Yerusalem (ANTARA) - Ilmuwan dari Israel menemukan sejumlah bakteri dapat bertahan dari antibiotik dalam berbagai cara, yang menjelaskan mengapa terkadang infeksi kembali menjangkiti pasien setelah perawatan.
Menurut peneliti dari Universitas Ibrani Yerusalem, memahami strategi bertahan hidup bakter dapat membuka jalan bagi pengobatan yang lebih efektif.
Antibiotik dirancang untuk membunuh bakteri berbahaya, tapi, dalam banyak kasus, sejumlah kecil bakteri mampu bertahan hidup dan kembali menyebabkan penyakit pada kemudian hari.
Masalah itu memengaruhi berbagai kondisi yang umum terjadi, termasuk infeksi saluran kemih dan infeksi yang berkaitan dengan implan medis.
Selama bertahun-tahun, para ilmuwan meyakini bakteri yang bertahan hidup hanya "tertidur" sehingga antibiotik yang menargetkan bakteri yang sedang tumbuh menjadi kurang efektif.
Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Science Advances tersebut menunjukkan bahwa hal ini hanyalah sebagian dari gambaran keseluruhan, dengan temuan dua strategi bertahan hidup yang berbeda.
Dalam strategi pertama, bakteri secara sengaja memperlambat aktivitasnya dan memasuki kondisi istirahat yang terlindungi.
Dalam strategi kedua, bakteri bertahan hidup dalam kondisi rusak dan tidak teratur. Sel-sel itu tidak berada dalam keadaan tenang atau terlindungi, dan sebaliknya, sistem normal mereka mengalami kerusakan, terutama membran luar yang menjaga integritas sel.
Penemuan itu membantu menjelaskan mengapa penelitian-penelitian sebelumnya sering memberikan hasil yang bertentangan karena para ilmuwan tanpa disadari mengamati jenis bakteri berbeda yang bertahan hidup.
Para peneliti mengungkapkan dokter dapat menggunakan satu pendekatan untuk menargetkan bakteri yang sedang "tertidur" dan pendekatan berbeda untuk menyerang bakteri yang rusak.
Dengan menyesuaikan pengobatan secara khusus seperti ini, pengobatan masa mendatang dapat lebih efektif dalam membersihkan infeksi dan mengurangi risiko kambuh di seluruh dunia, demikian kesimpulan mereka.







