TRIBUNJAMBI.COM – Kabar duka yang menyelimuti keluarga Evia Maria Manggolo perlahan berubah menjadi kenyataan pahit yang jauh lebih menyakitkan.
Orang tua Evia Maria akhirnya mengetahui bahwa putri mereka diduga menjadi korban pelecehan oleh seorang oknum dosen Universitas Negeri Manado (Unima) berinisial DM.
Awalnya, keluarga hanya menerima kabar bahwa Evia Maria ditemukan meninggal dunia secara tidak wajar di kamar kosnya pada Rabu (31/12/2025).
Namun seiring berjalannya waktu, fakta demi fakta terungkap dan menunjukkan bahwa sebelum meninggal, Evia Maria diduga mengalami tekanan psikologis berat akibat peristiwa pelecehan yang dialaminya di lingkungan kampus.
Peristiwa ini meninggalkan luka mendalam bagi keluarga.
Rasa syok, duka, dan amarah bercampur menjadi satu, terlebih karena kampus yang seharusnya menjadi tempat aman justru menjadi sumber trauma bagi almarhumah.
Baca juga: Ikuti Jejak SBY, Megawati Akan Tempuh Jalur Hukum Soal Tudingan Jatuhkan Jokowi Lewat Ijazah Palsu
Baca juga: Menghina Pemerintah yang Mengakibatkan Kerusuhan Bisa Ditahan, Tertuang dalam KUHP dan KUHAP Baru
Kini, dosen berinisial DM telah dikenakan sanksi sementara berupa pembebastugasan guna mempermudah proses penyelidikan yang tengah berjalan.
Ayah korban, Antonius Manggolo, menegaskan bahwa keluarga besar berharap aparat penegak hukum dapat bekerja secara maksimal dan transparan.
Ia meminta agar penyebab kematian putrinya diusut tuntas tanpa ada yang ditutupi.
“Saya mohon kasus ini dibuka seterang-terangnya. Jangan ada yang disembunyikan,” ujarnya dengan suara bergetar.
Menurut Antonius, kepergian Evia Maria menyisakan banyak kejanggalan yang tidak bisa dijawab hanya dengan dugaan semata.
Saat ini, jenazah Evia Maria telah menjalani proses otopsi di RS Bhayangkara Manado.
Keputusan tersebut sempat menjadi perdebatan di internal keluarga.
Awalnya, keluarga menolak tindakan otopsi karena masih dalam kondisi berduka.
Namun sikap itu berubah setelah mereka melihat adanya memar kebiruan di sejumlah bagian tubuh jenazah.
Demi mendapatkan kepastian medis mengenai penyebab kematian, keluarga akhirnya mengizinkan proses otopsi dilakukan.
Kronologi Dugaan Pelecehan Terungkap Lewat Surat
Sebelum meninggal dunia, Evia Maria meninggalkan secarik kertas yang kini menjadi kunci penting dalam mengungkap peristiwa yang dialaminya.
Surat tersebut ditujukan langsung kepada Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Unima, Dr. Aldjon Dapa, M.Pd.
Dalam surat itu, Evia Maria secara terbuka menuliskan dugaan pelecehan seksual yang menurutnya dilakukan oleh dosen berinisial DM.
Ia menguraikan kronologi kejadian secara detail, sekaligus menggambarkan dampak psikologis yang dirasakannya setelah peristiwa tersebut.
Korban menuliskan bahwa kejadian bermula dari sebuah pesan singkat yang diterimanya pada Jumat, 12 Desember.
Sekitar pukul 13.00 WITA, terduga pelaku menghubunginya melalui pesan singkat dan meminta korban untuk mengurut tubuhnya.
Korban mengaku bingung dan menolak secara halus dengan mengatakan bahwa dirinya tidak tahu cara mengurut.
Namun, pesan balasan dari dosen tersebut justru membuat korban semakin tidak nyaman.
Dalam suratnya, Maria menegaskan bahwa sejak awal ia merasa permintaan tersebut bukanlah hal yang pantas dan tidak termasuk dalam kewajibannya sebagai mahasiswa.
Ia juga menyebut bahwa kejadian itu berlangsung di lingkungan kampus FIPP, tempat yang seharusnya menjunjung tinggi etika dan profesionalisme.
Akibat peristiwa tersebut, korban mengaku mengalami trauma mendalam.
