TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Tahun 2026 ini diawali pertemuan tokoh dan pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam (ormas) di Makassar. Mereka membahas strategi dan upaya menjadikan masjid sebagai wadah pemersatu umat.
Acara digelar secara hybrid. Belasan narasumber utama hadir di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo, Jalan Sultan Alauddin, Makassar, Minggu, 4 Januari 2026. Seratusan aktivis ormas Islam, akademisi, serta pemerhati pengembangan fungsi masjid hadir secara daring.
Hadir sebagai narasumber utama, antara lain, Kepala Kanwil Kementerian Agama Sulsel Dr H Ali Yafid, Sekretaris Umum MUI Sulsel Prof Dr KH Muammar Bakri, Ketua PWNU Sulsel Prof Dr KH Hamzah Harun Al-Rasyid MA, Wakil Ketua PW Muhammadiyah Sulsel Dr Dahlan Lamawaba, serta Ketua DPW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sulsel Mayjen TNI (Purn) Andi Mappanyukki.
Selain itu, Ketua ICMI Orwil Sulsel Prof Dr H Arismunandar, Ketua DPP IMMIM Dr KH Ishaq Shamad, Ketua Umum Pengurus Wilayah Darud Dakwah Wal Irsyad Sulsel ( PW DDI Sulsel ) Prof Dr Kh Andi Aderus Lc MA, perwakilan DPW Wahdah Islamiyah Muhammad Imran Yunus, serta pemerhati masjid AM Iqbal Parewangi, penasihat DPP IMMIM Prof Dr Ahmad M Sewang, dan Sekjen DPP IMMIM Prof Dr Muh Shuhufi Abdullah.
Diskusi yang dipandu oleh Prof Dr Arifuddin Ahmad, menyimpulkan bahwa relitas kesefahaman tokoh dan elite ormas perlu dilakukan secara kontinu dan bergilir, antara sesama ormas.
Diskusi ditutup dengan kesepakatan bahwa akan ada program tindak lanjut yakni “MoU” dan difasilitasi oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan agar menjadi rujukan bagi umat.
Para pimpinan ormas Islam sepakat menjadikan Masjid sebagai wadah pemersatu umat di tengah perbedaan.
Kemenag Sulsel Ingatkan Pentingnya Pendampingan Masjid
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Ali Yafid, menegaskan pentingnya penguatan peran masjid sebagai pusat persatuan, dakwah, dan peradaban umat.
Ali Yafid menekankan pentingnya sinergi antara Kementerian Agama dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) dalam pembinaan masjid. Ia mengaku telah menginstruksikan jajaran Kemenag hingga tingkat KUA dan penyuluh agama untuk terlibat langsung dalam pendampingan masjid.
“Masjid harus dibina secara nyata. Penyuluh agama harus hadir, memegang masjid, agar fungsi masjid berjalan dan program kemasjidan benar-benar hidup,” ujarnya
Ali Yafid juga menafsirkan makna memperindah masjid sebagaimana dalam QS. Al-A’raf ayat 31 tidak hanya sebatas pakaian jamaah, tetapi juga mencakup kebersihan, keterbukaan, serta tata kelola masjid yang baik.
“Masjid jangan kotor dan jangan selalu digembok. Masjid harus nyaman, bersih, dan terbuka untuk umat,” kata Ali Yafid.
Menurut dia, evaluasi tahun 2025 dan arah gerak 2026 perlu difokuskan pada upaya mengembalikan fungsi masjid sebagaimana pada masa Rasulullah SAW, yakni sebagai pusat ibadah, pendidikan, sosial, hingga pelayanan umat.
Ali Yafid juga menyoroti pentingnya implementasi program prioritas Kementerian Agama di lingkungan masjid, antara lain penguatan kerukunan umat beragama, kebersihan dan eco-theology, pemberdayaan ekonomi berbasis masjid, serta digitalisasi manajemen masjid.
“Masjid harus mampu menghidupi dirinya sendiri, memiliki manajemen modern, serta menjadi basis moderasi dan pemberdayaan umat,” ungkapya.
Terkait dukungan pemerintah, Ali Yafid menegaskan komitmen Kemenag Sulsel dalam memfasilitasi bantuan dan hibah bagi masjid serta ormas Islam, sepanjang memenuhi ketentuan regulasi yang berlaku.
“Regulasi harus di atas segalanya. Bantuan diberikan secara profesional, bukan karena kedekatan,” tegasnya.
Dialog ini diharapkan menjadi pijakan bersama dalam memperkuat arah gerak persatuan umat tahun 2026 dengan menjadikan masjid sebagai “jantung umat” yang aktif, produktif, dan berdaya.
“Masjid itu harus bisa menghidupi dirinya. Mari kita perbaiki masjid sebelum kita masuk ke dalamnya,” kata Ali Yafid menutup sambutannya.
Hidayatullah Serukan Pentingnya Menjadikan Masjid Pusat Pembinaan Umat
Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Usatdz Dr Muhammad Saleh Usman SS M I Kom menegaskan pentingnya menjadikan masjid sebagai ruang pemersatu umat Islam di tengah perbedaan yang ada.
