TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Lonjakan kunjungan wisatawan ke Yogyakarta selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) menegaskan pergeseran tren pariwisata ke arah micro tourism.
Kemudahan akses jalan tol dan persepsi keamanan bencana menjadi faktor utama meningkatnya arus wisata ke destinasi jarak dekat tersebut.
Peneliti Pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. M. Yusuf, M.A., mengatakan pola perjalanan wisata berskala kecil, jarak dekat, dan berdurasi singkat kini menjadi pilihan utama wisatawan.
Selain menekan biaya, micro tourism dinilai tetap mampu memenuhi kebutuhan rekreasi dengan risiko yang lebih terkendali.
“Wisatawan mempersepsikan Jogja memiliki tingkat keamanan yang tinggi atau risiko kerawanan yang rendah sehingga banyak sekali wisatawan hingga membludak,” ujar Yusuf.
Menurut Yusuf, kemudahan aksesibilitas melalui jaringan jalan tol yang memangkas waktu tempuh turut memperkuat tren tersebut.
Yogyakarta dan sejumlah kota tujuan wisata lain menjadi magnet utama pada momentum Nataru karena dapat dijangkau dengan cepat dari berbagai wilayah.
Namun, Yusuf mengingatkan bahwa lonjakan wisatawan perlu diimbangi kesiapan mitigasi bencana di setiap destinasi.
Ia menekankan pentingnya roadmap mitigasi yang jelas dan terukur.
“Pertama, identifikasi potensi bencana. Kedua, bagaimana menggunakan sumber daya baik untuk menjadi satu modal atau kekuatan dalam merespon bencana. Ketiga, jika terjadi bencana apa yang harus dilakukan,” katanya.
Selain mitigasi, persoalan penumpukan wisatawan atau overtourism pada akhir pekan juga menjadi perhatian.
Baca juga: Taman Pintar Yogyakarta Catatkan 720 Ribu Pengunjung di Sepanjang 2025
Yusuf mendorong pengembangan wisata hari kerja melalui konsep health and wellness tourism guna mengurangi beban infrastruktur dan memecah konsentrasi pengunjung.
“Sasarannya adalah segmen pengusaha, pensiunan, hingga pekerja remote yang tidak terikat jam kantor,” jelasnya.
Ia juga melontarkan kritik terhadap wacana subsidi tiket pesawat yang dinilai tidak menyentuh akar persoalan mahalnya biaya transportasi udara.
“Orang jadi berpikir dua kali untuk berwisata jauh itu karena harga tiket pesawat tinggi. Gagasan subsidi tiket hanyalah bahasa pemasaran. Lebih tepat jika ditempuh melalui prosedur penurunan pajak suku cadang pesawat dan maskapai bandara juga harga avtur,” tuturnya.
Terkait tren kerja jarak jauh, Yusuf menilai konsep work from mall kurang tepat dan mendorong pengembangan work from tourism destination berbasis masyarakat.
“Ketimbang kita menghidupkan kapitalis, mari kita coba berpihak kepada masyarakat rentan melalui desa wisata yang dikelola masyarakat,” ujarnya.
Yusuf turut menekankan pentingnya pariwisata inklusif karena kebutuhan rekreasi merupakan hak seluruh lapisan masyarakat.
Ia mengapresiasi pembangunan ruang publik gratis oleh pemerintah daerah hingga tingkat kecamatan, namun mengingatkan agar pengelolaannya dilakukan secara profesional.
“Pariwisata inklusif sejatinya harus mampu menarik minat masyarakat luas, termasuk dari luar daerah. Tentunya dengan memegang teguh prinsip pengelolaan yang baik dan aspek keselamatan bencana,” pungkasnya. (*)