SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Kegemaran membaca sejak kecil mengantarkan Alberta Natasia Adji, lulusan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, menapaki panggung sastra internasional.
Novel terbarunya berjudul The Longing resmi terbit melalui Penguin Random House SEA dan dipasarkan ke pembaca global.
Perempuan yang akrab disapa Natas itu, mengaku kecintaannya pada dunia sastra tumbuh dari kebiasaan membaca yang ditanamkan keluarga sejak usia dini.
Ia menyebut ibunya berperan besar dalam membentuk minat tersebut dengan membebaskannya membaca berbagai genre buku.
“Ibu saya sangat suka membaca dan beliau sangat menekankan pentingnya lancar membaca dan menulis sejak saya dan adik masih kecil."
"Beliau tidak pernah membatasi saya membaca genre apa dan sering membelikan hadiah buku cerita,” ujar Alberta Natasia Adji kepada SURYAMALANG.COM, Jumat (2/1/2026).
Baca juga: Unair Surabaya Terjunkan Tenaga Kesehatan Gabungan untuk Tangani Korban Banjir di Sumatera
Kebiasaan membaca itu terus berlanjut hingga bangku kuliah.
Saat menempuh pendidikan S1 Bahasa dan Sastra Inggris serta S2 Kajian Sastra dan Budaya di Unair, Natasia banyak bersentuhan dengan karya sastra klasik Inggris dan Indonesia yang memperkaya perspektif kepenulisannya.
“Saya menyukai hampir semua buku yang saya baca karena masing-masing membawa saya pada era, tempat, dan kehidupan personal karakter-karakter yang sangat dinamis,” ungkapnya.
Tak berhenti sebagai pembaca, Natasia mulai menyalurkan minatnya melalui dunia kepenulisan.
Ia telah menerbitkan dua novel berbahasa Indonesia, Youth Adagio (2013) dan Dante: The Faery and the Wizard (2014).
Pada Agustus 2025, novel The Longing menjadi tonggak baru perjalanan sastranya karena berhasil menembus penerbit internasional.
Novel The Longing mengangkat kisah tiga perempuan keturunan Tionghoa yang hidup di tiga era berbeda, mulai dari masa pemerintahan Soekarno, Orde Baru, hingga Reformasi.
Ketiganya digambarkan berjuang menghadapi stereotip budaya, persoalan gender, agama, serta tekanan sosial ekonomi yang membatasi pilihan hidup mereka.
Menurut Natasia, cerita dalam novel tersebut tak lepas dari kisah keluarganya sendiri.
Proses penulisan dilakukan secara intensif saat ia berada di Perth, Australia Barat, di tengah pandemi Covid-19.
“Saya sering kali harus menelepon ibu saya di Surabaya untuk menggali cerita-cerita mendiang nenek saya, ibu saya sendiri, dan kisah masa kecil saya yang sudah tidak begitu saya ingat,” tuturnya.
Ia menambahkan, bekal akademik selama berkuliah di FIB Unair berperan besar dalam memperkaya latar cerita novel tersebut, terutama melalui kajian sejarah dan sastra Tionghoa Indonesia.
Selain itu, studi lanjutnya di Edith Cowan University (ECU), Australia Barat, memberinya akses pada sumber-sumber akademik internasional.
Dalam perjalanannya sebagai penulis, Natasia mengakui tantangan terbesar datang dari ketatnya persaingan di industri penerbitan buku.
Menurutnya, penulis dituntut untuk adaptif sekaligus memahami karakter pasar tanpa kehilangan identitas karya.
Ia pun berpesan kepada generasi muda yang bercita-cita menjadi sastrawan agar terus konsisten berkarya dan tidak mudah menyerah.
“Banyak-banyaklah membaca, menulis, dan mengobservasi sekitar."
"Jangan mudah menyerah dan selalu ingat genre atau jenis buku apa yang hendak kalian tulis."
"Tidak perlu terlalu terpaku pada tren, karena saat buku kalian terbit, tren bisa saja sudah berubah,” pungkasnya.