan.

Evia bahkan sempat mengirimkan pesan suara (voice note) kepada Nadia, mengaku telah melaporkan dugaan pelecehan itu kepada Wakil Dekan III (WD III).

“Almarhumah bilang sudah lapor ke WD III soal pesan DM dan perlakuan dosen itu,” kata Nadia.

Pada 15 Desember, bertepatan dengan ulang tahun Nadia, Evia kembali mencurahkan ketakutannya.

Ia meminta pendapat Nadia karena merasa tertekan dan takut dengan sikap dosen tersebut.

“Saya bilang ke dia, lebih baik lapor saja. Kalau tidak, takutnya dosen itu bisa bertindak seenaknya lagi ke mahasiswa lain,” ujar Nadia.

Lanjut Nadia, pada keesokan harinya, Evia mengabarkan bahwa ia telah resmi melaporkan dugaan pelecehan seksual tersebut secara lisan kepada WD III.

Kata Nadia berdasarkan cerita Evia, pihak WD III kemudian menyarankan agar laporan tersebut dituangkan dalam bentuk surat pernyataan tertulis dan dilanjutkan ke pihak pusat atau pimpinan kampus.

Selain curhat soal dugaan pelecehan, Nadia mengenang Evia sebagai sosok yang ceria dan memiliki mimpi besar.

Salah satu cita-cita Evia yang sering ia ceritakan adalah keinginannya untuk menjadi pramugari.

“Dia sering bilang sebenarnya dia sangat ingin jadi pramugari,” katanya.

Kabar kematian Evia Maria membuat warga Sulut heboh.

Terlebih ditemukannya surat yang ditujukan kepada Dekan FIPP Unima terkait adanya dugaan pelecehan yang dilakukan oleh oknum dosen Unima inisial DM.

Berikut adalah 5 soal kematian Evia Maria yang berhasil dirangkum Tribunmanado.co.id, Rabu 31 Desember 2025.

MAHASISWI MENINGGAL- Kolase foto ayah Evia Maria menangis di depan peti jenazah anaknya di rumah persemayaman, Perumahan CBA Gold, Mapanget, Minut, Rabu (31/12/2025).
MAHASISWI MENINGGAL- Kolase foto ayah Evia Maria menangis di depan peti jenazah anaknya di rumah persemayaman, Perumahan CBA Gold, Mapanget, Minut, Rabu (31/12/2025). (Tribun Manado/Kolase Tribun Manado/HO)

1. Kronologi Awal Jasad Evia Ditemukan di Indekost Matani Satu Tomohon

Dari informasi dari pihak kepolisian, peristiwa tersebut pertama kali diketahui sekitar pukul 08.00 Wita. 

Penemuan berawal saat pemilik kost berinisial YR, yang tinggal di Kelurahan Matani Satu, menerima panggilan dari salah satu penghuni kost.

Mendengar hal itu, YR langsung bergegas menuju lokasi indekost.

Setibanya di tempat kejadian, YR melihat Evia Maria berada di depan pintu masuk kost dengan kondisi sudah meninggal.

Selanjutnya, YR menghubungi pihak kelurahan untuk melaporkan kejadian tersebut.

Tak berselang lama, personel Polsek Tomohon Tengah langsung mendatangi lokasi kejadian. 

Kapolsek Tomohon Tengah IPTU Stenly Tawalujan, bersama tim identifikasi dari Polres Tomohon kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

2. Disemayamkan di Minahasa Utara

Jenazah Evia Maria disemayamkan di rumah kerabat di Perumahan CBA Gold, Teterusan, Mapanget, Minahasa Utara (Minut), Sulut.

Jenazah Evia kini disemayamkan di kediaman Kel. Pdt Roos Merry Kabuhung.

Pendeta Roos merupakan tante Evi Maria yang melayani sebagai Pendeta di Jemaat GMIM Eden Mapanget. 

Keluarga berencana membawa pulang, jenazah Evi Maria ke Ulu Siau, Kepulauan Sitaro, Sulut Rabu (31/12/2025) pagi ini. 

Meskipun demikian, rencana ini batal menyusul keputusan jenazah Evi akan diotopsi. 

Pantauan Tribunmanado.co.id di rumah duka, puluhan orang datang melayat.

Beberapa di antaranya bagian dari Ikatan Kekeluargaan Indonesia Sangihe Sitaro Talaud (IKISST) Sulawesi dan Manado. 

Ayah Evia, Antonius Mangolo dan adiknya, Revan serta kerabat lainnya telah tiba di Manado sejak Rabu dinihari. 

"Kami berencana membawa pulang anak kekasih pagi ini tapi rencana berubah karena katanya mau otopsi" ujar paman Evia, Jhonli Mangolo di rumah duka. 

3. Jenazah Evia Maria Mangolo Akan Jalani Otopsi, Keluarga Temukan Lebam Biru di Tubuh

Jenazah Evia Maria Mangolo, mahasiswi Unima yang meninggal di tempat kos di Tomohon, akan menjalani otopsi di RS Kandou Manado, pada Rabu (31/12/2025).

Otopsi diputuskan oleh keluarga setelah ditemukan sejumlah luka yang membiru di tubuh jenazah.

Ketsia, tante dari Evia bercerita, pada Selasa (30/12/2025) malam di rumah duka di Perum CBA Gold, Mapanget, Minut, Sulut ia memperoleh sebuah dorongan untuk memeriksa kaki dari jenazah.

"Saat itulah ada tanda biru serta tanda seperti luka," katanya.

Beberapa saat kemudian, atas saran seseorang, pihaknya membuka tubuh jenazah dan ditemukan tanda biru di pinggang kiri dan di paha atas.