Ustadz Dr Muhammad Saleh Usman menyatakan, diskursus tentang masjid tidak cukup berhenti pada aspek manajemen teknis, melainkan perlu diletakkan pada kerangka nilai-nilai dasar Islam.
Dia membedakan antara prinsip-prinsip tsawabit (nilai yang tetap dan tidak berubah) dan mutaghayyirat (hal-hal yang dapat berubah mengikuti kondisi dan zaman).
“Dalam pengelolaan masjid, ada nilai-nilai yang tidak boleh berubah, tetapi ada pula aspek yang harus adaptif terhadap realitas sosial. Ketika keduanya tidak dipahami secara proporsional, masjid berpotensi kehilangan fungsi strategisnya sebagai pemersatu umat,” jelas Muhammad Saleh Usman.
Ustadz Muhammad Saleh Usman mengutip sebuah riwayat tentang doa Nabi Muhammad SAW yang memohon tiga hal kepada Allah SWT, di mana dua dikabulkan dan satu tidak, yakni permohonan agar umat Islam dipersatukan.
Menurutnya, hal itu menjadi isyarat bahwa ittihadul ummah merupakan agenda besar yang menuntut kesungguhan dan kesadaran kolektif.
“Sejarah juga mencatat, keberhasilan Rasulullah SAW dalam Fathu Makkah terjadi setelah beliau berhasil mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Ruang utama yang mempersatukan mereka adalah masjid,” katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Hidayatullah memandang masjid sebagai basis utama pendidikan dan dakwah. Di Sulawesi Selatan, Hidayatullah hadir dan beraktivitas di 24 kabupaten/kota dengan menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat.
Ustaddz Muhammad Saleh Usman juga mengajak seluruh elemen umat Islam untuk melakukan refleksi mendalam terkait akar persoalan sulitnya persatuan. Menurutnya, secara ritual umat Islam telah menunjukkan kesalehan yang kuat, namun dalam praktik sosial masih kerap terjebak dalam sekat-sekat identitas kelompok.
“Kita semua sepakat dengan ayat innamal mu’minuna ikhwah, tetapi mengapa masih mudah merasa lebih baik dari yang lain, baik secara personal, kelompok, bahkan institusi masjid,” ujarnya.
Ia mengaitkan persoalan tersebut dengan pentingnya kembali pada fondasi awal wahyu Al-Qur’an, khususnya Surah Al-‘Alaq ayat 1–5. Ia mengingatkan bahwa manusia diciptakan dari asal yang sama, dan hanya Allah SWT yang Maha Mulia, sehingga tidak ada ruang bagi sikap merasa superior.
“Ketika kesadaran ini lepas, yang muncul adalah narasi ‘saya lebih baik dari Anda’, ‘kelompok saya lebih unggul dari kelompok Anda’. Padahal kita semua berasal dari ‘alaq’ yang sama,” tegasnya.
Prinsip inilah, menurutnya, yang menjadi basis jati diri Hidayatullah sebagai jama‘atun minal muslimin, yakni bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh elemen umat Islam.
Muhammad Saleh Usman menegaskan, Hidayatullah memandang dirinya sebagai bagian dari NU, Muhammadiyah, DDI, Wahdah Islamiyah, dan elemen umat Islam lainnya.
“Islam ini harus dibawa bersama-sama, dengan kolaborasi dan sinergi. Jika itu dilakukan, maka akan tampak tanda-tanda awal kebangkitan Islam, khususnya di Sulawesi Selatan ini,” katanya.
Menurutnya, penguatan fungsi masjid sebagai titik temu lintas ormas dan komunitas merupakan prasyarat penting bagi kebangkitan umat Islam di Sulawesi Selatan. Dialog tersebut diharapkan menjadi langkah konkret mempererat silaturahmi dan kerja bersama antarormas dalam memakmurkan masjid sekaligus memperkuat persatuan umat.
Perlu Sistem Manajerial yang Kuat
Seiring dengan itu penasehat DPP IMMIM Prof Ahmad M Sewang, mengaskan bahwa Perbedan peran masjid di era nabi, jika dibandingkan dengan era kekinian, bahwa semua dilakukan di masjid, tangkap penjahat sekalipun di masjid, sementara di era sekarang semakin dipersempit makna dan fungsinya, hanya ibadah mahda.
“Maka sejatilah begitulah mestinya elite-elite umat Islam pengelola masjid, senantiasa kuat dan tidak terpecah-belah, agar potensi masjid yang mayoritas menjadi rebutan minoritas,” kata Iqbal Parewangi.
Menurut Iqbal Parewangi, kesamaan faham pada tingkat elite umat, mestinya itu juga yang terjadi di akar rumput, sehingga sangat dibutuhkan sistim menejerial yang kuat.
“Kedepan semakin penting dilakukan program kemitraan masjid, yakni masjid yang sudah makmur dan maju pengelolaanya dapat membina masjid tetangganya yang belum maju menejmennya,” kata Sekjen DPP IMMIM, Prof Muh Shuhufi Abdullah.(*)