Ia merasa takut, tertekan, dan malu, terutama saat harus berhadapan dengan terduga pelaku di lingkungan kampus.
Dalam surat itu, Maria menuliskan bahwa ia sering merasa cemas jika terlihat bersama dosen tersebut karena khawatir menjadi bahan pembicaraan mahasiswa lain.
Tekanan batin itu membuatnya merasa tidak aman di kampus.
Dipaksa Naik Mobil dan Rasa Tak Aman
Peristiwa berlanjut ketika korban diminta untuk naik ke mobil dosen tersebut.
Awalnya, korban tidak menaruh kecurigaan berlebihan dan mengira hal tersebut berkaitan dengan urusan akademik.
Namun, sejak perjalanan dimulai, rasa tidak nyaman mulai muncul.
Korban sempat menanyakan tujuan perjalanan, termasuk kaitannya dengan nilai atau urusan kuliah.
Namun jawaban yang diterimanya justru tidak jelas dan hanya menyebutkan bahwa dosen tersebut merasa sangat lelah.
Perasaan tidak aman semakin meningkat.
Dalam kondisi tertekan, korban diam-diam mengirim pesan kepada temannya dan membagikan lokasi secara langsung.
Ia meminta temannya untuk tetap memantau pergerakannya dan bersiaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Situasi semakin menegangkan ketika baterai ponsel korban mulai menipis.
Korban merasa panik dan takut kehilangan kontak dengan dunia luar.
Mobil sempat berhenti di samping gedung pascasarjana.
Di lokasi tersebut, korban mengaku dipaksa untuk berpindah ke kursi depan.
Ia menolak, namun tetap didesak dengan dalih agar “melangkah saja”.
Dalam kondisi tertekan dan ketakutan, korban akhirnya menuruti permintaan tersebut.
Mobil kemudian kembali melaju hingga ke depan Program Studi Psikologi.
Permintaan “Urut” yang Berujung Pelecehan
Setibanya di lokasi, situasi disebut semakin mencekam.
Korban menuliskan bahwa dosen tersebut merebahkan sandaran kursi dan kembali meminta untuk diurut.
Ia menolak dengan alasan tidak mengetahui caranya.
Namun penolakan itu tidak menghentikan tindakan terduga pelaku.
Korban mengaku tangan dosen tersebut mulai menyentuh bagian belakang tubuhnya, lalu berpindah ke area paha tanpa persetujuan.
Ucapan bernada seksual pun dilontarkan, membuat korban merasa terhina dan ketakutan.
Maria menegaskan bahwa tindakan tersebut sudah melampaui batas kewajaran.
Ketika korban meminta untuk diantar pulang dengan alasan temannya telah menunggu, terduga pelaku sempat meminta maaf dan menyebut dirinya “keenakan”.
Namun situasi kembali memburuk ketika dosen tersebut meminta izin untuk mencium korban.
Maria menolak sambil menangis, tetapi ia mengaku pipinya tetap ditarik dan dicium secara paksa.
Korban berusaha melawan dengan menutup mulut dan mendorong pelaku menjauh.
Di tengah kejadian itu, mobil sempat melintas di depan dua petugas keamanan kampus.
Pelaku hanya menurunkan kaca dan menyapa satpam, seolah tidak terjadi apa pun.
Korban akhirnya diturunkan di depan program studi sekitar pukul 15.03 WITA.
Ia mengaku merasa jijik, marah, dan kecewa karena perilaku dosen tersebut bertolak belakang dengan nilai seorang pendidik.
Dalam surat pengaduannya, Maria menyatakan mengalami trauma, ketakutan, dan tekanan mental yang berat.
Ia juga menuliskan bahwa terduga pelaku sempat kembali menghubunginya melalui pesan singkat beberapa hari kemudian, namun tidak ia tanggapi.
Sebagian bukti percakapan disebut terhapus akibat fitur pesan sementara, sementara sebagian lainnya sempat ia simpan melalui tangkapan layar.
Melalui surat tersebut, korban memohon agar pimpinan Unima segera bertindak tegas.
Ia menegaskan bahwa kejadian itu terjadi di lingkungan kampus dan telah merusak rasa aman serta kesehatan mentalnya sebagai mahasiswa.
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa sebelum tragedi terjadi, Evia Maria sempat melaporkan dugaan pelecehan tersebut kepada dosen pembimbing akademiknya, namun laporan itu diduga tidak mendapatkan tindak lanjut yang memadai.