"Dari situ lantas diputuskan untuk dilakukan otopsi," katanya.

Ia menuturkan, ayah dari almarhum sudah tiba sejak Rabu dini hari.

Rabu pagi, ia bertolak ke Polda untuk persiapan otopsi.

Dia menerangkan, sesungguhnya jenazah direncanakan pulang pada Kamis.

Namun batal karena ada otopsi.

Ketsia menuturkan, pihaknya menyerahkan penanganan kematian itu pada pihak berwajib.

4. Unggah Story Menyentuh Sebelum Natal

Evia Maria, mahasiswi Unima yang ditemukan meninggal di Tomohon dikenal sebagai sosok yang baik, rajin, pintar dan agak pendiam.

Hal ini diutarakan Ketsia, tante korban kepada Tribunmanado.com di rumah persemayaman di Perumahan CBA Gold, Teterusan, Mapanget, Minahasa Utara (Minut), Sulut, Rabu (31/12/2025).

"Ia memang pendiam, tapi rajin," katanya.

Ia bercerita, Evia sangat rajin membuat tugas kelompok.

Kadang, kata dia, saat menginap di rumahnya, Evia sering lupa makan karena kerjakan tugas.

"Saya sering tegur makan dulu, dan ia tetap dengan laptopnya," katanya.

Sebut dia, Evia juga pintar.

Selain itu baik hati.

Meski pendiam, Evia punya semangat tinggi untuk belajar.

Dikatakannya, ia sempat menelepon Evia, apakah hendak pulang saat Natal.

"Jawabnya tidak jadi, karena tidak dapat tiket," katanya.

Dirinya terakhir ketemu Evia pada beberapa bulan lalu.

Kala itu Evia tengah KKN dan mencari tempat kos.

"Ia dan dua temannya sempat menginap di rumah saya dan sewaktu hendak pulang saat itu hujan, ia katakan makaseh (terima kasih) Ma Abo (panggilan Ketsia)," katanya.

Ia mengatakan, sang ponakan sempat mengunggah story tengah mandi di pantai bersama adiknya sebelum Natal.

Lalu menyusul story lainnya.

"Ia unggah sesuatu seperti kertas, mungkin tanda berhasil menyelesaikan KKN dan menulis kado Natal untuk mama," katanya.

KLARIFIKASI - Kolase foto Pihak Universitas Negeri Manado (Unima) saat memberikan klarifikasi dan foto Evia Maria Mangolo mahasiswi PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi di Kantor Pusat Unima yang ditemukan meninggal di Tomohon.
KLARIFIKASI - Kolase foto Pihak Universitas Negeri Manado (Unima) saat memberikan klarifikasi dan foto Evia Maria Mangolo mahasiswi PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi di Kantor Pusat Unima yang ditemukan meninggal di Tomohon. (Tribun Manado/Kolase Tribun Manado/Petrick/Ho)

5. Unima Buka Suara Kasus Kematian Mahasiswi Evia Maria Mangolo di Tomohon

Pimpinan Universitas Negeri Manado (Unima) angkat bicara terkait kasus kematian mahasiswi PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Evia Maria.

‎Kasus ini menjadi sorotan setelah ditemukan surat pernyataan yang ditulis dan ditandatangani korban terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen.

‎Korban ditemukan meninggal dengan tidak wajar di sebuah indekost Kelurahan Matani Satu, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Sulawesi Utara (Sulut), Selasa (30/12/2025).

‎Almarhumah masih tercatat sebagai mahasiswa aktif dan terdaftar sebagai peserta ujian proposal skripsi yang dijadwalkan pada 6 Januari 2026.

‎Terkait hal itu, Rektor Unima Dr Joseph Philip Kambey, S.E., Ak., MBA melalui Kepala Humas Unima, Titof Tulaka buka suara.

‎Ia menyatakan bahwa pihak universitas telah mengambil langkah tegas terhadap terlapor.

‎Pernyataan tersebut disampaikan usai menghadiri rapat internal di Kantor Pusat Unima, Rabu (31/12/2025).

‎Dirinya membenarkan bahwa korban sebelumnya telah melaporkan dugaan kekerasan seksual yang dilakukan oleh oknum dosen berinisial DM.

‎Sebagai tindak lanjut, pihak kampus menjatuhkan sanksi tegas, yaitu pembebastugasan dari seluruh tugas dan tanggung jawab sebagai dosen.

‎Laporan korban tercatat secara resmi di Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Unima.

‎Saat diwawancara, Dekan FIPP Unima, Dr Aldjon Dapa, menegaskan pihak fakultas tidak pernah menerima laporan tertulis terkait kasus tersebut.

‎Menurut Aldjon, laporan yang diterima di tingkat fakultas hanya disampaikan secara lisan.

‎“Saya tegaskan kembali bahwa surat itu tidak pernah sampai kepada saya.

Kami sudah mengecek ke staf tata usaha dan tidak ada surat yang masuk ke Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi,” ujarnya.

‎Ia menjelaskan, setelah menerima laporan lisan, pihak fakultas langsung mengarahkan korban untuk melapor ke Satgas PPKPT Unima.

‎Korban kemudian secara resmi melapor ke Satgas PPKPT pada Jumat, 19 Desember 2025.

‎“Pada tanggal 19 itu korban melapor ke tim satgas dan diterima admin.

Pembaca yang merasa memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan, terlebih pernah terbersit keinginan melakukan percobaan bunuh diri, jangan ragu bercerita, konsultasi atau memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa.

Di Manado anda bisa menghubungi pihak RSJ PROF. DR. V. L. Ratumbuysang. (Ind/Ndo/Art/Ico/Pet)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.