PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pangkalpinang mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) di Pangkalpinang pada Desember 2025 sebesar 2,58 persen, atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 104,83 menjadi 107,53.
Angka ini lebih rendah dibandingkan inflasi secara yoy pada bulan sebelumnya yang sebesar 2,67 persen.
Dewi menyebutkan, inflasi tahunan tersebut terutama dipicu oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi cukup tinggi, yakni 7,16 persen.
Sejumlah komoditas utama yang dominan memberikan sumbangan inflasi tahunan, antara lain, daging ayam ras, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bayam, kangkung, beras, ikan tenggiri, ikan selar, ikan singkur, cumi-cumi, emas perhiasan, angkutan udara, dan sewa rumah.
Selain itu, komoditas hasil olahan seperti mi instan, rokok sigaret kretek tangan (SKT) dan sigaret putih mesin (SPM), serta makanan jadi seperti sate, turut memberi tekanan inflasi.
Selain kelompok pangan, kenaikan harga pun terjadi pada sejumlah kelompok pengeluaran lainnya, antara lain, pakaian dan alas kaki sebesar 0,25 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,52 persen, perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,91 persen.
Selanjutnya, kelompok kesehatan sebesar 1,52 persen, transportasi 1,92 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya 1,20 persen, penyediaan makanan dan minuman atau restoran 1,22 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya 3,68 persen.
Sementara itu, terdapat dua kelompok pengeluaran yang justru mengalami deflasi tahunan.
Kedua kelompok tersebut adalah informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,21 persen dan kelompok pendidikan yang mengalami deflasi cukup dalam sebesar 9,90 persen.
Lebih lanjut, Dewi menyebutkan, kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan pada Desember 2025 berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 2,25 persen, kelompok transportasi 0,26 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,21 persen, serta kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,10 persen.
“Adapun kelompok yang memberikan andil deflasi, yakni kelompok pendidikan sebesar 0,43 persen serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,01 persen,” ujar Dewi.
Sementara itu, komoditas yang memberikan andil deflasi tahunan di antaranya biaya sekolah menengah atas, telepon seluler, air kemasan, bawang putih, tomat, daging sapi, udang basah, hingga produk rumah tangga seperti sabun cair, pembersih lantai, dan kipas angin.
Badan Pusat Statistik mencatat, tingkat inflasi yoy dan ytd di Pangkalpinang pada Desember 2025 sebesar 2,58 persen tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi Desember 2024 yang hanya 0,76 persen serta inflasi Desember 2023 yang tercatat 2,01 persen.
"Kondisi tersebut menunjukkan adanya peningkatan tekanan harga, khususnya pada komoditas kebutuhan pokok dan transportasi, yang perlu terus menjadi perhatian pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat," tutur Dewi. (t2)