Jadwal Transfer Januari Chelsea: Target Rekrutan Ganda Rp860 M dan Raheem Sterling Menuju Fulham
January 02, 2026 07:52 PM

 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Ada fase dalam karier pesepak bola ketika angka, statistik, dan harga pasar tak lagi mampu menjelaskan luka batin seorang pemain.

Raheem Sterling kini berada di fase itu. Di usia tiga puluh satu tahun, ketika pengalaman seharusnya menjadi modal utama, Sterling justru terjebak dalam pengasingan tak resmi di Chelsea. Tidak cedera, tidak pula skorsing. Ia hanya tidak lagi dianggap.

Keputusan Sterling untuk menolak West Ham dan berharap Fulham menjadi pelabuhan barunya bukan sekadar urusan taktik transfer.

Ini adalah tentang harga diri, keluarga, dan keinginan mengendalikan nasib sendiri setelah kariernya perlahan tergerus sejak meninggalkan Manchester City.

Baca juga: Jadwal Bola Sabtu - Senin Siaran SCTV, Moji TV, ANTV dan man City vs Chelsea live TV Online

Chelsea hampir merampungkan transfer ganda senilai empat puluh dua juta poundsterling, setara sekitar Rp840 Miliar, untuk memperkuat lini serang mereka.

Ironisnya, langkah agresif ini justru semakin mempersempit ruang Sterling di Stamford Bridge.

Pesan dari manajemen jelas, era Sterling telah berakhir.

Mengapa Fulham, Bukan West Ham

Sterling bukan tanpa peminat. West Ham datang dengan kebutuhan mendesak, berada di zona degradasi, siap menggelontorkan dana besar demi bertahan hidup.

Namun bagi Sterling, itu bukan solusi. Ia tidak ingin menjadi tambalan darurat. Ia ingin kepastian.

Menurut laporan The Times, Sterling menolak tawaran West Ham karena hanya tertarik pada kepindahan permanen.

Fulham menawarkan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang, stabilitas.

Klub London Barat itu bukan tim panik, bukan pula klub yang memaksanya menjadi penyelamat instan.

Ada faktor personal yang tidak bisa diabaikan.

Sejak musim panas lalu, Sterling menolak Juventus dan Bayer Leverkusen demi tetap berada di London, dekat dengan keluarga.

Dalam dunia sepak bola modern yang dingin, keputusan ini terasa manusiawi.

Statistik yang Bicara, Tapi Tidak Membela

Sterling datang ke Chelsea pada dua ribu dua puluh tiga dengan reputasi besar dan label mantan Pemain Terbaik FWA.

Namun realitasnya pahit. Dalam delapan puluh satu penampilan bersama The Blues, ia hanya mencetak sembilan belas gol.

Berikut perbandingan statistik Sterling musim dua ribu dua puluh empat hingga dua ribu dua puluh lima dengan pemain sayap Premier League yang setara.

Perbandingan Statistik Winger Premier League

Pemain    Klub    Main    Gol    Assist    Expected Goals    Dribel Sukses

  • Raheem Sterling    Chelsea    32    5    4    6,1    1,7 per laga
  • Anthony Gordon    Newcastle    34    9    7    8,4    2,4 per laga
  • Jarrod Bowen    West Ham    33    11    6    10,2    2,1 per laga

Sumber: Opta, Squawka, Transfermarkt

Angka-angka ini tidak sepenuhnya buruk, tetapi jelas tidak elite. Sterling bukan lagi predator gacor seperti di bawah Pep Guardiola.

Daya ledaknya menurun, keberanian duel satu lawan satu berkurang, dan kontribusinya dalam high pressing jauh dari standar Chelsea versi terbaru.

Chelsea, Kekacauan yang Menelan Korban

Masalah Sterling tidak berdiri sendiri. Chelsea adalah klub yang sedang mencari jati diri.

Kepergian Enzo Maresca pada Hari Tahun Baru membuka kembali luka lama di Cobham. Meski membawa trofi Piala Dunia Antarklub dan Liga Konferensi UEFA, hubungannya dengan dewan direksi retak.

Sumber internal klub menyebutkan, ketegangan memuncak setelah Maresca menolak kewajiban wawancara pasca laga imbang melawan Bournemouth.

Sebuah detail kecil yang mencerminkan masalah besar, komunikasi yang mati.

Dalam situasi seperti ini, pemain seperti Sterling menjadi korban. Ia bukan bagian dari proyek jangka panjang, bukan pula talenta muda yang bisa dipoles untuk dijual mahal.

Nilai pasarnya kini berada di kisaran dua puluh juta poundsterling, sekitar Rp400 Miliar, turun drastis dari puncaknya.

Fulham dan Janji Kebangkitan

Fulham bukan klub glamor, tapi mereka fungsional. Sistem permainan mereka memungkinkan Sterling bermain lebih bebas tanpa tekanan berlebihan.

Jika Adama Traore benar-benar hengkang, ruang di sayap kanan akan terbuka lebar.

Fulham tidak menuntut Sterling menjadi penyelamat.

Mereka hanya membutuhkan pemain berpengalaman yang bisa menjaga tempo, membuka ruang, dan menjadi pelayan setia bagi striker.

Secara taktik, Sterling bisa kembali ke peran lamanya, menyerang half space, bukan sekadar berlari di sisi lapangan.

Di klub yang lebih tenang, insting alaminya mungkin bisa hidup kembali.

Baca juga: Chelsea Korbankan Proyek Masa Depan? Nama Hato Masuk Meja Barcelona demi Fermin Lopez

Masa Depan Chelsea Tanpa Sterling

Chelsea kini mengalihkan fokus ke masa depan. Kandidat pengganti Maresca seperti Liam Rosenior, Cesc Fabregas, hingga Oliver Glasner mencerminkan kebingungan identitas klub. Apakah mereka ingin proyek jangka panjang atau hasil instan.

Dalam semua skenario itu, Sterling tidak masuk.

Sistem tiga bek ala Glasner, misalnya, lebih mengandalkan wing back agresif dan penyerang muda yang mau berlari tanpa kompromi.

Catatan Redaksi: Sterling, Fulham, dan Pilihan Terakhir

Raheem Sterling berada di persimpangan jalan terakhir karier elitnya. Ini bukan lagi tentang trofi, melainkan tentang relevansi.

Fulham adalah pilihan realistis, bukan romantis. Jika ia gagal di sana, narasi tentang penurunan permanen akan sulit dibantah.

Namun sepak bola selalu memberi ruang bagi cerita kedua. Sterling masih memiliki pengalaman, kecerdasan posisi, dan mental juara.

Yang ia butuhkan hanyalah pelatih yang percaya dan lingkungan yang tidak beracun.

Chelsea mungkin akan terus berputar dalam lingkaran ambisi dan konflik internal.

Sterling memilih keluar dari pusaran itu. Sebuah keputusan yang terlambat, tapi masih masuk akal.

The Times
Getty Images
Opta
Squawka
Transfermarkt

(Banjarmasinpost.co.id)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.