TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Dewan Pengurus Daerah (DPD) Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar), Arief R Pabettingi, menyebut kinerja ekspor Sulawesi Selatan (Sulsel) sepanjang tahun 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2024.
Penurunan tersebut dinilai tidak signifikan di angka 3 sampai 5 persen.
Penurunan ekspor Sulsel itu pun dinilai masih relatif stabil.
Sebab, Sulsel bukan kawasan industri besar, melainkan daerah dengan basis ekonomi masyarakat.
Sehingga pergerakan ekspornya cenderung bertumpu pada sektor primer.
Lima komoditas utama ekspor Sulsel sepanjang 2025 masih didominasi nikel, rumput laut, hasil olahan ikan, budidaya perikanan, serta sektor pertanian.
“Komoditas tersebut selama ini menjadi penopang utama ekspor Sulsel,” kata Arief, di Makassar, Jumat (2/1/2026).
Untuk 2026, Arief memprediksi struktur komoditas ekspor Sulsel tidak akan mengalami perubahan signifikan.
Menurutnya, sektor perikanan, kelautan, dan pertanian masih akan menjadi kekuatan utama.
Termasuk komoditas ikan, rumput laut, kayu olahan, serta kakao.
Dari sisi pasar tujuan, Arief menyebut ada beberapa negara tujuan utama ekspor Sulsel sepanjang 2025.
Yakni Jepang, China, Korea, dan Malaysia,
Selain itu, beberapa negara di kawasan Afrika seperti Mesir, Nigeria, dan Tunisia mulai menunjukkan peningkatan aktivitas perdagangan dengan Sulsel.
Terkait proyeksi 2026, Arief menilai kondisi ekonomi global diperkirakan tidak akan jauh berbeda dengan 2025.
Meski terdapat ketegangan geopolitik global, seperti antara China dengan Amerika Serikat dan Korea, ia menilai dampaknya terhadap ekspor Sulsel masih relatif terbatas.
“Kondisi 2026 saya lihat tidak jauh berbeda dengan 2025, sangat tergantung pada kondisi ekonomi dunia,” jelas Arief.
Nikel Masih Mendominasi
Data terakhir BPS Sulsel, nikel merupakan komoditas ekspor tertinggi Sulsel pada Oktober 2025.
Persentase ekspor niker Sulsel mencapai 60,46 persen dari total ekspor.
Kemudian diikuti komoditas kakao sebesar 15,59 persen, biji-bijian berminyak 8,00 persen, besi dan baja 6,45 persen, serta ikan dan udang 2,84 persen.
Ketua Tim Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sulsel, Suri Handayani, mengatakan nilai ekspor Januari sampai Oktober 2025 mengalami penurunan sebesar 20,98 persen.
“Penurunan ini terutama disebabkan oleh melemahnya ekspor beberapa komoditas utama,” katanya pada rilis BPS Sulsel periode Desember 2025.