Laporan Wartawan TribunGayo Fikar W. Eda I Aceh Tengah
TribunGayo.com, TAKENGON - Kabri Wali, seniman didong Gayo, tak pernah membayangkan akhir November itu akan menjadi salah satu hari paling pilu.
Pada 26 November 2025, kabar bencana banjir bandang di Kecamatan Bintang sampai ke telinganya. Kampung halaman orang tua dan saudara-saudaranya berada di sana.
Hari itu sepanjang malam orang orang dari sejumlah kampung di sisi Danau Lut Tawar datang ke Takengon lewat dermaga Al-Fitrah untuk mengungsi.
Tanpa menunggu lama, Kabri berangkat dari Takengon menuju Bintang.
Sesampainya di sana, dadanya serasa dihantam kenyataan.
Beberapa kampung telah porak-poranda.
Rumah-rumah hancur, ladang dan sawah rusak, dan warga menyelamatkan diri.
Syukurnya, orang tua dan saudara Kabri selamat.
Namun luka batin tak mudah reda ketika melihat tetangga dan kerabat kehilangan segalanya.
Setelah memastikan keluarganya aman, Kabri kembali ke Takengon.
Kesedihan itu tak dibiarkannya menjadi diam. Pada 27 November, ia bersama kawan-kawannya berinisiatif membuka posko kemanusiaan secara swadaya di Dermaga Al-Fitrah, Takengon, Aceh Tengah.
Tak ada komando, tak ada anggaran resmi. Yang ada hanya rasa tanggung jawab sebagai anak Gayo dan sesama manusia.
Banyak warga dari Bintang dan kampung-kampung sekitarnya kehilangan tempat tinggal.
Rumah mereka hancur dihantam banjir bandang.
Ada yang sakit, ada pula yang harus segera dibawa ke rumah sakit. Kabri dan kawan-kawan bergerak dengan apa yang mereka punya.
Dengan mobil bak terbuka miliknya, Kabri kerap mengantar warga sakit ke Rumah Sakit Umum Daerah Datu Beru.
Ia juga mengoordinasikan bantuan ke beberapa desa terdampak. Siang dan malam nyaris tak berjarak dan lelah seolah tak punya ruang.
“Sedih sekali,” ucapnya lirih, mengenang hari-hari awal pascabencana saat berbincang dengan TribunGayo di Dermaga Al-Fitrah, 2 Januari 2025.
Bantuan pemerintah daerah baru hadir beberapa waktu kemudian.
Usulan kebutuhan tenaga kesehatan yang disampaikan Kabri baru mendapat respons sekitar sepekan setelah bencana. Padahal kondisi di lapangan mendesak.
Data kerusakan mencatat, sekitar 50 rumah hancur total di Kala Segi. Di Kampung Genuren, 26 kepala keluarga terdampak dengan rumah rusak berat. Di Telpam, 10 rumah hacur. Di Kenawat, puluhan rumah rusak.
Kampung Kelitu, Gegarang, dan Lelabu mengalami kerusakan berat.
Di tengah keterbatasan, langkah kecil Kabri Wali dan kawan-kawan menjadi penyangga harapan.
Seperti didong yang ia nyanyikan—lahir dari rasa, luka, dan kebersamaan—posko di Dermaga Al-Fitrah menjadi saksi bahwa kemanusiaan kerap bergerak lebih dulu, bahkan sebelum bantuan resmi tiba.(*)
Baca juga: Status Siaga, Aktivitas Vulkanik Gunung Api Burni Telong di Bener Meriah Masih Tinggi
Baca juga: Bantuan Seniman untuk Seniman di Tanoh Gayo Pascabencana Hidrometeorologi