58 Tahun Mengabdi di Pulau Sabu, Kisah Kesederhanaan dan Ketulusan Pater Franz Lackner SVD
January 02, 2026 06:47 PM

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE – Sebuah kisah pengabdian panjang dan penuh ketulusan datang dari Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kisah itu dibagikan oleh Imam Katolik Pater Avent Saur, SVD, saat berkunjung ke pulau tersebut beberapa waktu lalu.

Dalam kunjungannya, Pater Avent menyempatkan diri bertemu dengan sesepuh misionaris Serikat Sabda Allah (SVD), Pater Franz Lackner, SVD. Pertemuan penuh kehangatan itu kemudian dituliskan dan dibagikan di media sosial, salah satunya melalui akun Facebook Katolik TV, dan dilansir Tribunflores.com pada 2 Januari 2026.

Dalam tulisannya, Pater Avent mengisahkan bahwa sebelum meninggalkan Pulau Sabu menuju Ende, Pulau Flores, ia berkunjung ke rumah sederhana Pater Franz yang berada di samping Gereja Paroki Santo Paulus Seba, Pulau Sabu, wilayah Keuskupan Agung Kupang.

Pertemuan tersebut berlangsung sekitar dua jam. Rumah Pater Franz jauh dari kesan mewah. Dindingnya terbuat dari pelupuh bambu dan dahan lontar, lantainya tampak aus di beberapa bagian, dengan atap seng rendah serta kuda-kuda dari kayu lontar. Suasana di dalam rumah terasa gerah, hanya ditemani sebuah kipas angin kecil yang sekadar membantu mengusir panas.

 

Baca juga: Doa untuk Para Imam Katolik, Doa Harian Umat Katolik

 

 

Di rumah sederhana itulah Pater Franz Lackner, SVD, misionaris asal Austria, menjalani hari-harinya selama puluhan tahun pengabdiannya.

Pater Franz tercatat sebagai misionaris pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Sabu pada tahun 1967. Hingga kini, selama 58 tahun, ia tetap setia melayani umat dan tidak pernah meninggalkan pulau tersebut.

Selain pelayanan sakramental, Pater Franz dikenal luas atas karya-karya sosialnya yang sebagian besar ia jalani seorang diri. Ia membangun rumah bagi warga miskin, menggali dan membangun sumur, menyekolahkan anak-anak Sabu mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi, mengantar orang sakit ke fasilitas kesehatan, merawat mereka, serta menyalurkan berbagai bantuan sosial.

Tak hanya itu, Pater Franz juga membangun kapela-kapela stasi di wilayah Paroki Santo Paulus Seba yang meliputi Pulau Sabu dan Pulau Raijua. Ia pun mendirikan asrama-asrama bagi anak-anak Sabu yang melanjutkan pendidikan, baik di Sabu maupun di Kupang.

Selama hampir enam dekade pengabdiannya, ribuan anak telah ia sekolahkan, ribuan orang sakit telah ia rawat, serta ribuan keluarga miskin telah ia bantu melalui pembangunan rumah dan sumur.

Dalam perbincangan dengan Pater Avent, Pater Franz mengungkapkan keyakinannya bahwa Tuhan Yesus telah menetapkan dirinya untuk melayani umat di Pulau Sabu dan Raijua hingga akhir hayatnya.

Kesaksian umat pun memperkuat gambaran ketulusan pelayanannya.“Kalau ada anak asrama tidak masuk sekolah, Pater selalu bertanya alasannya. Kalau sakit, Pater sendiri yang mengantar ke puskesmas. Kalau malas, Pater yang mengantar ke sekolah naik sepeda motor,” tutur salah seorang umat.

Ketulusan, kesederhanaan dan totalitas pengabdian Pater Franz Lackner, SVD, menjadikannya sosok misionaris yang inspiratif. Ia menjadi teladan nyata tentang makna pelayanan sejati bagi sesama.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.