TRIBUNTRENDS.COM - Di tengah maraknya fenomena utang konsumtif, pinjaman online, hingga gaya hidup berbasis cicilan, fakta tentang kondisi keuangan pejabat publik kembali menjadi perhatian.
Kali ini, sorotan tertuju pada Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, yang tercatat tidak memiliki utang sama sekali.
Data tersebut terungkap dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang disampaikan pada 11 Maret 2025, saat Purbaya masih menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Baca juga: Pengakuan Jujur Menkeu Purbaya, Tak Bisa Tidur saat Malam Tahun Baru, Pusing Pantau Arus Uang Negara
Tanpa beban utang, Purbaya tercatat memiliki kekayaan bersih sebesar Rp39,21 miliar.
Jumlah tersebut berasal dari berbagai aset yang dimilikinya, dengan porsi terbesar berasal dari sektor properti.
Aset paling dominan dalam laporan tersebut adalah tanah dan bangunan dengan nilai mencapai Rp30,5 miliar.
Seluruh properti itu tercatat berlokasi di Jakarta Selatan, kawasan yang dikenal sebagai salah satu wilayah dengan nilai properti tinggi.
Selain aset properti, Purbaya juga memiliki alat transportasi dan mesin dengan nilai total Rp3,60 miliar.
Tak hanya itu, ia juga melaporkan kepemilikan harta bergerak lainnya senilai Rp684 juta, surat berharga sebesar Rp220 juta, serta kas dan setara kas yang mencapai Rp4,2 miliar.
Rincian ini semakin menegaskan posisi keuangan Purbaya yang tergolong kuat dan stabil tanpa ketergantungan pada utang.
Menariknya, rekam jejak keuangan Purbaya sejalan dengan pesan-pesan yang kerap ia sampaikan kepada publik.
Dalam sebuah video yang sempat viral, Purbaya mengingatkan generasi muda agar lebih bijak dalam mengelola keuangan, khususnya terkait penggunaan paylater dan utang konsumtif.
Ia menekankan pentingnya belanja sesuai kemampuan, menghindari FOMO (fear of missing out) dalam berinvestasi, serta mulai menabung dan berinvestasi dengan benar sejak dini agar tidak mudah tergiur pinjaman online ilegal.
Menurut Purbaya, fasilitas paylater sebaiknya digunakan hanya untuk kebutuhan mendesak, bukan untuk menopang gaya hidup berlebihan.
Literasi keuangan, kata dia, menjadi kunci utama agar masyarakat tidak terjebak masalah utang di kemudian hari.
Baca juga: Purbaya Tak Ingin Prajurit TNI Kelaparan saat Berjibaku Pulihkan Sumatera, Siapkan Dana Lebih
Tak hanya dari Purbaya, pesan soal bahaya utang juga datang dari lingkaran keluarganya.
Yudo Sadewa, anak kedua Purbaya Yudhi Sadewa, secara terbuka mengingatkan masyarakat untuk menjauhi riba, terutama yang berkaitan dengan pinjaman online.
Yudo menilai riba bukan hanya merugikan secara finansial, tetapi juga berdampak pada ketenangan hidup seseorang.
"Resolusi 2026: Jauhi riba
Riba akan membuatmu jatuh miskin. Kalian kalau tidak punya uang lebih baik berinvestasi untuk membeli barang yang kalian inginkan.
Karena riba akan mencekik keuangan kalian tanpa disadari.
Dengan mengeliminasi riba dalam kehidupan,
Kita bisa lebih bebas secara finansial serta kita tidur lebih tenang tanpa harus memikirkan masalah ekonomi," tulis Yudo.
Lebih lanjut, Yudo menjelaskan bahwa semua agama pada dasarnya menganjurkan umatnya untuk menjauhi riba.
Ia juga menyertakan Surat Al-Baqarah ayat 275 sebagai pengingat tentang larangan riba dalam ajaran Islam.
"Semua agama tidak ingin umatnya terjebak ke dalam persamalahan riba," tulis Yudo.
Pesan tersebut menegaskan bahwa persoalan utang dan riba bukan sekadar isu ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek moral dan spiritual.
Kondisi keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang bebas utang, ditopang aset bernilai puluhan miliar rupiah, sekaligus pesan-pesan yang konsisten tentang literasi keuangan, menjadikannya sorotan di tengah fenomena utang konsumtif yang kian mengkhawatirkan.
Di tengah gempuran paylater, pinjol, dan gaya hidup instan, kisah ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan keuangan yang bijak, disiplin dan berorientasi jangka panjang tetap relevan baik bagi pejabat negara maupun masyarakat luas.
***