Selain Patung Macan Putih di Kediri, Ini 3 Tugu Maskot Daerah yang Tak Kalah Unik dan Jadi Sorotan
January 02, 2026 01:32 PM

 

SURYA.co.id - Fenomena pembangunan tugu dan patung sebagai ikon daerah kembali menyita perhatian publik.

Sejumlah karya menuai pujian karena nilai estetika dan filosofinya, namun tak sedikit pula yang menuai kritik akibat polemik desain maupun persepsi ketidakseimbangan antara anggaran dan hasil akhir.

Terbaru, patung macan putih di Kediri, Jawa Timur, viral di media sosial karena dinilai warganet lebih menyerupai zebra.

Sebelumnya, beberapa tugu di berbagai daerah juga sempat menjadi sorotan nasional.

Berikut tiga di antaranya, melansir dari Tribunnews.

1. Tugu Biawak Wonosobo: Dibangun Tanpa APBD, Angkat Identitas Lokal

Tugu Krasak Menyawak atau Tugu Biawak di Desa Krasak, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, menjadi salah satu ikon yang ramai diperbincangkan publik.

Mengutip TribunJateng, tugu tersebut dipastikan tidak dibiayai oleh APBD maupun dana desa.

Pembiayaan berasal dari CSR BUMD Kabupaten Wonosobo serta swadaya masyarakat, termasuk gotong royong warga dan penyediaan konsumsi selama proses pembangunan.

Kepala Desa Krasak Supinah dan Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat sama-sama menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak mengalokasikan anggaran APBD untuk proyek ini.

Pemkab justru mendorong peran BUMD guna mewujudkan aspirasi masyarakat setempat.

Bupati Afif bahkan mengapresiasi tugu tersebut karena dinilai mampu mengangkat nama Wonosobo di tingkat nasional.

Karya tersebut digarap Arianto, seniman asal Wonosobo lulusan ISI Surakarta.

Ia sebelumnya dikenal sebagai pelukis dan kemudian mendalami seni patung secara otodidak. 

Arianto enggan mengungkap angka pasti biaya pembangunan, bahkan menyebut isu Rp50 juta terlalu besar dibandingkan kondisi riil pengerjaan yang dilakukan dengan dana terbatas.

PATUNG MACAN PUTIH - Seseorang naik di atas patung macan putih di Desa Balungjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Sabtu (27/12/2025). Kepala Desa setempat mengungkap sumber anggaran pembuatan patung tersebut.
PATUNG MACAN PUTIH - Seseorang naik di atas patung macan putih di Desa Balungjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Sabtu (27/12/2025). Kepala Desa setempat mengungkap sumber anggaran pembuatan patung tersebut. (Facebook Kawan Kediri)

Demi menghadirkan detail yang hidup, ia sampai membeli dan mengamati biawak asli agar patung memiliki “ruh” atau jiwa. Inisiatif pembangunan tugu berasal dari pemuda Karang Taruna Desa Krasak.

Nama Tugu Krasak Menyawak diambil dari istilah Jawa “menyawak” yang berarti biawak. Patung tersebut merepresentasikan fauna endemik yang sejak lama hidup di aliran Sungai Serayu, khususnya di sekitar Jembatan Menyawak, sekitar 100 meter dari lokasi tugu.

Selain nilai ekologis, kawasan ini juga memiliki nilai historis karena menjadi saksi pertempuran pada peristiwa Agresi Militer Belanda I.

Secara visual, patung biawak setinggi sekitar 7 meter dan lebar 4 meter itu menampilkan sosok biawak hitam kekuningan yang tengah merayap di atas bebatuan.

Baca juga: Terungkap Sumber Dana Patung Macan Putih di Kediri yang Disebut Mirip Zebra, Bukan dari Anggaran

2. Patung Penyu Sukabumi: Viral karena Rusak, Kontraktor Buka Data Biaya

Patung penyu di Alun-alun Gadobangkong, Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat, sempat viral setelah mengalami kerusakan.

Bagian dalam patung yang terlihat seperti kardus memicu kecurigaan publik terkait dugaan penyimpangan anggaran.

Dalam laporan Tribun Jabar, pihak rekanan proyek, Imran Firdaus, menegaskan bahwa biaya pembuatan ornamen penyu hanya sekitar Rp30 juta, jauh dari isu miliaran rupiah yang beredar di media sosial.

Ia menjelaskan bahwa patung dibuat menggunakan bahan resin dan fiberglass.

Adapun kardus dan bambu yang tampak dari luar merupakan alat bantu cetakan, bukan bagian dari struktur utama patung.

Kerusakan disebut dipercepat oleh aktivitas pengunjung yang memanjat patung, serta hantaman gelombang pasang setinggi 2,5 hingga 3 meter pada Maret 2024 yang melanda kawasan pesisir Palabuhanratu.

Terkait hasil audit BPK, ditemukan adanya kekurangan volume pekerjaan dan denda keterlambatan dengan total sekitar Rp1 miliar.

Nilai tersebut telah dikembalikan ke kas negara.

Imran juga menegaskan bahwa total nilai proyek pembangunan Alun-alun Gadobangkong mencapai sekitar Rp15,6 miliar termasuk pajak.

Ia berharap pemerintah daerah dan masyarakat dapat lebih serius dalam menjaga dan merawat fasilitas ruang publik tersebut.

3. Patung Gajah Gresik: Desain Tak Lazim Picu Kritik Warga

Patung gajah di Simpang Lima Sukorame, Gresik, Jawa Timur, juga sempat menjadi perbincangan hangat.

Mengutip Tribun Travel, patung tersebut viral karena bentuknya dianggap tidak lazim (tanpa mata dan telinga) sehingga menuai kritik warga yang menilai desainnya jauh dari wujud gajah pada umumnya.

Patung ini berdiri di lokasi strategis yang menghubungkan lima ruas jalan utama di pusat Kota Gresik.

Proyek landmark tersebut disebut menelan anggaran sekitar Rp900 juta hingga hampir Rp1 miliar.

Pendanaan proyek sepenuhnya berasal dari PT Petrokimia Gresik melalui kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Gresik.

Anggaran tersebut tidak hanya mencakup pembangunan patung gajah, tetapi juga dua landmark lain di kawasan sekitar, termasuk biaya tenaga kerja dan material, tanpa pengadaan lahan.

Dalam proyek ini, PT Petrokimia Gresik bertindak sebagai pelaksana dengan menggandeng pihak rekanan.

Sementara itu, desain patung dan penataan kawasan disusun oleh Pemkab Gresik melalui konsultan yang ditunjuk. Hingga saat itu, proyek belum diserahterimakan ke Pemkab Gresik karena masih dalam tahap verifikasi dan penyempurnaan pekerjaan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.