Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan pihaknya menargetkan penyerapan sebanyak empat juta ton setara beras dan satu juta ton jagung petani sepanjang 2026 sebagai bagian dari rencana strategis penguatan ketahanan pangan nasional.
Rizal mengatakan target penyerapan beras empat juta ton ditetapkan berdasarkan hasil rapat koordinasi terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Pangan sebagai langkah menjaga stok nasional sekaligus memastikan hasil panen petani terserap optimal.
"Ya ini rencana strategis Bulog ke depan, rencana strategis 2026, yang pertama adalah ke depan Bulog akan melaksanakan serapan sesuai dengan keputusan Rakortas adalah empat juta ton," kata Rizal Rizal dalam jumpa pers bertajuk Capaian Krusial Bulog 2025 dan Langkah Strategis 2026, di Jakarta, Jumat.
Selain beras, Bulog juga merencanakan penyerapan jagung sebanyak satu juta ton pada 2026 guna memperkuat cadangan pangan dan mendukung stabilitas harga pakan ternak di dalam negeri.
Untuk menopang peningkatan serapan, Bulog juga menyiapkan pembangunan 100 infrastruktur pascapanen berupa gudang baru, rice milling unit (RMU), serta fasilitas pendukung lain di berbagai sentra produksi padi.
Pada 2026 Bulog juga mendapat penugasan menyerap minyak goreng rakyat sekitar 35 persen dari domestic market obligation (DMO) nasional guna menjaga pasokan dan kestabilan harga Minyakita.
Di sisi penyaluran, Bulog menargetkan distribusi bantuan pangan beras sekitar 720 ribu ton selama empat bulan kepada 18 juta penerima manfaat sesuai kebijakan pemerintah.
Penyaluran bantuan pangan tersebut difokuskan untuk menjaga daya beli masyarakat rentan serta mengendalikan tekanan harga pangan pada periode tertentu sepanjang tahun berjalan.
Kemudian program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras juga ditargetkan mencapai 1,5 juta ton pada 2026 dan direncanakan berlangsung sepanjang tahun tanpa jeda.
Meski berjalan sepanjang tahun, penyaluran SPHP akan disesuaikan pada puncak panen Maret, April, dan Agustus dengan pengurangan volume di daerah sentra produksi.
Pengaturan tersebut bertujuan mencegah kelebihan pasokan di pasar lokal sentra produksi, sementara penyaluran SPHP di wilayah non-sentra tetap berjalan normal.
Selain itu, Bulog juga menyiapkan cadangan beras bantuan keadaan darurat sebesar 25 ribu ton untuk merespons cepat kebutuhan pangan akibat bencana atau kondisi darurat.
Adapun kinerja Bulog hingga 31 Desember 2025, mencatat pengadaan gabah setara beras sebesar mencapai 3.191.969 ton, yang berasal dari penyerapan 4.537.490 ton Gabah Kering Panen (GKP), 6.863 ton Gabah Kering Giling (GKG), serta 765.504 ton beras.
Capaian itu menjadi fondasi strategis dalam memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sekaligus menjaga kesinambungan produksi dan pendapatan petani.
Selain beras, BUMN pangan itu juga mencatat pengadaan jagung dalam negeri sebesar 101.968 ton, terdiri atas 101.770 ton melalui skema PSO dan 198 ton komersial. Langkah ini menjaga stabilitas harga di tingkat produsen serta memastikan keberlanjutan pasokan jagung nasional.
Di sisi distribusi, Bulog telah menyalurkan bantuan pangan hampir 785 ribu ton sebagai perlindungan sosial bagi masyarakat rentan.
Sementara itu, penyaluran SPHP Beras menyentuh angka 802.939 ton dan SPHP Jagung sebesar 51.211 ton menjadi instrumen penting dalam menahan gejolak harga dan menjaga stabilitas pasokan di tingkat konsumen.
Dari sisi kesiapan cadangan, hingga akhir 2025 stok PSO Bulog tercatat sebesar 3,25 juta ton, melanjutkan tren positif setelah pencapaian stok tertinggi sepanjang sejarah sekitar 4,2 juta ton pada pertengahan 2025.
Dalam situasi darurat, Bulog juga menyalurkan bantuan bencana sebesar 14.227 ton di wilayah Sumatera, dengan distribusi mencakup Aceh sebesar 8.676 ton, Sumatera Utara 4.482 ton, dan Sumatera Barat 1.069 ton.







