Warga Lampung Timur Dihantui Rasa Takut Dari Kawanan Gajah Liar TNWK
January 02, 2026 04:19 PM

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LAMPUNG TENGAH - Sebanyak 17 ekor kawanan gajah liar memasuki areal perladangan warga hingga merenggut nyawa Kepala Desa Braja Asri Darusman pada Rabu (31/12/2025).

Kedatangan gajah liar Taman Nasional Way Kambas (TNWK) bukan yang pertama kali terjadi, namun adanya korban jiwa makin menambab ketakutan warga akan bahaya yang ditimbulkan oleh hewan yang dilindungi tersebut.

Eko selaku warga Desa Braja Asri, Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur mengaku rata-rata madyarakat di wilayah tersebut dihantui rasa ketakutan akan kedatangan gajah liar.

"Pasti takut to mas, hewan sebesar itu, datang sewaktu-waktu. Dan kita terpaksa berhadapan dengan mereka hanya untuk mempertahankan hasil tani kita, walaupun hasilnya nggak seberapa," kata Eko kepada Tribunlampung.co.id, Jumat (2/1/2026).

Eko menjelaskan, kawanan gajah liar masuk ke areal peladangan atau bahkan ke permukiman warga sudah berlangsung selama puluhan tahun.

Menurutnya, kawanan gajah liar yang masuk ke areal warga tidak bisa diprediksi waktu dan jumlahnya.

Dikatakan Eko, ada kalanya rombongan gajah hanya datang 3 ekor, namun ada kalanya satu rombonan bisa mencapai puluhan ekor.

"Kadang datang 3, lain waktu datang 11, dulu sempat kejadian ada beberapa koloni bergabung jadi satu dengan jumlah perkiraan ada 60 ekor lebih kayaknya," ujar dia.

Untuk arah kedatangannya, sambung Eko, tidak bisa gajah liar diklaim masuk dari satu titik saja.

Sebab, Eko mendengar kabar bahwa kejadian 17 ekor gajah yang datang ke perladangan warga datang dari Desa sebelah, namun berlabuh di Desa Braja Asri.

Kemudian, saat reporter Tribunlampung.co.id berbincang dengan Eko, dia menunjukkan jarak antara kawasan hutan TNWK dengan Desa Braja Asri yang bahkan masih bisa terjangkau oleh pandangan mata.

"Kalau dari tempat kita berdiri, batas wilayah Desa Penyangga Braja Asri dengan TNWK sekitar 150 meter itu mas, dipisahkan sungai dan barisan pohon yang tumbuh di bantaran sungai," kata Eko.

Namun demikian, Eko memastikan jarak tersebut masih aman untuk beraktivitas lantaran kebiasaan gajah yang keluar saat malam hari.

Akan tetapi, sembari tersenyum menahan prihatin, Eko mengungkapkan kerugian terbesar yang pernah dialami oleh satu orang warga hingga ratusan juta.

Eko mengatakan, kerugian tersebut dialami seorang petani semangka di lahan 2 hektar.

"Pernah tahun-tahun dulu, petani semangka merugi lebih dari Rp 100 juta karena dimakan gajah. Posisi sudah 55 hari atau tinggal menghitung hari menjelang panen," ujarnya.

Belajar dari pengalaman tersebut, akhirnya Eko dan petani setempat berjaga saat mendekati musim panen.

Tujuannya supaya gajah liar tidak memakan habis hasil panen warga.

Sehingga muncul lah upaya untuk menghalau kawanan gajah liar dari warga setempat, dan menggunakan petasan sebagai alat untuk menggiring tanpa melukai gajah.

Seperti yang dilakukan saat Kepala Desa Braja Asri bersama ratusan warga menghalau 17 ekor gajah liar pada Rabu lalu.

"Sebenarnya kami tahu tujuan gajah untuk mencari makan, mereka pergi kalau sudah kenyang. Tapi kalau nggak dihalau, bisa satu malaman gajah menetap di perladangan, bisa habis semua tanaman petani," kata dia.

Eko pun berharap dari kejadian terakhir ada upaya konkret dari pemangku kebijakan setempat.

Dia mengaku bahwa warga tidak memiliki masalah dengan gajah selama tanaman pangan mereka aman.

Warga Braja Asri dan Desa penyangga lain hanya ingin konflik gajah liar dengan manusia dihindari, dan tidak terjadi lagi di kemudian hari.

"Kami faham gajah adalah hewan yang dilindungi, kami pun berkenan jika bisa hidup berdampingsn dengan gajah, namun untuk pemerintah setidaknya bisa melakukan sesuatu supaya bisa mencegah kawanan gajah liar masuk ke areal warga," tutupnya. 

( TRIBUNLAMPUNG.CO.ID / Fajar Ihwani Sidiq )

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.