Sosok Kopda Fitrah, Senior TNI Aniaya Pratu Farkhan sampai Tewas: Dada Ditendang dan Dipukul Ranting
January 02, 2026 05:54 PM

TRIBUNBENGKULU.COM - Heboh Pratu Farkhan Syauqi Marpaung diduga dianiaya oleh seniornya sampai tewas saat bertugas pengamanan perbatasan Indonesia–Papua Nugini. 

Pratu Farkhan dikabarkan tewas pada Rabu (31/12/2025) sekitar pukul 09.00 WIT.

Sosok senior TNI yang diduga menganiaya Pratu Farkhan adalah Kopda Fitrah.

Kejadian tragis ini bermula ketika Pratu Farkhan bersama anggota Titik Kuat (TK) Sanepa melaksanakan kegiatan rutin korve pembuatan tanggul pertahanan pos hingga pukul 12.00 WIT.

Saat waktu istirahat, Pratu Farkhan sempat beristirahat di rumah. Namun sekitar pukul 13.30 WIT, ia terlihat berjemur di dekat dapur TK Sanepa dan mengeluhkan tubuh menggigil serta merasa sakit saat ditanya oleh Serda Muhammad Rizal.

Tak lama kemudian, Pratu Farkhan dipanggil oleh Kopda Fitrah ke area samping dapur. Di lokasi tersebut, Kopda Fitrah diduga memerintahkan korban membungkuk dan memukul punggungnya menggunakan kayu ranting kering.

Adu argumen pun terjadi setelah korban menyatakan dirinya dalam kondisi sakit.

Kopda Fitrah kemudian disebut memerintahkan korban melakukan sikap tobat, sebelum menendang dada kiri Pratu Farkhan hingga korban terjatuh dan merintih kesakitan.

Peristiwa tersebut dilaporkan ke Dansatgas Pamtas RI–PNG Yonif 113/JS. Namun sekitar pukul 14.15 WIT, tim kesehatan Bakes dan Takes TK Sanepa menyatakan Pratu Farkhan Sauqi Marpaung meninggal dunia.

Pascakejadian, Kopda Fitrah diamankan ke Kotis untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Pratu Farhan Memang Sedang Sakit 

Anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Zakaria Marpaung dan Marsinah Wati Silalahi itu dikenal sosok yang sangat sayang dengan keluarga.

Lulusnya ke TNI Angkatan Darat menjadi kebanggan bagi keluarga. Sebab, Farkhan juga besar dari keluarga besar yang berjasa bagi negara di bidang militer dan kepolisian.

Marsinah mengaku, anaknya tersebut merupakan anak yang taat kepada orang tua dan selalu memberi kabar meskipun sedang bertugas.

"Dia anak pertama, dia anak yang sangat sayang dengan keluarga, apalagi dia setiap hari menghubungi saya untuk memberi kabar," ujar Marsinah, Jumat (2/1/2025).

Katanya, terakhir Pratu Farkhan Syauqi Marpaung menghubunginya sesaat korban meninggal dunia dan mengabarkan dirinya sedang sakit.

"Dia nelfon saya sebelum meninggal dunia itu. Dia bilang dia sakit, katanya kalau ga tipes atau malaria. Namun, dia dalam kondisi yang baik-baik saja," ujarnya.

Katanya, Pratu Farkhan Syauqi Marpaung juga merupakan sosok yang perduli dengan keluarga. Sebab, setiap menelpon selalu menanyai kabar keluarga.

"Terakhir saat dia telfon itu saya sedang ada rapat di kantor, saya tidak lama bercerita saat di telfon itu," katanya.

Ia menyayangkan sikap seniornya yang diduga tidak memliki empati sehingga korban meninggal dunia.

"Kenapa mereka tidak percaya kalau anak saya sakit. Kenapa mereka malah menganiaya anak saya," pungkasnya.

Ungkapan Kekecewaan Ayah Pratu Farkhan 

Ayah Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, Zakaria Marpaung mengaku mendapatkan kabar dari keponakannya yang juga bertugas di satuan TNI.

Kabur tersebut membuat jantung Zakaria nyaris terhenti karena mendengar nyawa anaknya meninggal bukan diujung senjata kelompok sparatis, melainkan di bawah tangan seniornya sendiri.

"Aku bicara hari ini, bukan hanya untuk anakku Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, tapi untuk anak-anak semua yang berada di level terendah di TNI atau tamtama," ujar ayah Korban, Zakaria Marpaung, Jumat (2/1/2025).

Katanya, tantama hingga saat ini masih menjadi bahan Bullyan bagi para seniornya sehingga tidak menutup kemungkinan hingga menjerumus ke kekerasan.

"Aku bukan soal sebagai ayah Pratu Farkhan, tapi aku mewakilkan mamak-mamak, ayah-ayah yang anaknya saat ini mengabdi di TNI. Dimana tanggung jawab seorang pemimpin," katanya.

Ia mengaku, bangga anaknya dapat menjadi TNI, sebab keluarga besarnya berasal dari satuan loreng hijau dan satuan coklat polri.

Namun, dia mengaku trauma dengan pakaian dinas TNI setelah anaknya diduga mengalami penganiayaan oleh seniornya. 

"Seragam TNI itu adalah seragam kebangganku, seragam kebanggan anakku. Tapi aku berharap, jangan ada yang pakai baju dinas TNI untuk ke rumah duka kami ini. Aku trauma," katanya.

Katanya, apabila melihat pria berpakaian dinas, ia mengira bahwa yang datang adalah terduga pelaku berpangkat kopral.

"Aku kalau melihat orang berpakaian dinas, aku merasa kalau yang datang itu si kopral kurang ajar itu," ungkapnya.

"Kalau tidak, jumpakan aku dengan Kopral kurang ajar itu. Biar beradu nyawa aku juga sanggup dengan dia itu," pungkasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.