Gelombang Protes Gen Z Bikin Iran Lumpuh: 21 Provinsi Shutdown
January 02, 2026 05:20 PM

SERAMBINEWS.COM - Iran dilaporkan mengalami kelumpuhan nasional setelah gelombang demonstrasi besar yang dipimpin Generasi Z meluas ke berbagai wilayah.

Sedikitnya 21 dari 31 provinsi mengalami shutdown, ditandai dengan penutupan kantor pemerintahan, universitas, pasar, dan aktivitas bisnis pada Rabu (waktu setempat).

Di banyak kota besar, jalan utama dijaga ketat aparat keamanan, dengan pembatasan pergerakan warga untuk mencegah berkumpulnya massa.

Di Teheran, aktivitas pasar tradisional dan pusat perbelanjaan berhenti total setelah pedagang menutup tokonya.

Kondisi serupa juga terjadi di Shiraz, Isfahan, Kermanshah, dan Lorestan, di tengah meningkatnya ketegangan antara demonstran dan aparat keamanan.

Pemerintah menyatakan penutupan ini sebagai langkah pengamanan untuk menjaga stabilitas dan mencegah meluasnya kerusuhan.

Namun, di lapangan, shutdown juga mencerminkan tekanan besar terhadap sistem administrasi negara yang kesulitan beroperasi di tengah gelombang protes.

Sumber keamanan menyebut aparat dikerahkan secara masif di titik-titik vital, termasuk kompleks pemerintahan, fasilitas energi, dan jalur transportasi utama.

Beberapa wilayah mengalami gangguan layanan, termasuk pembatasan jam operasional transportasi umum dan pengawasan ketat terhadap arus keluar-masuk kota.

Baca juga: Apakah Gaji PNS Jadi Naik Januari 2026 Ini? Menkeu Purbaya Beri Jawaban, Simak Penjelasan Terbarunya

Gen Z Tuntut Rezim Mundur

Adapun aksi shutdown diberlakukan setelah mahasiswa dan kaum muda generasi Z turun ke jalan menuntut perubahan di tengah krisis ekonomi yang kian memburuk.

Aksi protes awalnya muncul di pusat-pusat perdagangan, termasuk pasar ponsel di Teheran, ketika para pedagang mengeluhkan lemahnya transaksi akibat harga impor yang melambung dan menurunnya minat beli masyarakat.

Namun situasi makin parah setelah memperoleh tekanan ekonomi jangka panjang akibat sanksi internasional yang kembali diberlakukan sejak 2018, menyusul penarikan Amerika Serikat dari perjanjian nuklir Iran.

Sanksi tersebut membatasi akses Iran ke pasar global, melemahkan sektor energi dan perbankan, serta berdampak langsung pada stabilitas ekonomi domestik.

Dalam beberapa bulan terakhir, tekanan ini semakin terasa ketika inflasi melonjak dan biaya hidup naik tajam, sementara pendapatan masyarakat tidak mengalami peningkatan signifikan.

Situasi tersebut lantas memicu ketidakpuasan yang merembet ke kampus-kampus.

Alhasil mahasiswa dan Gen Z Iran yang menghadapi pengangguran tinggi, masa depan yang tidak pasti, serta keterbatasan peluang ekonomi, mulai turun ke jalan sebagai bentuk protes.

Menuntut pengunduran diri rezim, seiring memburuknya kondisi ekonomi dan meningkatnya kemarahan publik terhadap kebijakan pemerinta

Baca juga: Bencana Siklon Senyar Sumatra 2025: Duka Lintas Agama, Etnik, dan Asa di Tahun 2026

PM Pezeshkian Serukan persatuan 

Pasca aksi demo memanas, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menyerukan persatuan nasional di tengah gelombang demonstrasi yang terus meluas di berbagai wilayah.

Seruan tersebut disampaikan saat pemerintah berupaya mencegah eskalasi protes yang dipicu tekanan ekonomi dan ketidakpuasan publik.

Dalam pidato yang dikutip Al Jazeera, Pezeshkian menyatakan bahwa krisis ekonomi yang memicu aksi demonstrasi merupakan bagian dari apa yang ia sebut sebagai “perang skala penuh” terhadap Iran.

Ia menegaskan tekanan tersebut tidak hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi juga diperkuat oleh dinamika internal yang secara bertahap melemahkan ketahanan nasional.

Pezeshkian menilai bahwa bentuk tekanan terhadap Iran saat ini tidak lagi didominasi oleh konfrontasi militer terbuka, melainkan melalui tekanan ekonomi yang dirancang untuk memicu keresahan sosial dan instabilitas domestik.

Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi dimanfaatkan untuk memperlemah posisi negara di tengah situasi geopolitik yang semakin kompleks.

Di hadapan publik, Presiden Iran mengimbau masyarakat agar tetap bersatu dan tidak terpecah oleh situasi sulit yang sedang dihadapi.

Ia menekankan bahwa kekompakan nasional menjadi faktor kunci dalam menghadapi tantangan ekonomi dan politik, sekaligus menjaga stabilitas negara.

Di sisi lain, pemerintah juga menyampaikan peringatan keras terkait keamanan nasional.

Pendekatan ini menunjukkan strategi ganda pemerintah Iran, yakni meredam ketegangan melalui ajakan persatuan, sembari tetap mempertahankan kontrol keamanan guna mencegah meluasnya gangguan ketertiban.

Respons tersebut mencerminkan kekhawatiran otoritas Iran bahwa krisis ekonomi berkepanjangan berpotensi berkembang menjadi tantangan politik yang lebih luas jika tidak dikelola secara hati-hati.

Hingga kini, pemerintah terus memantau situasi dan menyiapkan langkah lanjutan untuk menjaga stabilitas nasional di tengah meningkatnya tekanan publik.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.